Ketaatan Hukum Sebagai Sifat Alami Manusia

4 Maret 2024, 16:15 WIB

Nusantarapedia.net | OPINI — Ketaatan Hukum Sebagai Sifat Alami Manusia

Oleh : Dr. Tomy Michael

SERINGKALI mendapat pertanyaan, apakah orang hukum selalu taat hukum? Tentu pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang menjebak, karena dalam ilmu hukum itu sendiri tidak sekadar patuh atau tidak patuh. Jika hanya berfokus pada patuh atau tidak patuh maka ilmu hukum itu sudah berjalan jauh, karena ia bisa memperkirakan apa yang akan terjadi.

Ketika memandang masa depan maka disebut ius constituendum, memang ilmu hukum yang menghasilkan peraturan perundang-undangan tidak akan bisa memperkirakan secara detail namun secara umum. Sebagai contoh misalnya, beberapa tahun lagi akan tercipta pengklasifikasian mengenai sayur yang boleh atau tidak dimakan oleh manusia, maka hasil terawang itu harus dinormakan. Bisa saja di tahun 2029, manusia hanya diperbolehkan memakan sayuran berwarna hijau dan berdaun kecil, sementara yang berwarna kuning berdaun lebar diperuntukkan untuk hewan. Jikalau demikian, ilmu hukum akan menjadi istimewa karena sesuai namanya yang sui generis. Sifat istimewa ini akan menggeneralisir apa yang menjadi paradigma masyarakat. Masyarakat yang elegan menjadi berubah sifat lebih peduli, dan masyarakat yang tidak taat hukum akan memiliki ketaatan versi dirinya.

Kembali lagi pada pertanyaan, apakah orang hukum selalu taat hukum? Tentu sikap ketaatan ini seperti ketaatan kepada Tuhan, karena hukum juga tidak lepas dari unsur agama hingga politik. Sebagai contoh irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebetulnya menunjukkan bahwa di balik independennya hakim, maka ia tetap bertanggung jawab pada Tuhan yang diyakini. Terdapat suatu pemahaman bagi para pihak di luar hakim, dan itu selalu menimbulkan kegembiraan serta kesedihan. Pihak yang menang merasa bersyukur atas adilnya putusan tersebut dan mereka yang bersedih pasti akan terus menempuh jalur hukum lainnya misalnya kasasi.

Sebetulnya orang hukum selalu taat hukum ketika ia meyakininya bahwa itu benar. Keyakinan akan benar dipengaruhi pengalaman manusia. Pengalaman yang diperoleh berdasarkan pengetahuan akan jauh di atas ilmu, hingga pada akhirnya terjadi kekaburan akan ilmu sebagai urutan kedua setelah filsafat. Ketika seseorang tidak menggunakan helm kemudian ditilang oleh polisi, maka ia akan menyampaikan kebenarannya. Tidak menggunakan helm karena jarak yang dekat dan keyakinan semuanya aman. Namun apakah lingkungan sekitarnya menjadi di bawah kendali kita, sehingga keyakinan itu seolah-olah dipaksakan bagi orang lain. Polisi pun juga demikian mengatakan bahwa keyakinan pengendara tadi salah. Polisi menggunakan norma hukum misalnya undang-undang lalu lintas dan angkutan jalan. Keduanya sama-sama taat hukum namun secara alamiah yang taat adalah polisi.

Terkait

Terkini