CTEV, Gejala, dan Penanganannya
Kelahiran adalah sebuah hal yang ditunggu-tunggu setiap pasangan pernikahan. Kehadiran anak dianggap melengkapi kesempurnaan rumah tangga. Kehamilan adalah satu tanda akan datangnya kebahagiaan itu. Tak jarang calon ibu atau seorang istri yang rela menjaga mati-matian demi keselamatan dan kesehatan janin di perutnya.
Namun, takdir tidak bisa dihalau. Kelahiran anak dengan kelainan atau ketidak normalan menjadi momok setiap calon orang tua. salah satu penyakit bawaan yang dialami bayi adalah CTEV. Apa itu CTEV?
CTEV Kepanjangan dari Congenital Talipus Equino Varus atau disebut juga clubfoot atau kaki pengkor adalah kelainan bawaan pada kaki yang belum diketahui penyebabnya. Deteksi awal kelainan ini pada saat pemeriksaan kehamilan melalui Ultrasonografi. Hasil penanganan akan baik jika dilakukan sedini mungkin, yaitu setelah diketahui adanya kelainan atau 1-2 minggu setelah kelahiran.
Pada kaki pengkor, terjadi kekakuan otot dan tendon bagian dalam kaki sehingga tendon menjadi pendek dan menarik kaki ke arah dalam. Kelainan ini mulai terbentuk pada awal masa embrionik. Secara fisiologis ketika masih berada di kandungan, posisi kaki memang menghadap ke dalam. Namun, setelah lahir perlahan posisi kaki mulai ke depan dan terlihat normal. Sehingga perlu diwaspadai jika posisi kaki tersebut menetap setelah lahir. Kelainan ini akan semakin berkembang dan semakin sulit pula untuk dikoreksi seiring bertambahnya usia.
Pencegahan pada kaki pengkor sulit untuk dilakukan karena adanya dominasi penyebab genetik sehingga biasanya deteksi dini dan peran aktif orang tua sangat diperlukan karena kelainan kaki pengkor dapat diikuti dengan cacat bawaan di tempat lain terutama yang sifatnya sindromik dan multiple pada organ-organ lain, seperti kepala, wajah, perut, dan tulang belakang. (jih.com)
Tanda dan Gejala Kaki Pengkor
Setiap penderita tidak merasakan kesakitan atau nyeri pada kaki pengkornya. Namun sebagai orang tua harus jeli melihat setiap ketidak normalan pada buah hatinya. Di bawah ini adalah tanda-tanda bayi menderita kaki pengkor:
1. Tanda yang paling jelas kaki menekuk ke dalam. Bisa satu kaki atau dua kaki (bilateral). Jika dua kaki, akan terlihat jari-jari kedua kaki berhadapan. Kondisi yang lebih parah ditunjukkan telapak kaki hingga menghadap menghadap atau menekuk ke atas.
2. Bentuk kaki lebih kecil 1-2 cm dari kaki biasa.
3. Otot bagian betis lemah.
Tanpa terapi, pasien dengan clubfoot atau kaki pengkor ini akan berjalan dengan bagian luar kakinya, yang mungkin menimbulkan nyeri dan atau disabilitas. Meskipun begitu, hal ini masih menjadi tantangan bagi keterampilan para ahli bedah ortopedik anak akibat adanya kecenderungan kelainan ini menjadi relaps, tanpa memperdulikan apakah kelainan tersebut diterapi secara operatif maupun konservatif.
Penyebab
Penyebab utama CTEV atau clubfoot atau kaki pengkor tidak diketahui. Adanya berbagai macam teori penyebab terjadinnya CTEV menggambarkan betapa sulitnya membedakan antara CTEV primer dengan CTEV sekunder karena suatu proses adaptasi.
Beberapa teori mengenai penyebab terjadinya CTEV:
· Teori kromosomal, antara lain defek dari sel germinativum yang tidak dibuahi dan muncul sebelum fertilisasi.
· Teori embrionik, antara lain defek primer yang terjadi pada sel germinativum yang dibuahi (dikutip dari Irani dan Sherman) yang mengimplikasikan defek terjadi antara masa konsepsi dan minggu ke-12 kehamilan.
· Teori otogenik, yaitu teori perkembangan yang terhambat, antara lain hambatan temporer dari perkembangan yang terjadi pada atau sekitar minggu ke-7 sampai ke-8 gestasi. Pada masa ini terjadi suatu deformitas clubfoot yang jelas, namun bila hambatan ini terjadi setelah minggu ke-9, terjadilah deformitas clubfoot yang ringan hingga sedang.
Teori hambatan perkembangan ini dihubungkan dengan perubahan pada faktor genetic yang dikenal sebagai “Cronon”. “Cronon” ini memandu waktu yang tepat dari modifikasi progresif setiap struktur tubuh semasa perkembangannya. Karenanya, clubfoot terjadi karena elemen disruptif (lokal maupun umum) yang menyebabkan perubahan faktor genetic (cronon).
· Teori fetus, yakni blok mekanik pada perkembangan akibat intrauterine crowding.
· Teori neurogenik, yakni defek primer pada jaringan neurogenik.
· Teori amiogenik, bahwa defek primer terjadi di otot.
Diagnosis
Kelainan ini mudah didiagnosis, dan biasanya terlihat nyata pada waktu lahir (early diagnosis after birth). Pada bayi yang normal dengan equinovarus postural, kaki dapat mengalami dorsifleksi dan eversi hingga jari-jari kaki menyentuh bagian depan tibia. “Passive manipulation dorsiflexion → Toe touching tibia → normal”.
Bentuk dari kaki sangat khas. Kaki bagian depan dan tengah inversi dan adduksi. Ibu jari kaki terlihat relatif memendek. Bagian lateral kaki cembung, bagian medial kaki cekung dengan alur atau cekungan pada bagian medial plantar kaki. Kaki bagian belakang equinus. Tumit tertarik dan mengalami inversi, terdapat lipatan kulit transversal yang dalam pada bagian atas belakang sendi pergelangan kaki.
Atrofi otot betis, betis terlihat tipis, tumit terlihat kecil dan sulit dipalpasi. Pada manipulasi akan terasa kaki kaku, kaki depan tidak dapat diabduksikan dan dieversikan, kaki belakang tidak dapat dieversikan dari posisi varus. Kaki yang kaku ini yang membedakan dengan kaki equinovarus paralisis dan postural atau positional karena posisi intra uterin yang dapat dengan mudah dikembalikan ke posisi normal.
Luas gerak sendi pergelangan kaki terbatas. Kaki tidak dapat didorsofleksikan ke posisi netral, bila disorsofleksikan akan menyebabkan terjadinya deformitas rocker-bottom dengan posisi tumit equinus dan dorsofleksi pada sendi tarsometatarsal.
Maleolus lateralis akan terlambat pada kalkaneus, pada plantar fleksi dan dorsofleksi pergelangan kaki tidak terjadi pergerakan maleoulus lateralis terlihat tipis dan terdapat penonjolan korpus talus pada bagian bawahnya. Tulang kuboid mengalami pergeseran ke medial pada bagian distal anterior tulang kalkaneus. Tulang navicularis mengalami pergeseran medial, plantar dan terlambat pada maleolus medialis, tidak terdapat celah antara maleolus medialis dengan tulang navikularis. Sudut aksis bimaleolar menurun dari normal yaitu 85° menjadi 55° karena adanya perputaran subtalar ke medial.
· Terdapat ketidakseimbangan otot-otot tungkai bawah yaitu otot-otot tibialis anterior dan posterior lebih kuat serta mengalami kontraktur sedangkan otot-otot peroneal lemah dan memanjang. Otot-otot ekstensor jari kaki normal kekuatannya tetapi otot-otot fleksor jari kaki memendek. Otot triceps surae mempunyai kekuatan yang normal.
· Tulang belakang harus diperiksa untuk melihat kemungkinan adanya spina bifida. Sendi lain seperti sendi panggul, lutut, siku dan bahu harus diperiksa untuk melihat adanya subluksasi atau dislokasi. Pmeriksaan penderita harus selengkap mungkin secara sistematis seperti yang dianjurkan oleh R. Siffert yang dia sebut sebagai Orthopaedic checklist untuk menyingkirkan malformasi multiple.
Penanganan
1. Terapi non-bedah
Hampir 90 persen penderita CTEV bisa sembuh tanpa operasi. Upaya harus segera dilakukan begitu bayi lahir. Bayi akan dipasang cast atau gips (casting – metode ponsetti) dari pangkal jari kaki hingga paha bayi. Penggunaan gips ini bertujuan untuk mengoreksi kaki bayi agar lurus seperti kaki normal. Kaki bayi akan sedikit dimiringkan mengikuti bentuk gips.
Kemiringan akan ditambah secara bertahap hingga kaki bayi menjadi normal dan setiap kali kemiringan gips ditambah, maka gips harus diganti. Biasanya penggantian gips dilakukan setiap beberapa hari hingga beberapa bulan. Gips akan dipasang terus-menerus sampai kemiringan kaki bayi terkoreksi. Pemasangan cast atu gips ini akan berlangsung selama 2-3 bulan, dengan rentang waktu 7 (tujuh) hari pemasangan, bongkar, pasang kembali.
Pemasangan gips ini tidak membahyakan bagi bayi. Efek ringan yang mungkin timbul adalah ruam atau alergi pada gips-nya. Selebihnya adalah perasaan tidak nyaman dan berat yang dirasakan bayi. Untuk itu, mengkondisikan bayi dalam keadaan selalu nyaman sangat penting agar langkah awal penanganan ini sukses tanpa kendala. Setelah dilakukan pemasangan gips dan kaki bayi mencapai kemiringan yang normal, terapi dilanjutkan dengan penggunaan sepatu khusus CTEV. Pada sepatu khusus CTEV ini, terdapat pelat yang menempel pada sepatu dan menghubungkan antara kedua kaki. Penggunaan sepatu khusus CTEV ini bertujuan untuk meluruskan bagian bawah kaki, agar tumit bayi sejajar dengan bagian depan kaki, sehingga nantinya bayi dapat berjalan normal dengan terapi alat untuk melatih anak jalan
2. Terapi Bedah
Jika upaya penanganan non-bedah dirasa gagal atau belum berhasil, dokter akan mengambil langkah pembedahan atau operasi. Ketidak berhasilan upaya non-bedah lebih banyak disebabkan tidak segera ditanganinya bayi CTEV sejak lahir. Terapi bedah, Untuk beberapa kasus, Dokter Orthopaedist akan merekomendasikan operasi kecil pada tendon kaki kemudian digabungkan dengan metode serial casting. Penanganan selanjutnya setelah serial casting adalah dengan menggunakan Denis Browne Splint atau sepatu CTEV, Sepatu digunakan selama 23 jam/hari selama 3 bulan pertama selanjutnya penggunaan bisa 14-16 jam/hari hingga anak mencapai 3-4 tahun.
Demikian artikel ini penulis susun dalam bahasa yang sederhana agar pembaca mudah memahami dan segera untuk melakukan upaya medis jika ditemukan kaki si kecil terdapat ketidak normalan, agar bisa teratasi sedari dini.
Rekomendasi
-
Mural, Kajian Semiotik dan Sosiologis
7 Februari 2022, 09:43 WIB -
Sejarah Perkembangan Sastra Indonesia Berdasar Periodisasinya
13 November 2021, 03:05 WIB -
Gelar Vaksinasi Massal, Polres Tanggamus Bagikan Minyak Goreng dan Beras
21 Maret 2022, 19:16 WIB -
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (3)
25 Januari 2022, 18:47 WIB -
Budaya Katuranggan para Pria Jawa
18 November 2021, 08:23 WIB