Pencak Silat, Tradisi Pendekar Atraksi Seni hingga Cabang Olahraga

31 Januari 2022, 20:24 WIB

Nusantarapedia.net - , Tradisi Pendekar Atraksi Seni hingga Cabang Olahraga

Beribu pulaunya Nusantara, merupakan kawasan di Asia Tenggara yang mempunyai banyak ciri khas dalam kebudayaan dunia. Sangatlah beragam adat istiadatnya, suku bangsa, bahasa dan ihwal kulturalnya.

Mobilitas antar pulau sudah dilakukan sejak jaman kuno dengan tradisi maritimnya, setidaknya awal tahun masehi sudah membentuk menjadi tata laksana hidup.

Gambaran mobilitas pelayaran seperi yang terdapat pada relief candi Borobudur berupa kapal bercadik, yang mana candi tersebut dibangun abad ke-8, berarti hubungan antar pulau di Nusantara dan dunia sudah ada sebelumnya yang kemudian di gambarkan dalam relief tersebut.

Sudah menjadi ciri alami bahwa keberadaan entitas atau kelompok masyarakat yang berkoloni akan menguasai kelompok lainnya, baik secara teritori maupun penguasaan kultural.

Tidak hanya berlaku bagi kelompok kecil, terlebih suku-suku di Nusantara sudah membentuk menjadi kerajaan-kerajaan institusi yang tentunya telah mempunyai struktur dan bentuk tatanannya. Kerajaan Salakanagara, Kutai Kartanegara, Sriwijaya, Tarumanegara, Medang contohnya.

Polish 20220131 155227521
dalam definisi modern saat ini adalah, merupakan olahraga yang memadukan unsur seni dan kekuatan. Berasal dari negara Indonesia yang digali dari ragam asal kepulauan Nusantara.

Rawan gesekan, saling berperang untuk memperebutkan hegemoni kekuasaan sangat sering terjadi, bahkan dengan intensitas yang tinggi. Dilakukan antar kerajaan di dalam pulau maupun antar pulau. Gesekan fisik tersebut juga dilakukan person to person maupun entitas masyarakat.

Dari landasan diatas, melahirkan para  pendekar, ksatria, jawara, senopati, centeng untuk membela, memperebutkan dan menguasai kelompok lainnya dengan kontak fisik melalui medan peperangan.

Perang yang terjadi dengan serangkaian pertempuran yang mewakili militer kerajaan, melahirkan armada angkatan perang yang kuat bagi kerajaan. Dilain sisi, kompleksitas masalah sosial yang membawahi individu atau kelompok didalamnya berdinamika atas banyak kepentingan.

Perebutan lahan ekonomi, kekuasaan teritori dan masalah sosiologis lainnya, mendorong utamanya para pria menjadi orang-orang yang kuat secara fisik dan mental.

Pembentukan kultur seperti diatas, sebelumnya dipengaruhi oleh kondisi geografi, seperti budaya berburu, mempertahankan diri dari cuaca ekstrim dan faktor lainnya.

Maka tak  heran, gerakan dalam pencak silat merupakan duplikasi dari gerakan binatang, seperti; harimau, ular, elang maupun kera.

Polish 20220131 155729241
Pencak silat tidak hanya mengenai olah tubuh saja yang menggabungkan banyak unsur kedalam beberapa fungsi, tetapi juga berhubungan dengan spiritual.

Ragam Pencak Silat di Indonesia juga menggabungkan dengan senjata tradisional seperti tombak, perisai, parang, kujang dan senjata tradisional lainnya, terutama dalam atraksi seninya, mesti fungsi diawal tetap sebagai senjata untuk melukai atau membunuh.

Dengan demikian, Pencak Silat lahir di Nusantara berangkat dari dasar diatas. Pada akhirnya menjadi ciri khas sebagai budaya Indonesia.

Definisi Pencak Silat

Pencak Silat dalam definisi modern saat ini adalah, merupakan olahraga yang memadukan unsur seni dan kekuatan. Berasal dari negara Indonesia yang digali dari ragam pencak silat asal kepulauan Nusantara.

Pencak Silat dari etimologi kata “pencak,” dan “silat.” Di Asia Tenggara, olahraga ini dikenal dengan istilah “silat,” sedangkan menjadi kalimat “pencak silat” merupakan istilah khas Indonesia.

Tahun 1948 istilah “pencak silat” resmi menjadi definisi olahraga khas Indonesia, yang mana merupakan penyatuan aneka ragam “silat,” yang tersebar diseluruh Indonesia.

Kata “pencak,” merujuk pada penggunaannya pada wilayah kebudayaan Jawa, yaitu bagian tengah dan timur. Untuk kata “silat,” lebih luas lagi digunakan pada wilayah kebudayaan Melayu (Sumatera-Kalimantan-Sulawesi), dan terutama di Semenanjung Malaya sampai budaya Betawi-Sunda.

Dari gabungan dua kata tersebut, kata “pencak,” lebih pada ekspresi seni, berupa unsur keindahan gerak atau tari-tarian. Sedangkan kata “silat,” lebih pada unsur fisik mengenai teknik dan metode membela diri maupun untuk pertarungan.

Menurut Donald F. Draeger, seorang peneliti Silat berpendapat, bukti adanya seni dapat dilihat dari berbagai artefak, relief candi maupun senjata tradisional pada masa klasik (Hindu-Buddha).

Pencak silat tidak hanya mengenai olah tubuh saja yang menggabungkan banyak unsur kedalam beberapa fungsi, tetapi juga berhubungan dengan spiritual.

Relief pada candi Borobudur dan Prambanan mengetengahkan sebuah gerakan dengan sikap kuda-kuda, sebagai ciri khas gerakan dasar pada pencak silat umumnya.

Sementara, Sheikh Shamsuddin berpendapat, Pencak Silat di Indonesia dipengaruhi oleh ilmu dari Tiongkok dan India, yang mana kedua kebudayaan tersebut telah lama berada dikawasan Melayu.

Diperkirakan, penyebaran ilmu Silat ke seluruh Nusantara terjadi pada abad ke-7, tidak diketahui pasti apakah dimulai oleh kerajaan Sriwijaya, Medang atau Singhasari-Majapahit, yang jelas dinamika didalamnya berkembang saling mempengaruhi.

Penggambaran dalam naskah Pararaton dan Negarakertagama telah mencatat adanya para pendekar-pendekar atau ksatria yang digdaya sakti mandraguna. Baik untuk peran ksatria kerajaan, para bandit maupun perusuh keamanan.

Kisah mengenai Dharmaputra, adalah sebuah jabatan yang dibentuk oleh Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Jabatan tersebut hampir seperti pengawal istimewa Raja.

Terdiri dari tujuh pendekar, yaitu; Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Namun akhirnya, semuanya tewas akibat pemberontakan untuk mengkudeta Raja saat pemerintahan Majapahit ke-2, Jayanagara.

Pada masa tersebut, Pencak Silat masih dalam bentuknya sebagai fungsi maupun perang, teknik didalamnya termasuk olah ilmu Kanuragan (tenaga dalam) dan teknik gerakan fisik.

Pasca pemerintahan Majapahit, Islam lahir dengan puncak kebudayaannya pada masa Mataram Islam, maka semakin membentuk menjadi ilmu bela diri yang lengkap.

Lahirnya para Senopati-Senopati Jawa, tak jauh dengan gambaran kekuatan personal dengan segenap kelebihan ilmu beladiri fisik maupun olah kanuragan dalam semangat hegemoni kekuasaan maupun bela negara.

Panembahan Senopati sebagai pendiri Kesultanan Mataram, Sultan Agung yang anti pada VOC, juga Pangeran Sambernyawa dan Mangkubumi sebagai simbol perlawanan monarki Jawa pada VOC.

Begitu juga nama-nama seperti Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Dewi Sartika dan tokoh pejuang lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, Silat lebih merujuk pada wilayah kebudayaan Melayu. Di Semenanjung Melayu, Singapura dan sekitarnya disebut sebagai “gayong,” atau “cekak,” kebudayaan Thailand menyebutnya “bersilat,” Filipina menyebutnya dengan “pasilat.”

Pada kebudayaan Minangkabau silat disebut dengan “silek,” kemudian berlanjut sampai ditanah Pasundan dengan lahirnya silat gaya Cimande atau Cikalong.

Hingga akhirnya silat menyebar keseluruh wilayah Nusantara dengan pengaruh ketokohan setiap daerah yang berbeda-beda, sesuai dengan karakter dan gaya masing-masing daerah, pada era dan masa yang berbeda pula, namun masih dalam genealogi rumpun yang sama.

Pencak Silat dalam Fungsi Seni

Silat lalu berkembang dari ilmu beladiri menjadi seni tari rakyat. Hampir keseluruhan daerah di Nusantara mempunyai atraksi seni Pencak Silat.

Hal inilah yang kemudian, istilah “pencak” digunakan lebih pada bentuk seni dengan penggabungan kata silat.

Seni pertunjukan Ketoprak Mataraman atau Jawa Timuran selalu menghadirkan adegan perang yang digambarkan dengan bentuk tarian yang indah. Jadi, kata “pencak,” diartikan juga sebagai bentuk “perang-perangan,” perang kontak fisik yang tidak nyata.

Budaya Minangkabau dengan tarian Randai yang gerakannya dari teknik bela diri Silek. Orang Betawi punya atraksi Palang Pintu dalam tradisi perkawinan adat.

Pencak Silat dalam mediumnya sebagai atraksi seni telah menyebar keseluruh wilayah Nusantara dengan kekhasannya masing-masing.

Pencak Silat sebagai Cabang Olahraga

Tahun 1948, lahirnya induk organisasi pencak silat, yaitu Ikatan Pencak Silat Indonesia (). Karena Pencak Silat secara luas juga milik negara-negara di Asia Tenggara, maka lahirlah Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat), dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Bertujuan untuk mewadahi federasi pencak silat di negara serumpun.

Pencak silat yang telah membentuk menjadi cabang olahraga dengan standarisasi tertentu, juga atas landasan sejarahnya, maka ditetapkan sebagai warisan budaya non-benda.

Indonesia memperoleh penetapan tersebut pada 12/12/2019 oleh The United Nation Educational Scientific and Cultural Organization atau UNESCO.

Pencak Silat sebagai cabang olahraga telah dilombakan dalam ajang resmi kejuaraan olahraga. Pekan Olahraga Nasional (PON), mempertandingkan Pencak Silat dalam event yang dihelat tiap empat tahun sekali, juga Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games), yang mana sejak tahun 1987 Pencak Silat sudah dilombakan.

Saat ini, masih dalam proses agar olahraga Pencak Silat dilombakan dalam pesta OLIMPIADE, sebagai pesta olahraga dua tahunan dunia.

Polish 20220131 154728495
Secara umum pencak silat merupakan gabungan dari teknik bela diri, seni dan gabungan kekuatan pukulan dan tendangan

Teknik dan Metode Pencak Silat

Secara umum pencak silat merupakan gabungan dari teknik bela diri, seni dan gabungan kekuatan pukulan dan tendangan.

Menurut Asep Kurnia Nenggala dalam bukunya Pendidikan Jasmani dan Kesehatan menjelaskan, teknik bela diri yang dimaksud sebagai bentuk pertahanan menggunakan kekuatan tangan, kaki, tumit, siku, jari-jari serta kepala.

Aneka gerakan pertahanan dalam pencak silat disebut dengan teknik kuncian, lepasan, sikutan, tendangan juga serangan menggunakan lutut. Beberapa teknik dasar Pencak Silat, diantaranya;

(1) Teknik Kuda-kuda

Terbagi menjadi bermacam-macam posisi kuda-kuda. Teknik kuda-kuda depan, kuda-kuda tengah, belakang, samping, silang dan gabungan kuda-kuda depan dan belakang.

Fungsi dari sikap kuda-kuda untuk menjaga keseimbangan saat menyerang maupun bertahan. Membutuhkan kekuatan bagian kaki karena dalam posisi menapakkan kedua kaki dalam posisi sempurna.

(2) Teknik Sikap Pasang

Merupakan sub-posisi kuda-kuda, yang mana digunakan dalam situasi yang fleksibel menurut kebutuhan, baik dalam posisi menyerang maupun bertahan.

(3) Tangkisan

Teknik dasar yang tidak kalah penting selain posisi kuda-kuda adalah Tangkisan. Teknik ini membutuhkan kekuatan tangan secara keseluruhan untuk menangkis serangan lawan.

Ada teknik tangkisan dalam, tangkisan luar, atas dan bawah.

(4) Pukulan

Fungsinya jelas untuk menyerang lawan. Terdiri dari beberapa variasi pukulan, yaitu; pukulan lurus, tegak, bandul dan pukulan melingkar.

(5) Tendangan

Terdapat empat variasi tendangan, yaitu; tendangan lurus, tendangan sabit, berbentuk T, jejak dan tendangan belakang.

(6) Guntingan

Merupakan teknik untuk menjatuhkan lawan, yang mana posisi lawan dalam posisi kuda-kuda. Metode guntingan dengan kaki berlawanan dan menjepit adalah gerakan efektif untuk membongkar kokohnya kuda-kuda lawan dengan variasi guntingan, yaitu; guntingan depan, belakang, samping dan atas.

(7) Arah

Merupakan teknik menentukan posisi arah saat menyerang dan bertahan. Insting pemain dibutuhkan untuk mencari celah agar maksimal dalam menjatuhkan lawan maupun bertahan.

(8) Pola Langkah

Merupakan lanjutan dari teknik arah, dengan mengambil bermacam-macam pola langkah sesuai kebutuhan. Ada pola lurus, zig-zag, U, S, segitiga maupun segi empat.

Pencak Silat telah mengharumkan nama bangsa, seyogyanya kiprah Pencak Silat Indonesia terus berprestasi dalam event kejuaraan, mengingat historiografinya sebagai kebanggan Nasional.

(disarikan dari beberapa sumber)

Terkait

Rekomendasi

Terkini