50+ Tradisi Nusantara di Bulan Sya’ban dan Ramadan (1)

Pada kenyataan kultural di Indonesia, telah terjadi proses akulturasi, asimilasi dan resepsi maupun sinkretik kebudayaan dan nilai agama

2 April 2022, 18:00 WIB

Nusantarapedia.net — 50+ pada rangkaian bulan Sya’ban dan Ramadan.

Masyarakat muslim di Indonesia dalam menyambut bulan Ramadan sebagai bulan untuk melaksanakan ibadah puasa, mempunyai aneka tradisi sebagai bentuk ekspresi yang beraneka ragam di seluruh Nusantara.

Tradisi tersebut pada umumnya merupakan rangkaian bulan yang menurut Islam sebagai bulan-bulan yang penuh keberkahan.

Dimulai dari bulan Rajab, Sya’ban, Ramadan dan Syawal, ke empat bulan tersebut merupakan bulan baik untuk berbagai keperluan duniawi melakukan berbagai hajat. Pada makna secara spiritual merupakan rangkaian bulan untuk meninggikan derajat keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, serta sebagai sarana refleksi.

Agama dan kebudayaan sering menjadi perdebatan bahwa keduanya berdiri sendiri maupun menjadi satu kesatuan. Hal itu dikembalikan kepada masing-masing individu mengenai definisi tersebut menurut cara pandang masing-masing.

Pada kenyataan kultural di Indonesia, telah terjadi proses akulturasi, asimilasi dan resepsi maupun sinkretik kebudayaan dan nilai agama.

Peristiwa besar dalam Islam, telah diduplikasi ke dalam tatanan kehidupan masyarakat dalam bentuk perayaan-perayaan maupun ritus spiritual dalam nafas tatanan kehidupan sosial.

Dari dasar tersebut, lahirlah kebudayaan muslim khas Indonesia yang berbeda dengan kebudayaan muslim lainnya di dunia. Dengan demikian, peristiwa besar dalam Islam telah menjadi nafas kultural Indonesia sebagai definisi kebudayaan muslim Nusantara.

Kebudayaan muslim Nusantara sebenarnya merupakan bahasa penghalusan untuk menghindari definisi Islam Nusantara. Yang mana, Islam yang dimaksud dengan aturan yang jelas berdasarkan kitab suci Alquran dan Hadis.

Sedangkan definisi kebudayaan muslim, lebih fleksibel yang seolah-olah tidak mencampuradukan budaya dengan aturan agama. Hal ini karena berkaitan dengan asal usul suatu etnis atau suku bangsa yang mendiami suatu wilayah tertentu sebagai entitas kebudayaan.

Berikut 50+ daftar tradisi di Nusantara yang dilakukan di bulan Sya’ban dan Ramadan.

“Dilakukan di Sungai Batang Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, dalam bentuk perlombaan mendayung perahu yang terbuat dari kayu pohon. Lomba dilaksanakan menjelang bulan Ramadan dengan berbagai acara pesta rakyat.”

1) Meugang — Aceh

Tradisi menyembelih kambing atau sapi, dalam setahun dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada perayaan Idul Adha, Ramadan dan Idul Fitri.

2) Punggahan — Sumatera Utara

Punggahan berarti naik, sebagai simbol menaikkan derajat keimanan dan ketakwaan manusia kepada Tuhan. Punggahan dilakukan dengan kegiatan membawa makanan untuk di santap dan dibagikan. Punggahan juga dilakukan dengan menyembelih ternak jenis kerbau atau sapi, terutama di daerah Batubara. Rangkaian kegiatan Punggahan dimulai sebulan sebelum puasa pertama.

3) Marpangir — Batak, Sumatera Utara

Tradisi Marpangir atau Mandi Pangir atau Balimo, mandi jeruk limo. Merupakan tradisi menyucikan diri dengan mandi menggunakan rempah-rempah. Khususnya dilakukan umat muslim di Batak Mandailing dan Angkola Sipirok.

4) Balimau — Minangkabau, Sumatera Barat

Tradisi penyucian diri yang disimbolkan dengan mandi menggunakan jeruk nipis. Di Jawa, tradisi ini disebut dengan Padusan. Dilakukan terutama di sumber-sumber air yang mengalir.

5) Malamang — Minangkabau, Sumatera Barat

Merupakan tradisi saling berbagi makanan untuk menjalin tali silaturahmi. Dilakukan dengan membuat makanan Lemang, yang terbuat dari beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu, kemudian di bakar.

6) Gulai Sepedeh — Mukomuko, Bengkulu

Tradisi memasak daging kerbau dengan bumbu gulai. Dilakukan sebelum puasa dan saat lebaran.

7) Ziarah Kubro — Palembang

Dilakukan di sepanjang sungai Musi, khususnya masyarakat komunitas Arab, dengan berziarah kubur ke makam para waliyullah, ulama dan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam.

8) Bebantai — Merangin, Jambi

Merupakan tradisi memotong atau menyembelih Kerbau sebagai wujud syukur dan silaturahmi. Kerbau yang dipotong mencapai puluhan bahkan ratusan kerbau. Acara dilanjutkan dengan makan bersama atau “busamo” dan “beduen,” do’a bersama.

9) Pacu Jalur — Riau

Dilakukan di Sungai Batang Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, dalam bentuk perlombaan mendayung perahu yang terbuat dari kayu pohon. Lomba dilaksanakan menjelang bulan Ramadan dengan berbagai acara pesta rakyat.

10) Petang Megang — Pekanbaru, Riau

Tradisi menyambut bulan Ramadan dengan prosesi sholat berjamaah di Mesjid Senapelan, lalu berziarah ke makam Marhum Pekan, dilanjutkan pawai di bawah jembatan Siak I, kemudian melepas ratusan itik, sebagai simbol agar terbebas dari segala penderitaan.

11) Haul Jamak — Kepulauan Riau

Tradisi melakukan doa bersama untuk mendoakan arwah leluhur. Acara Haul Jamak juga disebut Doa Arwah. Tradisi ini umum ada di Kabupaten Lingga dan Tanjung Pinang. Secara umum dilaksanakan di wilayah kebudayaan Melayu Riau dan Kepulauan.

12) Perang Ketupat — Bangka Belitung, Kepulauan Bangka Belitung

Tradisi ini gelar di Desa Tempilang, Tempilang, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebelum memasuki bulan Ramadan diadakan prosesi saling melempar ketupat. Selanjutnya saling bersilaturahmi dan membagikan makanan.

13) Blangikhan — Bandar Lampung

Blangikhan atau Blangiran merupakan tradisi penyucian diri yang dilakukan di sumber-sumber air. Blangiran sama seperti Padusan di Jawa

14) Maggang — Sambas, Kalimantan Barat

Tradisi menyembelih hewan ternak untuk menu sahur pertama. Sahur pertama sangat spesial sebagai sarana berkumpul keluarga. Anggota keluarga yang ada di rantau rela pulang untuk berkumpul bersama keluarga pada acara Maggang. Rangkaian acara Maggang juga di gelar kegiatan membunyikan meriam bambu atau Laggum, juga memasak nasi Lemang bersama-sama.

15) Tradisi Bacahar Parut — Kebudayaan Banjar, Kalimantan Selatan

Jelang puasa Ramadan, para Tuan Guru dan keluarganya juga diikuti oleh masyarakat, melakukan pencaharan atau pembersihan perut dari racun-racun yang mengendap selama hampir setahun. Teknik tradisional pencaharan ini dinamakan Begurah.

Rangkaian kegiatan menyambut bulan Ramadan juga diramaikan dengan kegiatan Tradisi Pasar Wadai. Sejarahnya, pasar wadai merupakan aktifitas ekonomis masyarakat Banjarmasin dengan berdagang di sepanjang sungai dan tepian dengan menggunakan perahu. Kini, setelah pasar pindah ke darat turut meramaikan tradisi menyambut bulan Ramadan dengan menjual aneka Wadai, yakni; Wadai Lapis, Putri Selat, Amparan Tatak Pisang, Sarimuka, Kakaraban, Lapis Panganten dsb.

16) Keriang-Keriut — Kalimantan Tengah

Tradisi ini awalnya ada di kota Waringin Barat dan Pangkalan Bun, tepatnya di sepanjang sungai Arut. Tradisi ini untuk menggambarkan suara serangga dari lengkingan panjang sampai akhirnya berhenti. Untuk mengundang suara serangga dengan menyalakan lampu minyak yang ditaruh di atas tempurung kelapa dan ditopang bambu.

17) Bagarakan Sahur — Kotabaru, Kalimantan Selatan

Tradisi yang dilakukan oleh para santri atau anak-anak muda sebelum subuh, untuk membangunkan orang untuk menjalankan sahur. Dilakukan dengan aneka aktivitas kegiatan.

18) Pawai Ta’aruf — Balikpapan, Kalimantan Timur

Jelang pelaksanaan puasa Ramadan, masyarakat kota di Balikpapan melakukan Pawai Ta’aruf dan gelar Kampung Ramadan. Diikuti oleh beragam suku dan etnis yang telah membaur di provinsi Kaltim dari asal berbagai wilayah di tanah air.

19) Tradisi Tidung Malam Magong — Nunukan Kalimantan Utara

Tradisi ini dilakukan oleh suku Tidung, dengan menyalakan Magong atau lampu pada malam-malam di bulan Ramadan.

20) Qunutan Lilikuran — Serang, Banten

Tradisi Qunutan dan Lilikuran dilaksanakan di hari ke-15 bulan Ramadan. Qunutan merupakan sarana dakwah dan memakmurkan masjid. Sedangkan Lilikuran untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Keseluruhan dari acara ini disebut dengan istilah “Ngariung,” sebagai bagian dari menjalin tali silaturahmi serta meninggikan derajat keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan dan membagikan makanan dengan bersodaqoh.

21) Nyorog — Betawi, Jakarta

Silaturrahmi yang muda kepada yang tua (dituakan), dengan membagikan bingkisan berupa sembako atau makanan. Pada jaman dulu, tradisi Nyorog membagikan makanan khas Betawi, Sayur Gabus Pucung atau Sayur Godog Betawi.

22) Munggahan — Sunda, Jawa Barat

Munggahan dari kata unggah, yang artinya beranjak ke tempat yang lebih tinggi. Merupakan simbol meninggikan derajat keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan. Dilakukan dengan menjalin silaturahmi dan kegiatan membagikan makanan dan acara santap makan atau botram. Bagi masyarakat desa Citali, Kecamatan Pamulihan Sumedang, rangkaian kegiatan Munggahan dengan memasak kuliner Gembrong Liwet.

23) Kuramasan — Cianjur, Jawa Barat

Tradisi saling berbagi makanan dan bersilaturahmi, dilakukan oleh masyarakat adat di Kampung Adat Miduana, Cianjur, Jawa Barat.

(bersambung bagian 2 )

Resepsi Budaya Bhairawa Tantra dan Sadranan, hingga Slametan Kendurenan (1)
Rangkaian Spiritual Budaya Jawa, dari Bulan Rejeb hingga Sawal (1)
12 Kuliner Nusantara yang Mulai Langka

Terkait

Rekomendasi

Terkini