Tradisi Munggah Molo
Yang unik, semenjak Indonesia merdeka tahun 1945, bagian Molo atau balok di pasang bendera merah putih. Antusias dengan berdirinya republik dengan penuh harapan dan cita-cita.
Nusantarapedia.net, Pemalang Jateng — Tradisi munggah Molo. Masyarakat di Indonesia khususnya dalam wilayah kebudayaan Jawa, masih banyak memegang teguh adat tradisi dari warisan leluhur.
Tata kelola hidup sehari-hari dalam lingkup tatanan sosial masih menyisakan remahan kultural dari pendahulunya dalam bentuk adat tradisi maupun praktik ritual.
Di Jawa Tengah dan Timur, ritual Munggah Molo sebagian masih dilaksanakan di beberapa tempat. Seperti penelusuran tim Nusantarapedia.net di kabupaten Pemalang, Minggu (20 Maret 2022), saat salah satu warga yang membangun rumah di kampung Mengoneng, kelurahan Bojong Bata, kecamatan Pemalang Kota, Pemalang Jawa Tengah.
Tradisi Munggah Molo merupakan ritual yang dilakukan pada saat membangun rumah untuk menaikkan rangka atap rumah, yaitu menaikkan bagian balok utama pada konstruksi atap rumah bagian paling atas.
Tradisi Munggah Molo berupa praktik ritual dengan sesajen yang terdiri dari barang atau benda kebutuhan hidup sehari-hari termasuk bahan makanan berupa hasil bumi.
Tradisi Molo di kebudayaan Jawa terdapat banyak ragamnya, namun ruhnya sama, secara simbolik sebagai ungkapan do’a.
Pada bagian paling atas bangunan, di letakkan sebatang pohon tebu. Tebu yang dimaksud berarti “antebing kalbu.” Merupakan simbolisasi bahwa hatinya telah bulat, tekad yang bulat dalam membuat rumah untuk mengarungi hidup berumah tangga. Anteb juga berarti Manteb atau Mantab, niat membangun rumah dengan kemantaban hati dengan harapan rumah bisa tercapai berdiri.
Kemudian, di bawah pohon tebu di pasang Pisang Longok. Longok berarti “tengok” atau melihat. Longok yang dimaksud sebagai harapan, setelah rumah selesai dibangun (sudah jadi) akan banyak di kunjungi tetangga dan kerabat untuk menjalin hubungan kekerabatan maupun silaturahmi.
Tradisi Munggah Molo secara simbolis merupakan permohonan do’a kepada Yang Kuasa. Selain dengan memberikan dan meletakkan aneka sesaji, tetua adat setempat atau Modin atau sesepuh mendoakan terlebih dahulu.
Di berbagai tempat, sesajen dan benda yang di letakkan di bagian atap atas bermacam-macam. Selain tebu, pisang longok juga seikat dua ikat padi. Tradisi Molo di kebudayaan Jawa terdapat banyak ragamnya, namun ruhnya sama, secara simbolik sebagai ungkapan do’a.
Yang unik, semenjak Indonesia merdeka tahun 1945, bagian Molo atau balok di pasang bendera merah putih. Ini membuktikan bahwa tradisi kultural Nusantara adalah masyarakat yang religius. Antusias dengan berdirinya republik dengan penuh harapan dan cita-cita. Mengandung pesan dan spirit di dalam setiap langkah tatanan kehidupan. Juga sebagai simbol betapa patuhnya rakyat kepada negara telah berdirinya rumah baru Indonesia, dari sebelumnya monarki Jawa dan monarki feodalisme.
Semoga harmonisasi sosial yang tergambar dalam tradisi tersebut tetap lestari. Lestari dan nyata implementasi harapan-harapan tersebut. Menjaga tradisi dengan aneka kearifan lokal semestinya terus dilaksanakan sebagai ruh kehidupan sosial bangsa yang spiritual. Atau paling tidak sebagai upaya refleksi dan keseimbangan dari pertumbuhan pembangunan yang terjebak pada pembangunanisme.
Salam Nusantara (Ragil74).
Benowo Park, Antara Pariwisata dan Harmoni Alam
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (1)
Rekomendasi
-
Ghozali, Peraup Milyaran Rupiah dari Foto Selfinya
21 Januari 2022, 19:51 WIB -
KPP Pangestu, Wujud Real Pemuda Enterpreneur Produktif dan Mandiri
14 Februari 2022, 10:53 WIB -
Citra Nusantara
22 Februari 2022, 00:51 WIB -
BPJS Terbit, Keluarga Rangga Bernafas Lega
15 Maret 2022, 14:09 WIB -
Pencak Silat, Tradisi Pendekar Atraksi Seni hingga Cabang Olahraga
31 Januari 2022, 20:24 WIB



