“Peradilan” Medsos di Bawah Kaki Gunung Ebulobo

"ebu kaju kita nebu, muzi ngusa papa modhe ne'e ka'e azi doa delu, wiwi ma'e bai isi, lema ma'e bai lebo, pata kita ngusa pawe ae"

30 April 2023, 14:30 WIB

Nusantarapedia.net, Artikel | Opini — “Peradilan” Medsos di Bawah Kaki Gunung Ebulobo

Oleh Marianus Gaharpung, dosen FH UBAYA Surabaya

HAMPIR dua minggu belakangan ini media sosial (medsos) “membombardir”  pemberitaan terhadap AKBP Yudha Pranata Kapolres Nagekeo – Nusa Tenggara Timur.

Terlihat jelas ada oknum dari kelompok yang terang-terangan merasa tidak puas bahkan sangat benci terhadap kinerja Kapolres asal Jawa Timur tersebut, mendesak Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., mencopot Kapolres Nagekeo. Ada juga sebagian besar warga Nagekeo tetap mempertahankan bahkan sangat mencintai AKBP Yudha Pranata sebagai orang nomor satu di Mako Polres Nagekeo, karena secara faktual prestasi kamtibmas di bumi Nagekeo sungguh dirasakan.

“Peradilan” Medsos
Media sosial dengan jejaring sosial facebook, instagram, linkedln, twitter, tiktok, dan telegram begitu mimetis dan dramatis mengubah mindset dan perilaku orang dalam menyampaikan ide atau gagasan (framing). Kekuatan medsos sudah mengubah cara pandang dan tutur kata pemakai. Sikap sopan santun saling menghargai, edukasi, tepaselira, kritik, kebencian, penghinaan, pencemaran nama baik pribadi, pejabat bahkan institusi sudah menjadi “sarapan” keseharian oknum medsos mania.

Medsos mania dengan seketika menjadikan dirinya “profesor” medsos. Semua menjadi pintar luar biasa, pengetahuan dan informasi apa saja baik positif maupun negatif menjadi makanan “gado-gado” di dunia maya habis disantap. Dan, celakanya, publik seakan terhipnotis hal-hal tersebut menjadi kebenaran mutlak.

Medsos sudah terang benderang melakukan penetrasi kepada manusia melampaui kemampuan manusia itu. Sehingga untuk menghilangkan atau mengurangi penetrasi itu sendiri adalah kembali kepada nurani manusia.

Persoalan kinerja Kapolres dan jajarannya di Polres Nagekeo menjadi trending topik. Semua arah pemikiran emosi, pujian dan  umpatan ditumpahkan ke Kapolres Yudha Pranata.

Warga Nagekeo perantauan sungguh terlihat rasa kecintaan berlebihan kepada bumi Nagekeo sehingga narasi yang diposting di media terasa yang paling  mengetahui “isi perut” Nagekeo melebihi warga yang setiap hari merasakan kebersamaan dengan Kapolres dan Polres Nagekeo, super sekali!

Pertanyaannya, apakah oknum-oknum yang membombardir kinerja Kapolres Yudha via medsos sudah investigasi merekam fakta riilnya datang ke tanah Nagekeo? Apakah benar Kapolres dengan group akun WhatsApp Kaisar Hitam Destroyer dan tindakan ‘penancapan pisau sangkur’ di depan mata warga suku Kawa dan warga lainnya atas pengurusan tanah waduk Mbay/Lambo adalah suatu tindakan melawan hukum atau sewenang-wenang?

Apakah medsos sudah berubah fungsi menjadi sebuah “peradilan” yang dengan  gampangnya menjustifikasi kebersalahan seorang AKBP Yudha Pranata? Apa benar Kapolres Nagekeo dengan “akun Kaisar Hitam Destroyer” ada misi menyebarkan kebencian, mengintimidasi wartawan, sara, sehingga membuat warga merasa tidak nyaman ketakutan hidup di bumi Nagekeo?

Apakah tidak sebaliknya program akun Kaisar Hitam Destroyer adalah metode kerjasama sinergi Polri, awak media, dan pegiat olah raga dalam mewujudkan kamtibmas dan kegiatan positif di Nagekeo?

Rasanya terlalu sumir menjustifikasi Kapolres Nagekeo yang sejatinya adalah garda terdepan penegakan hukum memiliki “mens rea” dan “meeting of minds”  membuat akun medsos tersebut untuk aktivitas di luar tupoksi Polri. Sudah kebangetan! Itu sama saja AKBP Yudha Pranata membunuh karier Polrinya. Non sense!

Terkait

Terkini