Update Peta Koalisi Capres 2024: Prediksi dan Analisa, Sungguh di Luar Dugaan – “Anies-Maharani” Why Not?

- Dengan terciptanya dua blok/poros koalisi seperti ini, maka menjadikan kompetisi di 2024 masing-masing calon mempunyai kesempatan menang yang sama, pun dengan visi misi (ide, gagasan) para capres-cawapres akan tertampung dalam desain koalisi ini, terlebih menyangkut konfigurasi ideologi, tentu akan terakomodir di dalamnya -

4 April 2023, 14:02 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Polhukam — Update Peta Koalisi Capres 2024: Prediksi dan Analisa, Sungguh di Luar Dugaan – “Anies-Maharani” Why Not?

“Memang, manusia berkewajiban untuk menentukan dan merancang masa depannya, namun Tuhan telah menggariskan segala sesuatunya untuk manusia. Oleh sebab itu, semuanya masih menjadi misteri sebelum pada akhirnya kembali kepada takdir Tuhan. Untuk itu, janganlah kita saling bermusuhan, segeralah untuk berdamai, karena sesungguhnya musuhmu itu adalah kawan sejatimu. Dan janganlah kita terlena dalam persaudaraan atas nama kesetiaan, karena suatu saat saudaramu itu menjadi musuhmu. Maka, keabadian itu hanya milik Tuhan!”

ROAD MAP menuju Pilpres 2024 sungguh berliku. Aturan presidential threshold (PT) 20% sungguh membuat pusing tujuh keliling para-para si empunya partai, pasalnya PT 20% menjadi bagian bargaining untuk komposisi siapa capres-cawapres yang akan didudukkan, pun hingga kalkulasi menang dan kalah dengan bekal popularitas dan elektabilitas personal calon. Bermula dari aturan PT ini, sandera-menyandera terjadi, kunci-mengunci dilakukan meskipun partai hanya bermodal kursi DPR maupun suara nasional dalam klasifikasi partai middle, pun dengan para tokoh-tokoh partai yang elektabilitas dan popularitasnya yang hanya bagai nomor sepatu, tetapi mampu dijadikan alat politik tukar tambah.

Belum lagi, bila ditarik pada urusan penyelenggaraan pemerintahan, kutub koalisi pemerintah (kekuasaan) dan kutub oposisi yang masing-masing memegang kunci rahasia, sering dijadikan alat untuk melancarkan operasi-operasi politik, juga manuver-manuver. Setidaknya, memainkan sprindik-sprindik bisa menjadi strategi yang ampuh untuk menghancurkan (memecah) lawan agar tercipta konfigurasi baru peta koalisi, peta dukungan, dan peta-peta lainnya. Maka, terus berdinamika dengan jalinan komunikasi-komunikasi dan lobi-lobi, yang acapkali bersitegang hebat, meski pada akhirnya juga cair, hingga reschedule atau kocok ulang terjadi.

Namun, se-pragmatis-pragmatisnya para pelaku Pilpres 2024, ideologi sebagai basis alat menuju cita-cita secara konstitusi oleh partai politik maupun calon, acapkali masih terlihat pendar cahayanya meski hanya samar-samar terlihat.

Di bagian tertentu, PDIP masih berharap bagaimana ruh PDIP yang berciri nasionalis ala Soekarno dengan pemikirannya yang revolusioner dengan tujuan Indonesia yang berdikari ala Tri Sakti, masih selalu menjadi cita-cita yang terus diperjuangkan, meskipun praktiknya haluan berciri neo-liberalisme terlalu amat kuat untuk mampu dilawan. Di bagian ini, yang kemudian perlu diuji, sebenarnya seberapa dalam PDIP sepakat dengan haluan pembangunan ala Jokowi yang ditafsirkan lebih condong ke desain investasi, yang lebih ke privatisasi dan swastanisasi, dalam pokok kontradiktif dengan “ruh” PDIP yang Soekarnois. Atau, sama-sama sepakat.

Namun begitu, apapun alasannya, “Jokowi Faktor,” adalah penyelamat elektabilitas dan popularitas PDIP, dimulai dari proses Pilgub DKI Jakarta 2012 hingga Pilpres 2014, yang mana PDIP yang sebelumnya terus menderita kekalahan, bahkan Megawati sebagai tokoh politik yang teramat sering disakiti dan dipojokkan sejak orde baru. Jokowi hadir, Jokowi faktor, telah berjasa dalam membesarkan PDIP, bahkan menyelamatkan. Keduanya, antara PDIP dan Jokowi kemudian kompak, sebagai kekuatan politik yang teramat besar dan kuat. Banteng moncong putih pun terus tak terkalahkan, bahkan mampu membuat sang Garuda (Gerindra) hinggap di punggungnya untuk simbiosis mutualisme.

Namun pada akhirnya, dibaca kemauan Jokowi untuk mencapreskan Ganjar Pranowo melalui PDIP, membuat PDIP sadar, bahwa merawat keberlanjutan partai bukanlah bertumpu pada seorang tokoh atau figur, terlebih di luar keluarga Soekarno, pun potensi ancaman PDIP lepas dari kultur Bung Karno, akhirnya membuat hubungan keduanya (Megawati-Jokowi) memanas, meski nampak halus “adem-ayem” saja, tetapi sesungguhnya bagai api dalam sekam dari rentetan perang dingin keduanya. Lagi-lagi dibaca, gagalnya Indonesia sebagai tuan rumah PD U-20 adalah buah dari problem internal keduanya.

Terkait

Terkini