Peradaban Palestina-Israel dalam Linimasa, Masa Abraham hingga Nabi Muhammad (3)
Pada kesimpulannya, benar saja bahwa tanah Palestina Israel merupakan pusat kebudayaan dunia. Disitulah terdapat korelasi pembentukan agama-agama monotheisme. Antara Yahudi, Kristen dan Islam terdapat benang merah.
Nusantarapedia.net — Peradaban Palestina-Israel dalam linimasa, masa Abraham hingga Nabi Muhammad.
6) Tahun 141–37 SM era Kerajaan Hasmonea atau Kerajaan Israel Hashmonayim.
Kerajaan Hasmonea merupakan kerajaan terakhir oleh hegemoni Yunani kuno. Selanjutnya timbul kerajaan baru, penguasa-penguasa baru sebagai era baru oleh dinasti Romawi. Sebagai kesimpulan lahirnya kerajaan Romawi.
—-
Dinasti Romawi
- Kerajaan Romawi (753-509 SM)
- Republik Romawi (509-27 SM)
- Kekaisaran Romawi (27 SM-476 M)
Dimulainya masa Romawi, merupakan negara Yahudi merdeka di Israel yang sebelumnya menjadi bagian dari Seleukia Makedonia-Persia.
Didahului oleh Yudas Makabe ketika mengalahkan pasukan Seleukia (165 SM), saat diperintah raja Antiokhos IV, juga adanya kekosongan kekuasaan Romawi di Suriah karena konflik internal. Simon Makabe mendirikan kerajaan ini. Tonggak kembalinya ajaran Yudaisme terjadi pada era pemerintahan ini.
Pada masa ini, Julius Caesar Romawi memainkan peranan penting dalam kampanye militer Romawi, perang terbuka maupum proxy dilakukannya. Herodes Romawi menggulingkan Hasmonean pada tahun 37 SM.
“Secara spiritual, Tuhan telah memberikan pengajaran kepada umat agar kehidupan di dunia menjadi baik. Pewahyuan tersebut kepada para Nabi-Nabi dan Santo telah diwahyukan kepada umat pilihan dalam rentang waktu 2632 tahun, yang kemudian menjadi imam di agama masing-masing sebagai Nabi dan Santo, utusan-utusan dari Tuhan.”
7) Kerajaan Herodian kekaisaran Romawi di Yudea 37 SM-4 SM
Merupakan provinsi dari kekaisaran Romawi, berbentuk pemerintahan administratif dari Republik Romawi. Wilayahnya bekas kerajaan Hasmonea, yaitu; Yudea, Israel Samaria (Kanaan : Palestina), ditambah Idumea.
Raja yang terkenal Herodes Agung, menggunakan konsep agama Romawi dan konsep Yudaisme, namun semakin terdesak dengan berkembangnya gereja-gereja.
Era ini dibangunnya Tembok Ratapan “Bait Suci” tahun 19 SM oleh Herodes Agung. Namun kembali hancur ketika Yahudi memberontak kerajaan Romawi pada tahun 70 Masehi.
8) Kekaisaran Romawi Tetrarki Herodian (4 SM-44 M)
Tetrarki berarti empat penguasa, seperti bentuk negara federal. Semenjak kematian Herodes Agung, digantikan oleh Herodes Archelaus dan terakhir raja Agripa I. Pada masa ini daerah kecil banyak dianeksasi menjadi wilayah Roma.
Tokoh yang terkenal pada masa ini, Philip dan Caligula. Era Romawi Tetraki ini dengan kebijakan perubahan bentuk dan struktur pemerintahan Romawi di negara induk Roma dan negara vasal.
Pada periode ini Yesus Kristus dilahirkan tahun 4 SM di Betlehem Yudea, besar di Nazaret, Galilea Yerusalem utara.
9) Provincia Ivdaea (Yudea) dari Kekaisaran Romawi (6 M-135 M)
Penguasa wilayah di bawah Raja Agripa II, oleh;
• 6-9 M Coponius (I)
• 130-132 M Tineius Rufus (V)
Peristiwa Besar Kekristenan awal muncul pada masa ini dengan beberapa peristiwa besar, diantaranya;
• Penyaliban Yesus (30-33 M)
• Penghancuran Bait Suci ke dua, 70 M
Periode I penghapusan bangsa Yahudi, dengan puncaknya pada peristiwa Bar Kokhba oleh kekuasaan Romawi.
Masa ini merupakan ajang tiga perang besar, pemberontakan Yahudi dengan Romawi;
1) Perang Yahudi-Romawi I (66-73 M)
- Panglima perang Romawi oleh Titus Flavius.
- Pada saat pemerintahan Nero, disebabkan ketegangan agama Romawi dengan agama para Yahudi, serta kepemimpinan Romawi yang semena-mena terhadap kaum Yahudi.
- Kuil-kuil ibadah Yahudi dihancurkan, termasuk penghancuran Bait Suci (70 M)
- Korban meninggal dari perang ini berjumlah 350.000, pihak Yahudi paling banyak, yang terdiri dari para petani, milisi dan negara bawahan Galilea yang mendukung Yahudi.
- Pemberontakan Yahudi kalah.
- Gereja awal dimulai dalam periode 30-34 M, kematian dan kebangkitan Kristus, selanjutnya dibangunnya Gereja Makam Kudus di Jerusalem.
- Peristiwa pengepungan Jerusalem saat Yahudi Yudea mendiami Bait Suci tahun 66-70 M yang dilakukan oleh pasukan Romawi, mengakibatkan etnis Yahudi harus eksodus keseluruh eropa. Atas peristiwa ini melahirkan ragam etnik Yahudi modern, seperti Yahudi Sephardik di Eropa Selatan, Azhkenazi bergenetik Eropa Barat, Bukhari di Asia Tengah dan Yahudi Mizrahi Arab di Timur Tengah.
2) Pemberontakan Bar Kokhba (132-135 M)
- Perang Yahudi-Romawi jilid II
- Bagian dari Perang Kitos (115-117 M), akibat kekuasaan Jenderal Quintus Lucius Quietus yang diktator.
- Panglima perang Romawi, Simon Barkokhba dan Sextus Julius Severus (Inggris)
- Tahun 131 M gubernur Yudea Tineius Rufus melakukan upacara peletakan batu pertama Aelia Capitolina, nama baru pengganti kota Yerusalem sebagai kota “Bait Allah”, diganti sebagai area penyembahan kepada Yupiter, akibatnya terjadi kemarahan kaum Yahudi.
- Hadrianus melarang praktik “sunat” yang sudah diwariskan dari leluhur Bani Israel.
- Pada masa ini, setelah bait suci hancur, Mahkamah Agama Yahudi (Sahderin) di kota Yamnia menjadi pusat keberlanjutan ajaran dan entitas Yudaisme.
- Saat perang ini, dipimpin oleh Simon Bar Kokhba Romawi. Mahkamah Sahderin dihasut oleh kelompok-kelompok Yahudi bahwa pemimpinnya mengklaim sebagai Mesias Kristen, padahal sebelumnya Sahderin telah menghukum dan menetapkan Yesus sebagai Mesias Kristus atau juru selamat bagi orang-orang Yudhaisme (era ini Kristen sebuah sekte bagian dari Yudaisme).
Akibat hasutan ini, bertujuan untuk melemahkan bangsa Yahudi Kristen dengan memisahkan antara Yudaisme Yahudi dan sekte Kristen Yahudi, yang sebenarnya satu akar. Akibatnya pembelahan terjadi antara Yudaisme Yahudi dan sekte Kristen, yang pada akhirnya melemahkan keduanya.
Upaya diaspora/bedol desa bangsa Yahudi dan sekte Kristen terus dilakukan. Bar Kokhba juga memutus ajaran Yudaisme dan orang-orang Yahudi (Bani Israel), dengan mengubah nama Yerusalem menjadi Aelina Capito, dan menamakan daerah ini (Yehuda) yang bermula Kanaan dikembalikan menjadi nama Syiria Palaestina.
Romawi membuka luka lama, membenturkan kembali rivalitas Yehuda dengan Palestina (Kanaan-Felistin). Atas peristiwa ini, bangsa Yahudi Yudhaisme dengan konsep Yahudi semakin menghilang, sekte Kristen bangsa Yahudi berkembang, dan sisa-sisa kesukuan Palestina (Kanaan dan Filistin) dihidupkan kembali.
Orang Yahudi tidak diijinkan masuk ke Yerusalem, kemudian diijinkan setahun sekali untuk meratapi nasibnya di “Tembok Ratapan” atas kekalahan dengan bangsa Palestina, padahal hanya upaya menciptakan permusuhan, sebab Romawi sendiri yang menghancurkan Yahudi Yudaisme.
Dalam peristiwa ini 580.000 orang Yahudi terbunuh, 50 kota benteng dan 985 desa hancur.
Secara umum, peristiwa ini sebagai perang dominasi Yahudi dan Kristen, yang dimainkan oleh Romawi, dengan membuka luka lama Palestina Yehuda, dan menghapus keberadaan bangsa Yahudi Bani Israel, tujuannya tak lain untuk oligarki Romawi.
Rabi Akiba memimpin Mahkamah Sanhedrin. ritus keagamaan Yahudi dihidupkan kembali, upacara Korbanot (penyerahan kurban) dilakukan kembali di altar. Upaya dilakukan untuk memulihkan Bait Allah di Yerusalem, namun dalam skala yang kecil, karena tidak dilakukan secara institusi kekaisaran, juga demografi bangsa Yahudi sendiri yang semakin sedikit.
10) Pemerintahan Suriah-Palestina, Provinsi Kekaisaran Romawi 135-390 M
Dibentuk oleh Kaisar Hadrian Romawi. Konflik dengan Sassaniyah dan munculnya kerajaan Palmyrene sebagai cikal bakal lahirnya Bizantium, dan jatuh pada Kekaisaran Bizantium.
Pada era ini Romawi kembali mengkerdilkan komunitas Yahudi Gereja, komunitas meminta perlindungan kepada Arab Moslem.
“Ini menghasilkan paradoks yang benar-benar penting secara historis bahwa sementara Kristen Yahudi ditelan dalam gereja Kristen, ia tetap dipertahankan dalam Islam.”
Meski demikian teologi Yudaisme dan Kristen (Yahudi-Kristen) tetap dipraktekkan di semua daerah jajahan Romawi meski dengan sembunyi-sembunyi. Helenisasi Yahudi-Kristen di Palaestina berlanjut di bawah Septimius Severus (193-211 M).
Hal ini merupakan tonggak besar yang mengubah alur peradaban dunia, meskipun Yahudi dan Kristen terus dimatikan, namun helenisasi teologi ini melekat di kebudayaan kolonial (bahkan Eropa) yang menyebabkan konsep teologi ini terus melekat pada orangnya, sekalipun wujud kebudayaannya dihancurkan.
Justru banyaknya tawanan keturunan Bani Israel yang dibuang keseluruh benua, menjadikan perkembangan konsep Yahudi-Kristen tetap tersambung dan mendunia, meskipun itu dalam bentuk “helenisasi”.
Pada masa ini, Dinasti Arsakid di Armenia (301 M) telah mematenkan agama Kristen sebagai agama negara, juga di Caucasian Iberia atau Republik Georgia tahun 319 M, Kekaisaran Aksum di Etiopia tahun 325, dan Kekaisaran Romawi pada tahun 380 M.
Pemberkatan Gereja Makam Kudus, tempat kebangkitan Yesus dari kematian, selesai dibangun tahun 325/326 M, dengan gaya arsitektur Bizantium.
Tahun 326 M, gereja Santo Petrus dibangun, selanjutnya menjadi “Takhta Suci”, keuskupan Vatikan di Italia.
Selanjutnya, pemerintahan Suriah-Palestina dipecah menjadi dua, yakni;
1) Palaestina Prima
Provinsi Keuskupan Timur, Kekaisaran Bizantium (390-636 M)
Peristiwa besarnya;
• Pemberontakan Samaria 484-572 M
• Pendudukan Persia dan Yahudi 614-628 M
• Penaklukan Muslim di Suriah 636
(akses pertama kali konsep moslem berawal)
2) Palaestina Secunda
Provinsi Keuskupan Timur, Kekaisaran Bizantium (390–636)
Pertobatan konstantin dari agama polytheisme keajaran ketuhanan, mendorong dibukanya kembali kota Yerusalem untuk pusat-pusat keagamaan.
Upaya pemerintah mendorong orang-orang kembali ke Palestina dengan kekristenan namun tidak berhasil, hingga dibukanya kota Nazareth untuk pemukiman bagi siapa saja yang menganut aliran Kristen.
Pembangunan gereja tumbuh sumbur dan berdampingan dengan Sinagoga Yahudi.
Tonggak besar pada era ini, kelahiran Nabi Muhammad SAW di Mekah tahun 570 M, dan meninggal di Madinah 632 M. Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah tahun 622 M. Banyak peristiwa besar pewahyuan yang diterima oleh Nabi Muhammad, seperti peristiwa Nuzululquran di malam Lailatulqadar, turunnya wahyu al-Quran yang pertama tahun 603 M. Dimulai oleh Nabi Muhammad, Islam berkembang menjadi agama besar di dunia.
Melihat road map di atas, dari Masa Abraham tahun 2000 SM hingga meninggalnya Nabi Muhammad tahun 632 M, atau berlangsung selama 2632 tahun proses kelahiran agama monotheisme.
Proses pewahyuan ataupun perjalanan spiritual para tokoh sebagai Nabi atau Santo telah diterima melalui perjalanan hidup yang panjang penuh pergulatan, hingga menjadi rumusan teologi dan lahirnya agama-agama institusi sebagai kesadaran dan upaya menuju perbaikan dan kebaikan umat manusia.
Wajar saja, proses pewahyuan yang terjadi selama 2632 tahun telah melahirkan klaim pembenaran atas kefahaman masing-masing yang dianggapnya benar.
Dalam rentang waktu yang begitu lama, penulisan pewahyuan tersebut menjadi susunan kitab suci tentu ditafsirkan dan ditulis versi masing-masing. Pewarisan yang begitu lama tentu berpotensi berubah teks salinannya.
Dengan demikian, setiap penganut spiritual agama kekeuh dengan keyakinannya masing-masing atas kebenaran apa yang diyakininya sebagai firman-firman dan dogma dari apa yang diterima generasi dari proses pewarisan yang panjang tersebut. Tentu, dinamika terjadi.
Selain itu, peran kerajaan-kerajaan menjadi sangat penting dalam pembentukan agama-agama tersebut. Pergolakan institusi untuk hegemoni kekuasaan tidak dapat dipisahkan dengan kefahaman yang dianutnya.
Pada kesimpulannya, benar saja bahwa tanah Palestina Israel merupakan pusat kebudayaan dunia. Disitulah terdapat korelasi pembentukan agama-agama monotheisme. Antara Yahudi, Kristen dan Islam terdapat benang merah.
Secara spiritual, Tuhan telah memberikan pengajaran kepada umat agar kehidupan di dunia menjadi baik. Pewahyuan tersebut kepada para Nabi-Nabi dan Santo telah diwahyukan kepada umat pilihan dalam rentang waktu 2632 tahun, yang kemudian menjadi imam di agama masing-masing sebagai Nabi dan Santo, utusan-utusan dari Tuhan.
Selesai
gambar: source wikipedia
(Diolah dari beberapa sumber)
Peradaban Palestina-Israel dalam Linimasa, Masa Abraham hingga Nabi Muhammad (1)
Geopolitik dan Strategi Sultan Agung Menuju Kejayaan Nusantara di Pentas Dunia (3)
Menuju Indonesia Maju dengan Merubah Kultur
Rekomendasi
-
Tradisi Nyadran di Desa Penusupan
28 Maret 2022, 18:11 WIB -
Candi Sojiwan, How Beautiful Klaten’s Herritage!
16 Januari 2022, 16:33 WIB -
Pembangunanisme, Rumah Berlindung Pemekaran Daerah (2)
21 Februari 2022, 20:57 WIB -
Tinjauan Kritis Beban Perempuan dengan Anak Penyandang Disabilitas
14 Februari 2022, 00:01 WIB -
Putak Laka, Kudapan Nikmat Khas NTT
5 Januari 2022, 04:37 WIB





