Puitwit ala Jokpin

Sebuah pemikiran luas yang dibungkus dalam bungkusan transparan yang disebut dengan twitter. Mungkin itu merupakan salah satu alasan mengapa buku Haduh Aku Di-follow merupakan salah satu buku yang penulis rekomendasikan untuk dibaca

1 November 2022, 18:03 WIB

Nusantarapedia.net, Gerai | Resensi — Puitwit ala Jokpin

BUKU karya Joko Pinurbo (Jokpin) merupakan kumpulan puisi di twitter (puitwit). Boleh jadi, puitwit ini merupakan sebutan baru yang diciptakan pertama kali oleh Jokpin dari buku miliknya yang berjudul Haduh, Aku Di-follow. Jika dilihat dari karya sebelum-sebelumnya, karya Jokpin yang satu ini merupakan karya Jokpin yang cukup istimewa. Ya, inilah puitwit ala Jokpin.

Jilid buku karya Jokpin ini bergambar dengan warna-warna cerah yang berada di dalamnya (berbeda dari karya-karya Jokpin yang lalu-lalu). Buku ini juga sering menyebut istilah puitwit (istilah yangg setidaknya baru pertama kali didengar). Mungkin pembaca akan setuju jika istilah puitwit berasal dari kata puisi dan twit (karena puisi yang dibuat tidak lebih dari 140 karakter). Jadi, istilah puitwit dibuat oleh Jokpin untuk memberi nama karya yang beliau buat di twitter.

Namun jika keluar dari pernyataan semua itu, apakah puitwit bisa disebut sebagai sebuah puisi? Sebenarnya apa itu puisi dan apa arti dari puitwit itu sendiri? Kali ini peresensi tertarik membahas apa itu puisi yang berada di dalam tweet yang Jokpin sebut dengan puitwit? Untuk pengamat Jokpin, mungkin keputusan Jokpin untuk membuat sebuah karya sastra pop amatlah berisiko. Selain dikenal kualitas Jokpin sebagai penulis sastra serius akan dipertanyakan, juga keputusan Jokpin membuat karya sastra pop, tentu akan ’merusakkan’ rantai karya-karyanya dari awal (sastra serius) dan sekarang berubah menjadi sebuah karya sastra populer (yang merupakan tuntutan penulis untuk zaman sekarang agar memuaskan minat membaca dengan cara menulis sastra populer).

Namun sebelum membahas berbagai puitwit yang ada dalam buku Haduh, Aku Di-follow, akan dijelaskan apa itu puitwit. Puitwit berasal dari kata puisi dan twitter. Puisi itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus, sedangkan pengertian twitter menurut Wikipedia, twitter yaitu layanan jejaring sosial dan mikroblog daring yang memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan berbasis teks hingga 140 karakter, yang dikenal dengan sebutan kicauan (tweet).

Berdasarkan dua pengertian tersebut, peresensi menyimpulkan bahwa puitwit adalah bahasa cermat dengan penataan khusus yang mempertajam kesadaran berbasis teks hingga 140 karakter.Dalam kumpulan puitwit yang ada dalam buku Haduh Aku Di-follow berisikan puisi-puisi singkat yang Jokpin tulis di twitternya dalam kurun waktu satu tahun. Kebayakan puitwit dalam buku tersebut berisikan luapan hati Jokpin atau suatu pandangan Jokpin terhadap segala hal seperti bagaimana ibu, air, insomnia, kopi, dan lainny dijabarkan dalam sudut pandang seorang Jokpin.

Perasaan-perasaan tersebut semakin menjadi menarik dan memukau, dikarenakan perasaan-perasaan tersebut dijabarkan dalam kata yang tidak lebih dari 140 karakter. Sebuah pemikiran luas yang dibungkus dalam bungkusan transparan yang disebut dengan twitter. Mungkin itu merupakan salah satu alasan mengapa buku Haduh Aku Di-follow merupakan salah satu buku yang penulis rekomendasikan untuk dibaca.

Puitwit-puitwit karya Jokpin menjadi semakin menarik dikarenakan puisi-puisi tersebut berkombinasi dengan ilustrasi-ilustrasi dari Rio “Tupai” Suzandy, pembuat desain kreatif yang pernah belajar seni rupa dan desain di ISI Denpasar. Tidak dapat dipungkiri, peran Suzandy sangat memengaruhi puitwit-puitwit yang ditulis oleh Jokpin. Seperti contoh puitwit Jokpin mengenai hujan “Hujanmu sudah kuterima dengan baik. Sudah kupotong-potong jadi batang-batang air. Akan kubagi ke anak-anak senja yang baru lahir.” Puitwit tersebut merupakan curahan perasaan Jokpin tentang hujan, pada halaman 16. Dalam halaman tersebut, ilustrasi dari Suzandy seolah memberikan alternatif lain untuk pembaca yang belum memahami tulisan yang dibuat oleh Jokpin. Kedua kombinasi tersebut peresensi rasa merupakan kombinasi yang hampir sempurna untuk pembaca awam menikmati sebuah karya sastra.

Peresensi, tinggal di Bandung. Selepas menjabat Kepala Divisi Penyuntingan di ITB Press (Juni 2022), dia masih diberi amanah menjadi penulis dan editor di beberapa penerbit buku di Bandung, juga pengisi materi pada lokakarya pelatihan penyuntingan/editing naskah. Pengajar Mata Kuliah Bahasa Indonesia dan Literasi Keilmuan di sebuah kampus di Bandung.

Gadis Pintar, Cerita Pendek MARGARET BONHAM
Memaknai Kursi
Hindia dalam Cerita
Kebebasan itu Perlu Perjuangan
Belajar Matematika Pilpres 2024

Terkait

Terkini