Perempuan dan Kerentanan Gangguan Mental

Pada dasarnya, gangguan mental perempuan itu disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor, yaitu: biologi, psikologis, dan sosial.

31 Maret 2022, 06:21 WIB

Nusantarapedia.net dan Kerentanan Gangguan Mental. Beberapa hari terakhir media diramaikan dengan berita seorang ibu yang tega menggorok leher ketiga anaknya hingga satu anak tewas dan dua lainnya kritis.

Ini bukan fenomena baru karena beberapa kejadian serupa sudah terjadi sebelumnya. Sama, seorang ibu pelakunya.

Tahun 2020, seorang ibu bunuh 3 orang anaknya di Nias. Di tahun yang sama seorang ibu bunuh diri setelah membunuh 2 orang anaknyadi Palembang. Di tahun yang sama pula, seorang ibu membunuh anaknya yang berusia 3 bulan di NTT.

Flash back 12 tahun lalu, tahun 2010, seorang ibu ajak anaknya untuk bakar diri di Yogyakarta. Tahun 2021, seorang ibu bunuh diri setelah membunuh 2 anaknya dengan diracun di Bandung. Kasus Kanti Utami merupakan kasus yang menambah deret kasus pembunuhan yang dilakukan bernama ibu.

Dari banyaknya kasus, hampir semua mengaku mendapat bisikan ghaib. Setelah dilakukan pemeriksaan kejiwaan semua mengalami depresi dalam tingkat yang sangat memprihatinkan.

“Ciri yang paling mudah dikenali dari kondisi mental yang tidak sehat yaitu perasaan selalu malas berbuat sesuatu, kondisi tubuh merasa selalu capek, isi pikiran dan hati diliputi perasaan iri, dengki, curiga, dan pikiran-pikiran aneh lain dan selalu diliputi keinginan-keinginan yang tidak masuk akal (irrasional)”

Ada apa ini? Apakah permasalahan sudah sedemikian merampas kewarasan seorang perempuan hingga ia melakukan agresi pada dirinya sendiri?

Memang, data WHO pun mengungkapkan bahwa perempuan dua kali lipat lebih mempunyai kecenderungan untuk depresi. Dan depresi ini mempengaruhi tingkat keinginan untuk mengakhiri hidup.

Terlebih didukung oleh system yang unsupport, lingkungan yang buruk, kultur bullying yang kental, semua itu jelas akan memperpuruk keadaan seoarang perempuan.

System yang tidak mendukung ialah linkungan terdekat di mana ia tumbuh yang tidak mendukung seoranag perempuan. Misalnya, keluarga yang mengucilkan, orang tua yang keras dan menekan secara psikis.

Bisa juga suami yang tidak memiliki kepekaan terhadap urusan kerumah tanggaan, nyaris semua beban kerumah tanggaan termasuk pembiayaan-pembiayaan hidup diserahkan pada istri, tidak memiliki kedekatan emosi pada istri dan anak-anak, bersifat dingin dan enggan memenuhi kebutuhan batin istri, sifat diri yang introvert, dan lingkungan pertemanan yang toxic.

Gangguan pada perempuan tidak begitu saja terjadi. Ini akibat pola asuh, pola interaksi yang tak sehat. Gangguan seperti akumulasi dari persoalan-persoalan inheren yang tak dikeluarkan, menumpuk dan menekan.

Manifestasinya pada kerja organ yang tak selaras, mengalami gangguan selera makan yang berimplikasi pada kesehatan.

Dr. Kartini Kartono gangguan mental (mental disorder) ialah bentuk penyakit atau gangguan dan kekacauan fungsi mental atau yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan; sehingga muncul gangguan fungsional atau gangguan strukural dari satu bagian atau lebih dari sistem kejiwaan.

Sementara Zakiyah Daradjat, mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa; gangguan mental adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak wajar (normal) baik yang berhubungan dengan fisik (tingkah laku), kepribadian, kejiwaan, maupun psikis (psikologis). Orang yang terganggu mentalnya biasanya, pikirannya pendek, tidak memiliki pandangan hidup yang luas, sikap hidupnya penuh perasaan pesimis.

Ciri yang paling mudah dikenali dari kondisi mental yang tidak sehat yaitu perasaan selalu malas berbuat sesuatu, kondisi tubuh merasa selalu capek, isi pikiran dan hati diliputi perasaan iri, dengki, curiga, dan pikiran-pikiran aneh lain dan selalu diliputi keinginan-keinginan yang tidak masuk akal (irrasional).

Dari ciri-ciri yang dikenali, menjadi tak mengherankan jika penderita gangguan jiwa sering mengaku mendapat bisikan ghaib.
Pada dasarnya, gangguan mental perempuan itu disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor, yaitu: biologi, psikologis, dan sosial.

Faktor biologis, gangguan mental disebabkan karena keturunan atau genetik, kelainan bawaan selama di kandungan, nutrisi buruk, riwayat trauma kepala dan gangguan syaraf atau anatomi tubuh.

Faktor psikologis, berkaitan dengan hubungan pertemanan, konsep diri, keyakinan, agama, tingkat emosional. konsep diri adalah cara seseorang memandang sebuah persoalan dan bagaimana keluar dari persoalan tersebut. Konsep diri biasanya tak lepas dari keyakinan yang dimiliki.

Banyak kelompok yang mengatakan seorang ibu yang tega membunuh anaknya karena kurangnya iman. Asumsi ini tidak bisa disalahkan karena faktanya keyakinan menyumbang besar terhadap cara pandang seseorang terhadap persoalan-persoalan hidup.

Iman di sini bisa diartikan kepercayaan, keyakinan. Keyakinan mendorong seseorang untuk mensugesti diri tentang hal-hal baik yang akan diraih. Misalnya; jika hari ini jualan tidak laku banyak, maka esok pasti laku.

Keyakinan ini akan mensugesti seseorang untuk tak menyerah pada keadaan. Hari-hari disibukkan untuk berkarya dan bekerja dengan bekal keyakinan. Yang lebih penting dari keyakinan adalah .

menurut Adi W Gunawan (2013) adalah sekumpulan kepercayaan (belief) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang, yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan.

Setidaknya keberhasilan keluar dari persoalan, keberhasilan melakukan konsolidasi internal dengan partner demi solusi, keberhasilan menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa, dsb.

Faktor sosial, yang berpengaruh yaitu stabilitas keluarga, pola asuh orang tua, adat dan budaya, tingkat ekonomi, nilai dan kepercayaan tertentu. Factor sosial berpengaruh besar terutama pada pola asuh.

Kasus Kanti Utami terdapat trauma masa lalu atas perlakuan keluarga dan pola asuh keluarga yang membentuknya. Trauma ini mengkristal di dalam jiwanya didukung oleh support system yang buruk, interaksi yang kaku, dan lingkungan pertemanan yang toxic juga.

Dari banyaknya kasus perempuan membunuh keluarganya, sebab yang sering muncul biasanya berkutat pada tiga hal tersebut. Faktor sosial juga mencakup budaya yang masih saja berkembang dalam masyarakat, di mana perempuan seolah tak layak menjadi bagian dari pembuat keputusan.

Ini semakin mempersulit pelaksanaan peran perempuan sebagai penentu kebijakan di dalam keluarga.

Kebanyakan keluarga dalam mengambil keputusan harus menunggu keputusan seorang suami. Namun jarang seorang laki-laki yang melibatkan perempuan dalam mengambil sikap.

Idealnya, keputusan itu datang dari pemikiran bersama tanpa ada upaya merelakan dan mengorbankan idealismenya.

Cuarahan idealisme dalam keputusan yang timpang akan menyisakan kekecewaan pada perempuan. Jika kekecewaan itu mengakumulasi, akan berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan pada perempuan.

Dari banyaknya kasus perempuan yang menjadi pelaku pembunuhan anggota keluaga sendiri, terlebih anak, hendaklah para perempuan menjadi lebih aware terhadap eksistensi diri sendiri. Betapa berharganya diri sendiri di tengah keluarga.

Membangun kepercayaan dan keyakinan bahwa semua persoalan bisa terlewati melalui konsensus-konsensus dengan partner.

Membangun komunikasi positif dengan orang-orang terdekat, membangun kepercayaan diri bahwa dirinya sempurna untuk keluarga dan masyarakat, mempunyai kontribusi nyata dalam masyarakat agar pemikiran berkembang baik, juga jangan lupa memilih sirkel pertemanan yang konstruktif bukan lingkungan pertemanan yang beracun yang justru merusak pemikiran dan jiwa.

Kemunculan Kaum Halu, Antara Gangguan Jiwa dan Cari Sensasi
Perempuan dalam Interaksi Sosial (Maraknya Budaya Seks Bebas di Era Globalisasi)

Terkait

Rekomendasi

Terkini