Legenda Buaya Putih di Kali Comal
Di samping menyuguhkan pemandangan yang menawan khas daerah pesisiran, sepanjang aliran sungai Comal juga di tumbuhi banyak pepohonan, di antaranya pohon Jati dan pohon Bambu terutama di daerah selatan.
Nusantarapedia.net, Pemalang, Jateng — Kali Comal atau Sungai Comal, adalah salah satu sungai besar di Jawa Tengah, di samping Sungai Bengawan Solo yang membelah kota Surakarta dan Sukoharjo. Ada pula Sungai Serayu di karesidenan Banyumas, Sungai Pemali yang merayap panjang di kota Brebes juga Sungai Progo yang berhulu di daerah karesidenan Kedu.
Kali Comal mengalir dari hulu di sebelah selatan kota Pemalang, tepatnya di kecamatan Randudongkal, kemudian melewati kecamatan Bantarbolang, Bodeh, terus ke utara melewati kecamatan Ampelgading, Comal dan bermuara ke laut utara pulau Jawa.
Di samping menyuguhkan pemandangan yang menawan khas daerah pesisiran, sepanjang aliran sungai Comal juga di tumbuhi banyak pepohonan, di antaranya pohon Jati dan pohon Bambu terutama di daerah selatan.
“Memang betul mas, banyak warga di sini masih percaya dengan cerita Buaya Putih yang menghuni sungai Comal, katanya, dahulu almarhum mbah Surip yang memberi makan buaya-buaya putih itu,”
Menyusuri sungai Comal, mulai dari sebelah utara Jembatan Besar kali Comal, tepatnya di pinggiran desa Jati Rejo, terasa berada di pedalaman pulau Kalimantan.
Betapa tidak, sepanjang pinggir aliran sungai (sempadan sungai) sebentang mata memandang di penuhi pepohonan jati dan bambu.
Beranjak ke sebelah utara desa Jati Rejo, memasuki desa Kebagusan, anda makin di suguhi dengan lebatnya pepohonan rumpun bambu, seketika kita bagai di bawa ke dalam suasana masa lalu, ketika pohon bambu begitu berarti bagi kehidupan masyarakat saat itu.
Ketika sampai di ujung utara perbatasan desa Kebagusan, awak NPJ di lapangan bertemu dengan salah seorang warga yang kebetulan juga lagi jalan-jalan “momong” mengasuh anak kecil dengan bermain.
Menurut Arum (40), jika sore hari menjelang maghrib, dia sering mengajak jalan-jalan anaknya biar ngga rewel, “dari pada main hp terus, saya takut efeknya mas, jadi saya ajak jalan naik motor menyusuri tepian sungai Comal,” jelasnya.
Masih menurut Arum, di samping pemandangannya yang lumayan alami dengan rumpun bambu yang tumbuh di sepanjang kali, ternyata juga menyimpan aura mistis di dalamnya.
“Memang betul mas, banyak warga di sini masih percaya dengan cerita Buaya Putih yang menghuni sungai Comal, katanya, dahulu almarhum mbah Surip yang memberi makan buaya-buaya putih itu,” terangnya.
Ketika di tanya siapa itu Mbah Surip, Arum melanjutkan ceritanya, “dulu adalah seorang tokoh ulama yang tinggal di dusun Sikandang, desa Kendaldoyong, kalau ngga salah masuk kacamatan Petarukan mas,” lanjut Arum.
“Makanya sampeyan hati-hati naik motornya, menyusuri tepian sungai Comal, apalagi ini waktunya mau maghrib,” pesan Arum, sembari berpamitan mau momong, karena anaknya mulai rewel.
Terlepas benar atau tidaknys cerita tentang Buaya Putih penghuni sungai Comal, yang jelas di sepanjang aliran sungai Comal merupakan tempat yang potensial jika di garap sebagai destinasi wisata. Mungkin lebih cocok sebagai rute goes sepeda, karena puluhan kilometer mulai dari bawah jembatan besar sungai Comal ke utara tidak ada sengat matahari yang menimpa, karena terhalang lebatnya pohon bambu dan jati.
Jalan setapaknya cukup bagus buat bersepeda atau jalan kaki, tak ada hawa panas membakar tubuh, semilir angin laksana kipas ac alam tiada henti menerpa, bunyi berisik dedaunan pohon terkena tiupan angin, serta deritan batang pohon bambu yang saling bergesekan. Bunyinya membikin bulu kudu merinding, apalagi di waktu senja, terlebih di tempat tersebut juga terdapat pemakaman umum.
Duh … sungguh pemandangan yang indah dan menenangkan, tapi bercampur dengan rasa takut, serta bau aroma bakaran kemenyan dari tempat pemakamam penduduk desa. Hari beranjak petang, matahari pun kian menghilang, senja kala membawa pada malam hampir tiba. (Ragil74)
Angkringan atau Wedangan dan Budaya Jagongan
Curug Manglid, Pesona Alam Asri
12 Kuliner Nusantara yang Mulai Langka
Rekomendasi
-
Gloomy Sunday, Lagu Kematian hingga Bunga Terakhir Bebi Romeo
27 Januari 2022, 13:42 WIB -
Sejarah Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia
15 November 2021, 09:14 WIB -
Arsitektur Sebagai Perwujudan Nilai-Nilai Islam
24 Desember 2021, 03:59 WIB -
Trend Lapor Polisi, di Era Masyarakat Digital
8 Februari 2022, 10:44 WIB -
Suhardi, Pria Tua Bermental Baja, Naik Sepeda Blora-Jakarta
19 Maret 2022, 07:41 WIB



