Tradisi Nyadran di Desa Penusupan

Nyadran biasa diramaikan warga Penusupan yang merantau. Sebagai ajang temu kangen antar warga, sanak saudara. Nyadran atau Ruwahan bisa jadi merupakan ajang mudik sebelum lebaran tiba.

28 Maret 2022, 18:11 WIB

Nusantarapedia.net, Jateng — Tradisi di Desa Penusupan. Ruwahan adalah acara Slametan ada juga yang menyebutnya . Dilakukan 15 hari menjelang Puasa atau bulan Ramadhan tiba. Kegiatan Ruwahan dilaksanakan dengan do’a bersama terutama membaca Quran Surat Yasin dilanjutkan Tahlil dan doa penutup. Setelah doa bersama dilanjutkan acara makan bersama.

Istighumazah, salah seorang warga Desa Penusupan, Randu Dongkal, , Jawa Tengah menuturkan acara ini sebagai wujud syukur, “ di desa kami biasa dilakukan sebagai wujud rasa syukur telah diberi kesehatan, umur panjang hingga bisa menemui bulan puasa kembali,”

biasa diramaikan warga Penusupan yang merantau. Sebagai ajang temu kangen antar warga, sanak saudara. Nyadran atau Ruwahan bisa jadi merupakan ajang mudik sebelum lebaran tiba.

“Di tempat yang sama, Nurhayati mengatakan bahwa acara Ruwahan sudah lama dilakukan oleh para pendahulu. Tidak sekadar bertemu keluarga dan makan bersama. Ruwahan atau Nyadran juga momen untuk berziarah. Orang jawa menyebutnya besik kubur atau .”  

Di tempat yang sama, Nurhayati mengatakan bahwa acara Ruwahan sudah lama dilakukan oleh para pendahulu. Tidak sekadar bertemu keluarga dan makan bersama. Ruwahan atau Nyadran juga momen untuk berziarah. Orang jawa menyebutnya besik kubur atau nyekar.  

Ruwahan sudah lama dilakukan semenjak saya belum lahir, dilakukan oleh orang tua pendahulu. Setelah acara makan bersama, beberapa hari kemudian, sebelum datang bulan puasa, hampir semua warga datang ke makam desa tersebut guna melaksanakan nyekar di makam keluarga masing-masing, sambil membersihkan area makam.”

Di desa Penusupan, makam yang biasa ramai orang nyekar tersebut tumbuh pohon yang sangat tua, yaitu Randu Alas yang berusia ratusan tahun. Pohon ini meskipun direntangkan tangan orang dewasa berjumlah 10 orang pun tidak akan cukup bisa menggapai batang pohong Randu Alas tersebut, dan sampai sekarang masih berdiri kokoh. (Ragil74)

Kebun Strawberry, Agrowisata “Sedapur Stroberi” Karangsari
Mata Lele Serbu Petani Sayur Kangkung
Integrasi Pembangunan Kepariwisataan dengan Strategi Kebudayaan (1)

Terkait

Rekomendasi

Terkini