Tak Ada Rotan, Akar pun Jadi
Sepakbola adalah parade bisnis para company besar hingga sponsor lokal kelas pedagang kaki lima.
“Tak ada rotan akar pun jadi, tak ada lapangan halaman mushola pun buat adu penalti.”
Nusantarpedia.net — Tak Ada Rotan, Akar pun Jadi
Sepak bola merupakan ajang pertandingan olah raga yang paling banyak penggemarnya di planet bumi ini.
Di negara kita, sepak bola di samping untuk olah fisik, juga menjadi ajang bisnis yang menggiurkan. Dengan sepak bola banyak perusahaan kelas nasional ataupun internasional berlomba mengiklankan bentuk dan wujud produk usahanya, sehingga para pemain kocek bola pun juga berlomba untuk menjadi pemain terbaik. Harapannya pun tentu selangit, kontrak dengan nilai uang yang menggiurkan. Dengan kata lain sepakbola menjadi sebuah bentuk profesi bergengsi bagi para pemainnya.
Kini, sepakbola sudah menjadi industri dunia. Ya, komoditi tak lagi berupa barang dan jasa, tetapi atraksi maupun pertunjukan-pertunjukan olahraga dan seni sudah menjadi komoditi bisnis dengan potensinya yang besar.
Sepakbola adalah parade bisnis para company besar hingga sponsor lokal kelas pedagang kaki lima. Bola dari hulu sampai hilir, dari sponsor merk terkemuka hingga sponsor industri kerakyatan. Dari yang makanannya keju sampai tahu, turut serta didalamnya.
Bola, tak lagi ajang kejuaraan atau prestasi. Bola adalah pundi-pundi uang dan kemewahan. Bola telah menjadi nafas kultural di berbagai sendi tatanan kehidupan.
Di Indonesia, saling berlomba lomba masuk sekolah sepak bola atau SSB. Banyak SSB menawarkan program olah tehnik bermain si kulit bundar ini. Bagi anak - anak dari kalangan mampu, sepak bola menjadi permainan yang mengasyikan, dan harapan dirinya serta orang tuanya.
Berkarir lewat dunia sepak bola, dengan berkiblat, bermimpi, dan nge-fans pada pemain - pemain top dunia, dengan harapan kelak menjadi pemain kelas dunia sepertinya.
Akan tetapi bagaimana dengan anak - anak kampung dengan kondisi ekonomi sosial yang berbeda? Jangan kata bermimpi masuk sebuah klub sekolah sepak bola, buat beli bola saja, mereka hanya mampu membeli bola kecil dari plastik, bukan bola kulit yang mahal harganya.
Akan tetapi konsep di pikiran anak anak itu beda dengan para anak siswa sekolah sepak bola. Jika siswa SSB orientasinya sebagian besar kepada karir menjadi pemain dengan prestasi dan bayaran mahal. Beda dengan anak - anak di kampung, sepakbola adalah murni hiburan bagi mereka.
Sepakbola bukan permainan penuh aturan dan khayalan menjadi Top Scorer, punya mobil mewah ataupun dikelilingi pacar - pacar cantik. Bagi mereka bermain sepakbola adalah hiburan jenaka di sela - sela waktu luang sekolah.
Di sini tidak ada aturan khusus, yang ada hanya, jika bola kena tangan menghasilkan “hand,” serta jika bola keluar terjebur ke empang artinya outside, juga bila berlari mendahului bola di depan dinamakan offside, atau “ofset” dalam pengucapan mudahnya.
Karena sepakbola mereka bukan berstandar, tidak ada batasan harus panjang kali lebar di ukur pada umumnya stadion sepak bola, mereka memanfaatkan samping sebuah mushola yang masih sedikit tersisa di pinggir empang kampung mereka. Ya, seperti pemandangan di kampung Mengoneng, Bojong Bata. Sebuah kawasan cukup padat di kota Pemalang Jawa Tengah.
Anak anak kampung yang cukup puas, menendang, mengejar dan berebut bola di sela sela kosong lahan sempit yang ada, tak ada mistar gawang yang nampang, tiang penyangga musola serta jemuran warga mereka anggap mistar gawang. Empang mereka jadikan batas lapangan.
Bagi mereka sekolah sepakbola ( SSB ) adalah bayangan mahal untuk memasukinya, mimpi mereka adalah mimpi yang harus di beli, sedangkan mereka tak punya untuk membeli mimpi, mimpi menjadi bagian siswa sekolah sepakbola, bermain dengan pelatih dan tehnik yang tertata dengan enaknya lapangan rumput yang empuk. Yah, bagi mereka tak ada lapangan, halaman Mushola pun jadi.
Ibarat pepatah, “Tak ada rotan akar pun jadi, tak ada lapangan halaman mushola pun buat adu penalti.”
Tak berhenti sampai di situ, harapan untuk menjadi superstar adalah impian bagi kebanyakan anak. Tak ada lapangan pun bisa bermain di mana-mana, meski superstar tersebut lahir dari khayal mereka yang jujur.
Lantas, bila ada istilah sepakbola “power and speed,” yang manakah itu? belum lagi menjaga ritme konsentrasi agar menjadi tim bola yang juara dengan tidak kebobolan di menit - menit akhir.
Artinya, kejujuran mereka dan khayal anak - anak harus diwujudkan dengan pemenuhan gizinya. Anak harus dibiasakan dan terpola makan ikan, daging, ayam, telur dan minum susu. Agar kuat fisiknya, cerdas dan stabil konsentrasinya, tidak kebobolan di menit akhir.
Nah, dari sekedar hiburan bermain bola di tengah keterbatasan, bahwa itu semua mengisyaratkan, saatnya mereka diberikan haknya untuk menggapai cita-citanya berprestasi di bidang sepak bola.
Caranya? berikan anak - anak Indonesia makanan tersebut teratur dan fasilitas lah dengan infrastruktur sepakbola.
Lantas, tugas siapa? tanggung jawab siapa? Yang jelas, kami rakyat, siap diperintah! mundi dawuh! sendika dawuh! ngestokaken dawuh. (Ragil74)
Pencak Silat, Tradisi Pendekar Atraksi Seni hingga Cabang Olahraga
Wanita Tukang Derep, Semakin Terpinggirkan
Rekomendasi
-
Gunung Sewu dalam Literasi Bumi dan Budaya Mataraman (3)
20 Februari 2022, 16:28 WIB -
Surat kecil tuk anak …
28 Februari 2022, 18:43 WIB -
Trend Lapor Polisi, di Era Masyarakat Digital
8 Februari 2022, 10:44 WIB -
Pedagang Salak Pondoh, Sleman Yogyakarta
13 Februari 2022, 13:49 WIB -
Road Map Sastra Jawa
18 November 2021, 08:38 WIB



