Kinerja Pendapatan Negara Tumbuh Positif, Versi (Menkeu) Sri Mulyani

"Dibandingkan tahun lalu di mana pada Februari realisasinya di angka Rp.219 triliun, ini adalah kenaikan 37,7 persen.”

29 Maret 2022, 15:52 WIB

Nusantarapedia.net, Jakarta — Sampai dengan bulan Februari 2022, kinerja pendapatan negara naik sebesar 37,7 persen. Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, dalam siaran Konferensi Pers APBN KITA Edisi Maret 2022, yang dilaksanakan secara virtual, Senin (28/03/2022).

Dilansir dari humas setneg[.]go.id, Sri Mulyani mengatakan, “Dibandingkan tahun lalu di mana pada Februari realisasinya di angka Rp.219 triliun, ini adalah kenaikan 37,7 persen.”

Kinerja pendapatan negara yang dimaksud terdiri dari beberapa komponen, yaitu , kepabeanan, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dengan grafik yang cukup baik. Realisasi pendapatan negara dan hibah tercatat mencapai Rp.302,42 triliun atau 16,38 persen dari target APBN 2022 per-Februari.

Angka 15,77 persen dari target APBN 2022 atau tumbuh 36,5 persen dengan nilai penerimaan pajak sebesar Rp.199,4 triliun dihitung sampai Februari 2022. Statistik tersebut dipengaruhi oleh penetrasi pemulihan ekonomi dibidang industri yang terus ekspansif, perkembangan harga komoditas, dan kinerja ekspor impor.

Akumulasi dari penerimaan pajak dari mayoritas jenis pajak utama, tahun 2022 ini lebih baik dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan perhitungan bulanan, ada jenis pajak mengalami kontraksi akibat pergeseran pencatatan pembayaran, selain faktor tidak terulangnya transaksi tahun sebelumnya seperti pembayaran ketetapan pajak. Secara umum tercatat pertumbuhan dengan trend positif.

“Dengan demikian, gambaran makronya dengan kesimpulan, berhasilnya Pemerintah melakukan akselerasi pemulihan ekonomi nasional.”

Secara keseluruhan, didasarkan pada seluruh jenis usaha pada penerimaan sektoral kumulatif tumbuh cukup baik, meski tidak sebesar pertumbuhannya pada periode Januari. Penerimaan pajak dari sektor industri pengolahan sebesar 29,1 persen merupakan yang terbesar, namun pertumbuhan tertinggi ada pada sektor pertambangan, disebabkan oleh faktor kenaikan harga komoditas batubara.

Pada sektor lain, kinerja , Bea Keluar, dan juga mengalami pertumbuhan cukup signifikan, dengan penerimaan sebesar Rp.56,7 triliun. Angka tersebut setara 23,2 persen dari target APBN per-Februari akhir.

Dari ketiga sektor tersebut dengan perincian; (1) Rp.43,4 trilliun atau tumbuh sebesar 53,3 persen didapat dari Penerimaan . Hal ini dipengaruhi atas implementasi perihal kebijakan , seperti efektivitas pengawasan, relaksasi PPKM serta berangsur pulihnya sektor pariwisata dan perhotelan. (2) Penerimaan Bea Masuk sebesar Rp.6,8 triliun dengan pertumbuhan sebesar 37,1 persen. Prestasi ini disebabkan atas perbaikan kinerja impor nasional. (3) Pertumbuhan sebesar 176,8 persen yang terkonversi menjadi Rp.6,6 triliun, disebabkan adanya dorongan meningkatnya volume ekspor, terutama tembaga serta naiknya harga komoditas. Inilah yang menyebabkan Penerimaan Bea Keluar meningkat drastis.

Pendapatan negara lainnya dari realisasi PNBP sebesar Rp.46,2 triliun, setara 13,8 persen dari target APBN 2022, yang dihitung per-Februari akhir. Sedangkan nilai pertumbuhanya sebesar 22,55 persen termasuk positif. Hal tersebut atas dorongan pendapatan sektor SDA () baik maupun Non serta Pendapatan BLU ().

Melihat grafik tersebut, meningkatnya pendapatan negara dari sektor pajak dan PNBP, membuktikan bahwa intervensi ihwal kebijakan pemerintah berhasil, terlebih dalam upaya menumbuhkan ekonomi nasional.

Dengan demikian, gambaran makronya dengan kesimpulan, berhasilnya Pemerintah melakukan akselerasi pemulihan ekonomi nasional. (asm)

Dokter Terawan Dipecat dari IDI, Ini Alasannya
Tabung Gas di Bobol Maling

Terkait

Rekomendasi

Terkini