Kembalilah Kolonialis Penjajah!

16 Juni 2024, 16:54 WIB

Nusantarapedia.net | OPINI, POLHUKAM — Kembalilah Kolonialis Penjajah!

Oleh : Alvian Fachrurrozi

“Oh, jika memang demikian yang terjadi. Rasa-rasanya memang patut jika saya mengharapkan penjajahan kolonialisme kembali lagi di negeri Indonesia ini. Saya sangat merindui momen-momen para pemuda mengalami kegelisahan-kegelisahan seperti yang dialami Sukarno muda, Semaoen muda, Musso muda, atau bahkan Kartosuwiryo muda. Yang mana mereka tidak menghabiskan masa muda, masa-masa produktifnya hanya dengan berleha-leha berpacaran atau main game saja. Melainkan juga sibuk berfikir, membaca, berdiskusi, dan menuliskan rumusan-rumusan pemikirannya dalam majalah-majalah perlawanan.”

– Mereka umumnya tidak mempunyai pikiran yang lebih besar daripada sekadar tentang pacar. Tidak mempunyai cita-cita yang raksasa selain melulu tentang bagaimana cara memperkaya diri. Selera kegemarannya pun juga hanya hal-hal rendahan semacam game-game online, drag-drag-an motor, atau nonton asupan-asupan kebodohan dari youtuber norak pengemis like and subscribe. Mereka yang pemudi pun kegemarannya juga hanya sekadar sibuk jogat-joget tolol ala Tik tok, menonton film-film cengeng dari negeri yang para lelakinya suka memakai lipstik, dan menikmati sekali dalam kegiatan gosip-gosip yang bodoh –

ADA yang mengatakan: zaman yang sulit akan melahirkan generasi yang hebat, lantas generasi yang hebat itu akan melahirkan zaman yang mudah. Kemudian zaman yang mudah itu akan melahirkan generasi yang lembek, dan dari generasi yang lembek inilah akan melahirkan zaman yang sulit kembali.

Yah, memang sebuah lingkaran setan yang tiada akhir dan jika dipikir-pikir memang sebuah kebenaran faktual yang tiada terbantah. Oleh karena itu pernah ada masanya saya begitu sinis terhadap zaman ini, lebih-lebih terhadap generasi muda yang hidup di zaman ini. Tetapi terlepas dari kesinisan saya yang sarkastik dan mungkin teramat berlebihan, saya memanglah anak muda yang terbakar oleh api kegelisahan dalam menatap bangsa ini.

Sebagai pemuda, dalam pemikiran saya yang paling absurd, saya pernah sangat berharap jika bangsa saya Indonesia ini dijajah kembali secara fisik oleh bangsa lain. Dan saya berharap bangsa yang menjajah itu jauh lebih ganas, lebih cerdas, dan lebih berperadaban daripada kaum londo tengik ataupun kaum mesum jepun yang dulu bisa berhasil mencabik-cabik harga diri dan kekayaan alam bangsa kita ini.

Kenapa saya bisa mengharapkan penjajahan kembali lagi? Apakah saya tidak lagi mencintai negeri ini dan menjadi antek asing? Oh tentu saja saya masih mencintai sepenuh hati negeri Indonesia ini. Jika saya tidak lagi mencintai Indonesia tentu saja saya tidak akan sudi peduli. Apalagi repot-repot menuliskan tentang kegelisahan saya ini. Dan atas bisikkan setan yang manakah sehingga saya sangat berharap penjajahan kembali lagi di tanah air ini?

O, tentu saja bukan karena bisikan setan. Tetapi malahan karena bisikkan hati nurani saya sendiri. Jujur saja, sebagai pemuda saya benar-benar muak melihat tindak tanduk para pemuda segenerasi saya. Memang tidak semuanya begitu, tetapi toh kebanyakan memang demikian.

Mereka umumnya tidak mempunyai pikiran yang lebih besar daripada sekadar tentang pacar. Tidak mempunyai cita-cita yang raksasa selain melulu tentang bagaimana cara memperkaya diri. Selera kegemarannya pun juga hanya hal-hal rendahan semacam game-game online, drag-drag-an motor, atau nonton asupan-asupan kebodohan dari youtuber norak pengemis like and subscribe. Mereka yang pemudi pun kegemarannya juga hanya sekadar sibuk jogat-joget tolol ala Tik tok, menonton film-film cengeng dari negeri yang para lelakinya suka memakai lipstik, dan menikmati sekali dalam kegiatan gosip-gosip yang bodoh.

Terkait

Terkini