50+ Tradisi Nusantara di Bulan Sya’ban dan Ramadan (2)

"berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus menjelang puasa untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa. Atau dalam masa sekarang menunggu Rapat Sidang Isbat dari Kementerian Agama,"

2 April 2022, 20:51 WIB

Nusantarapedia.net — 50+ pada rangkaian bulan Sya’ban dan Ramadan.

24) Sadranan — Wilayah Kebudayaan Jawa dan Sunda

Menjelang Ramadan pada bulan Sya’ban, masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur melakukan tradisi Nyadran atau Nadran dalam kebudayaan Sunda. Tradisi Sadranan disebut dengan Ruwahan, yaitu kegiatan bersih makam dengan ziarah kubur dan Kenduri di makam, juga ajang silaturahmi berkumpulnya keluarga besar. Nyadran diadakan pada tanggal 15, 20, dan 23 di bulan Ruwah atau Sya’ban.

25) Padusan — Wilayah Kebudayaan Jawa dan Sunda

Tradisi Padusan adalah penyucian diri dengan mandi besar di sumber-sumber air, menjelang pelaksanaan ibadah puasa pertama.

26) Makan Telur Ikan Mimi — Kendal, Jawa Tengah

Tradisi oleh masyarakat Kaliwungu, Kendal, yaitu acara makan telur ikan Mimi. Ikan yang menyerupai ikan Pari. Sejarahnya, ikan Mimi merupakan makanan para wali atau ulama penyebar agama islam. Menu ini banyak di jual di berbagai tempat terutama di Alun-Alun. Masyarakat juga mempunyai kebiasaan membeli makanan jelang pelaksanaan Ramadan yang dinamakan “Tukuder.”

“Dengu-Dengu adalah rumah kecil yang dibuat dari pohon bambu, berdiri menjulang tinggi hingga 10-15 meter ke atas langit. Rumah kecil tersebut digunakan untuk membunyikan musik atau bunyi-bunyian selama bulan Ramadan. Sejarahnya, Dengu-Dengu digunakan pada era kerajaan untuk berbagai keperluan.”

27) — Semarang, Jawa Tengah

Tradisi ini bentuk akulturasi dari tiga etnis besar di kota Semarang, yakni; Jawa, Tionghoa, dan Arab. Nama di ambil dari suara bedug yang dibunyikan. Bunyi tabuhannya ‘dug’ dan ‘der’. Tabuhan bedug tersebut sebagai pertanda dimulainya bulan Ramadan.
Ikon dalam tradisi ini berupa Warak Ngendhog, bentuk atraksi replikasi hewan berkaki empat berkepala mirip naga.

28) Arwah Jamak — Demak, Jawa Tengah

Tradisi yang sudah ada sejak jaman Sunan Kalijaga. Dilakukan dengan membaca doa untuk leluhur juga ditujukan kepada orang tua dan sanak saudara. Dilaksanakan menjelang datangnya bulan Ramadan dan sepuluh hari terakhir pada malam ganjil di bulan Pasa atau Ramadan.

29) Dandangan — Kudus, Jawa Tengah

Tradisi Dandangan dilakukan dengan memukul bedug Masjid Menara Kudus. Kegiatan ini menandai awal bulan Ramadan untuk melaksanakan ibadah puasa. Sejarahnya, merupakan tradisi berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus menjelang puasa untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa. Atau dalam masa sekarang menunggu Rapat Sidang Isbat dari Kementerian Agama.

30) Adat Sungkeman — Yogya

Perbuatan “unggah ungguh” atau etik budi pekerti dan tata krama masyarakat Jawa yang dilakukan oleh anak kepada orang tua. Sungkeman dilakukan untuk memohon maaf dan memohon restu kepada orang tua, atas segala salah dan harapan baik kedepannya.
Anak-anak duduk bersimpuh dengan menjabat tangan orang tuanya sambil memeluk. Tradisi ini pada umumnya dilakukan oleh masyarakat golongan priyayi.

31) Malem Selikuran — Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Kebudayaan Sunda

Tradisi menyambut malam Lailatul Qadar, dilaksanakan pada 20 Ramadhan atau malam 21 Ramadhan. Episentrum tradisi ini ada di keraton Surakarta, Yogyakarta maupun Cirebon. Di desa-desa di Jawa Tengah, masyarakat di pedesaan menyalakan lampu teplok di malam hari yang di tempatkan di depan rumah. Serta menggelar acara Selamatan dengan Kenduri.

32) Bajong Banyu — Magelang, Jawa Tengah

Merupakan tradisi pencucian diri dengan mandi di mata air Tuk Dawung, dilanjutkan mengambil air dengan kendi untuk disatukan dalam wadah besar di tanah lapang. Selanjutnya digunakan untuk perang air setelah di do’akan oleh sesepuh adat.

33) Megengan, Kebudayaan Jawa Timur

Megengan dari kata “megeng,” yang artinya menahan. Sebagai filosofi dari menahan lapar dan minum serta hawa nafsu menurut batasan dalam ibadah puasa. Dilaksanakan sebelum puasa dengan acara Selamatan atau Kenduri bersama.

34) Malem Sanga — Tuban, Jawa Timur

Tradisi menikah yang dilakukan sehari sebelum lebaran, atau pada malam 29 bulan Ramadan. Tradisi ini dipercayai agar perjalanan dalam berumah tangga diberikan keberkahan.

35) Resik Pawon — Banyuwangi, Jawa Timur

Tradisi mencuci atau mengganti kain kafan sepanjang 110,75 meter, di komplek makam Buyut Cungking. Buyut Cungking adalah penasehat Prabu Tawangalun di kerajaan Blambangan. Ritual dilaksanakan pada tanggal 10-15 Ruwah.

36) Arebbe — Sumenep, Madura
Arebbe atau Ater-Ater adalah kegiatan menghantarkan makanan kepada kerabat. Arebbe atau Slametan merupakan simbolisasi untuk menjalin silaturahmi dan wujud syukur dengan bersedekah atau shadaqah.

37) Megibung – Bali

Tradisi di daerah Karangasem, untuk menyambut bulan Ramadan. Dilakukan dengan duduk bersila mengitari makanan. Dilakukan oleh beberapa kelompok yang mengitari makanan. Satu kelompok yang membentuk lingkaran dinamakan Satu Sela.

38) Seraut, Rowah atau Begawe dan Beratong Dulang — Suku Sasak Lombok, Nusa Tenggara Barat

Sebelum puasa tiba, masyarakat Sasak melakukan ritual Seraut, yaitu membersihkan muka sebagai simbol penyucian diri. Selanjutnya bagi orang mapan melakukan tradisi “Rowah atau Begawe,” yaitu setiap tiga hari jelang puasa mengundang kyai dan warga sekitar untuk melakukan doa bersama. Kegiatan disempurnakan dengan “Beratong Dulang,” yaitu bersedekah membagikan makanan.

39) Beburak Simbik — Desa Pohgading Timur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat

Tradisi membersihkan diri menyambut bulan suci Ramadan, dengan simbolisasi mengoleskan sirih pinang dan kapur atau Lekok Buak Pamak pada dahi. Dibimbing oleh pemangku adat dengan menuntun orang untuk membaca dua kalimat syahadat, salawat dan doa.

40) Kuliner Jagung Titi — Lamahala, Nusa Tenggara Timur

Merupakan kuliner khas NTT yang terbuat dari jagung yang ditumbuk. Menjelang puasa Ramadan, permintaan kuliner Jagung Titi meningkat tajam. Makanan ini spesial disajikan pada acara-acara besar.

41) Monuntul — Sulawesi Utara

Tradisi Monuntul adalah tradisi menyalakan obor di kebudayaan Boolang Mongondow. Sinar cahaya obor sebagai simbol datangnya bulan Ramadan sebagai penerang hidup.

42) Dengu-Dengu — Morowali, Sulawesi Tengah

Dengu-Dengu adalah rumah kecil yang dibuat dari pohon bambu, berdiri menjulang tinggi hingga 10-15 meter ke atas langit. Rumah kecil tersebut digunakan untuk membunyikan musik atau bunyi-bunyian selama bulan Ramadan. Sejarahnya, Dengu-Dengu digunakan pada era kerajaan untuk berbagai keperluan.

43) Tembaha Wula — Muna, Sulawesi Tenggara

Tembaha Wula merupakan tradisi yang mirip dengan Nyadran di Jawa. Aneka makanan yang telah didoakan kemudian dinikmati dan dibagikan bersama-sama.

44) Mabbaca-baca — Polewali Mandar, Sulawesi Barat

Tradisi ini dengan ritual berupa sajian sesajen nasi ketan, kari ayam, telur dan aneka buah (hasil bumi), kemudian membakar pallang atau lilin tradisonal yang terbuat dari kapas dan biji kemiri. Pallang dinyalakan dari empat penjuru mata angin. Dipasang di halaman rumah dengan bersususun di atas tangga depan rumah. Diharapkan agar selama bulan Ramadan diberikan kekuatan.

45) Suru Maca — Sulawesi Selatan

Tradisi yang dilakukan masyarakat Bugis-Makassar, dengan membaca doa yang dikirimkan kepada leluhur. Dilaksanakan seminggu dari sejak puasa pertama. Acara dilanjutkan dengan menyajikan beragam kuliner sebagai bentuk syukur.

46) Mohibadaa — Gorontalo

Tradisi membalurkan ramuan rempah-rempah sebagai masker wajah. Hal ini sebagai simbol kebersihan hati yang terpancar dari wajah yang bersih. Dilakukan jelang awal puasa. Ramuan rempah-rempah terdiri dari; tepung beras ketan, humopoto (kencur), bungale (bangle), dan alawahu (kunyit) dan rempah lainnya.

47) Batahlil — Ternate

Dilakukan dengan berziarah ke makam leluhur dan keluarga terdekat. Melakukan doa bersama dan membagikan makanan.

48) Festival Ela-Ela — Ternate

Dilakukan masyarakat Ternate untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Melakukan sholat bersama di Kedaton Kesultanan Ternate, setelahnya menyalakan obor dan membakar resin untuk mengharumkan udara.

49) Selo Buto — Tidore

Tradisi muslim di Tidore menyambut malam Lailatul Qadar. Secara simbolik dengan menancapkan tiang kayu setinggi dua meter di pekarangan rumah yang membentuk lingkaran berdiameter lima meter, untuk mengikat batang enau, pisang, jagung, tebu dan hasil bumi lainnya.

Kemudian sejumlah pria menabuh tifa dan belasan pria masuk ke lingkaran sambil menari cakalele dengan memegang salawaku atau parang. Setelah menari beberapa saat, para pria menebas ikatan tersebut, dan hasil bumi direbutkan bersama.

50) Satu Panggil Satu — Pulau Seram, Maluku

Tradisi perjamuan yang dilakukan pada saat awal berbuka puasa, disebut dengan Kepala Puasa. Satu Panggil Satu yang dimaksud, si tuan rumah menjamu satu per satu tamunya untuk diberikan jamuan makan. Tradisi ini berada di desa Lha, Kabupaten Seram Bagian Barat.

51) Tradisi Bakar Damar — Amalatu, Maluku Tengah

Merupakan tradisi membakar damar sebagai obor yang dilakukan di makam. Dilakukan pada tanggal 27 Ramadan untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

52) Bakar Batu — Wamena, Papua

Tradisi ini merupakan serapan dari budaya Bakar Batu oleh masyarakat setempat. Dari membakar babi di ganti menjadi ayam. Tradisi ini muncul dilakukan oleh komunitas muslim yang menetap di Papua dari berbagai daerah di tanah air.

Selesai

(diolah dari beberapa sumber)

50+ Tradisi Nusantara di Bulan Sya’ban dan Ramadan (1)
Tradisi Mbangkuningan, Upacara Adat Memperingati Haul Makam Kembang Kuning
Resepsi Budaya Bhairawa Tantra dan Sadranan, hingga Slametan Kendurenan (1)

Terkait

Rekomendasi

Terkini