Ketua Satgas Nasional Forum Pemuda NTT Mengecam Tuntutan Pencopotan Kapolres Nagekeo

27 April 2023, 21:47 WIB

Nusantarapedia.net, Nagekeo, NTT — Memanasnya tuntutan sepihak pencopotan Kapolres Nagekeo AKBP Yudha Pranata, S.H., S.IK., oleh kelompok tertentu di Nagekeo mendapat kecaman keras dari Paskalis Towari selaku Ketua Satgas Nasional DPP Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur (DPP FP NTT) di Jakarta.

Menurutnya, akar persoalan yang berawal dari tindakan penghadangan mobil yang ditumpangi Kapolres Nagekeo yang sebenarnya telah selesai yang berakhir adanya perdamaian antara pihak Polres Nagekeo dengan keluarga pelaku penabrak pada tanggal 19 April 2023, pukul 19:00 WITA di kediaman keluarga pelaku.

“Karena pihak keluarga pun sangat memakhlumi pelaku anak mereka dalam kondisi mabuk saat itu,” ujar Paskalis kepada Nusantarapedia.net, Kamis (27/04/2023).

Putra asli Nagekeo ini juga merasa bahwa ada yang tidak beres pasca kejadian tersebut. Dimana beberapa hari berikutnya, kata dia, justru ada pihak-pihak yang disinyalir memanfaatkan kejadian tersebut dijadikan celah untuk mengkambinghitamkan Kapolres Nagekeo akibat adanya keseleo penulisan oknum wartawan yang membuat narasi berita penghadangan dengan mengkait-kaitkan suku tertentu.

“Ya, menurut saya oknum wartawan yang menulis berita penghadangan mobil kapolres Nagekeo jadi terkesan seolah-olah membangun opini publik untuk membenturkan pihak kepolisian dengan suku tertentu. Ini juga bisa mencederai prinsip dan kode etik jurnalis. Kok, melahirkan pemberitaan yang tidak fair. Saya malah curiga ini hanya keseleo penulisan biasa atau ada unsur kesengajaan. Kita harus sama-sama menggali ini dengan bijak dan fair,” tutur Paskalis.

Menurut Paskalis, kemajuan bangsa tidak terlepas peran media sebagai pengontrol kebijakan publik maupun hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, akan tetapi, apabila salah-salah membuat diksi, tentu bisa menimbulkan persoalan dan hiruk-pikuk di masyarakat.

Paskalis juga menanggapi pernyataan tuntutan dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) yang meminta Kapolri mencopot AKBP Yudha Pranata. Menurutnya, tuntutan tersebut adalah dasar dari sumber informasi yang diambil di sosial media, yang mana ia menilai hal itu terlalu prematur, karena bukan berdasarkan investigasi secara langsung, baik di institusi Polres Nagekeo maupun di keluarga pelaku penghadang mobil kapolres sebagai awal mula persoalan.

“Ini yang terjadi di Nagekeo saat ini. Timbul kesan pembaca seolah mau membenturkan para awak jurnalis di Nagekeo dengan Kapolres Nagekeo dengan menggunakan potongan video yang beredar. Saya membaca berita yang dilansir terkait pernyataan tuntutan dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) meminta Kapolri mencopot AKBP Yudha Pranata, menurut saya hanya bersumber dari informasi yang diambil di sosial media yang menurut saya terlalu premature, karena bukan berdasarkan investigasi secara langsung, baik di institusi Polres Nagekeo maupun di keluarga pelaku penghadang mobil kapolres sebagai awal mula persoalan. Lalu menyimpulkan sepihak hanya menonton potongan video yang tidak utuh beredar ramai di media sosial, lalu melebar ada narasi-narasi yang menggiring opini publik seolah ada nuansa ras di Nagekeo. Rusaknya bangsa akhir-akhir ini salah satunya karena minimnya literasi para pegiat media sosial, karena menyimpulkan sesuatu informasi yang tidak utuh, lalu menggunakan untuk menyerang orang lain. Ini bukan fenomena baru loh,” kata dia.

“Masa, sih, sejahat itu AKBP Yudha Pranata yang sebelumnya banyak mendapat kesan fenomenal, telah mendamaikan suku-suku terkait pembangunan waduk Lambo, yang menjadi benang kusut di beberapa tahun sebelumnya, dimana sulitnya mendapat titik temu, karena Pemda Nagekeo baik sebelumnya dan yang sekarang tidak mampu menyelesaikan dan mendamaikan keluarga besar saya di Lambo, Rendu, dan Ndora yang terimbas pembebasan lahan pembangunan waduk Lambo sebagai hadiah spesial dari presiden Jokowi untuk kabupaten Nagekeo. Saya pikir setelah waduk Lambo beroperasi nanti, generasi anak cucu Nagekeo di masa akan datang, tak akan lupa peran dan jasa dari seorang AKBP Yudha Pranata, karena telah tercatat menjadi bagian dari sejarah Waduk Lambo, meski nanti tidak lagi bertugas di Nagekeo,” tambah Paskalis dengan nada serius.

Terkait

Terkini