Tradisi Padusan dan Pergeseran Nilainya
Padusan kini tak lebih sekadar kegiatan tahunan yang diwarnai hingar bingar mandi bersama dalam satu kolam atau sumber air dan bernuansa menggembirakan
Nusantarapedia.net — Tradisi padusan dan pergeseran nilainya
Nuspedian pasti nggak asing lagi, nih. Menjelang bulan Ramadhan tiba, masyarakat Jawa biasa mengadakan tradisi Padusan. Apa itu Padusan? Yuk. Kita ulik!
Padusan berasal dari kata ‘adus’ yang berarti mandi. Bersih diri dengan berendam di sumber air untuk membersihkan jiwa dan raga, lahir dan batin untuk menyucikan diri menyambut bulan yang suci yaitu bulan Ramadhan.
Secara filosofis tradisi Padusan adalah untuk menyucikan diri, intropeksi diri atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan pada masa lalu. Jadi, tak hanya sekadar mandi biasa. Pada dasarnya Padusan adalah media untuk renungan. Sehingga dianjurkan untuk melakukan ritual Padusan ini di tempat yang sepi dan seorang diri.
“Kini, telah terjadi pergeseran nilai-nilai Padusan itu sendiri. Sakralitasnya tak lagi nampak pada pelaksanakan Padusan kekinian.”
“Terlebih kini Padusan dilirik para pegiat wisata sebagai ritus yang berpotensi secara ekonomis.”
Seperti dikutip dari laman hipwee.com, Romo Tirun, salah seorang kerabat keraton menjelaskan, filosofi Padusan adalah menbersihkan diri sehingga ketika kita kita melakukan harus benar-benar sesuai dengan ajaran agama. Berpakaian sopan dan tidak dilakukan dengan bercampur antara lawan jenis.
Tradisi Padusan sudah ada sejak zaman Hamengkubuwono I. Oleh karena itu padusan merupakan tradisi dan budaya turun temurun dan merupakan kekayaan kearifan lokal. Keraton telah menyediakan sumber air untuk padusan atau terdapat kolam-kolam khusus di dalam masjid untuk melakukan Padusan.
Seiring perjalanan waktu, tahun 1950 kolam-kolam masjid area keraton tak lagi digunakan untuk Padusan. Berpindah ke rumah-rumah sendiri dikarenakan sumber mata air sudah banyak yang tercemar oleh ulah manusia.
Padusan dan Potensi Wisata
Kini, telah terjadi pergeseran nilai-nilai Padusan itu sendiri. Sakralitasnya tak lagi nampak pada pelaksanakan Padusan kekinian. Padusan kini dilakukan beramai-ramai dalam satu kolam atau sumber air. Pelaksanaannya yang dulu dilakukan di tempat sepi dan sendiri, guna tidak bercampurnya laki-laki dan perempuan, kini sudah tidak ditemukan pemandangan asli itu.
Justru Padusan kini tak lebih sekadar kegiatan tahunan yang diwarnai hingar bingar mandi bersama dalam satu kolam atau sumber air dan bernuansa menggembirakan. Terlebih kini Padusan dilirik para pegiat wisata sebagai ritus yang berpotensi secara ekonomis. Tak canggung-canggung banyak sumber air disulap menjadi spot wisata air yang menyajikan kenyamanan ber-Padusan yang berbasis keramaian. Semakin hilang nilai-nilai Padusan itu sendiri. Warisan budaya itu kini menjadi komoditi wisata yang sangat menguntungkan.
Di Yogyakarta ada kurang lebih sepuluh lokasi yang biasa didatangi orang setiap tahunnya untuk menjalani padusan, dan setiap lokasi memiliki histori masing-masing. Diantaranya adalah Umbul Pajangan yang berlokasi di Jalan Kaliurang, Sleman, Sendang Klangkapan di Dusun Klangkapan, Desa Margoluwih, Sleman, yang konon sengaja dibuat oleh Sunan Kalijaga saat tidak menemukan air untuk berwudhu, lalu ada juga Sendang Ngepas Lor yang terletak di Desa Donoharjo, Sleman.
Di Jawa Tengah, juga terdapat beberapa tempat yang biasa dipadati warga untuk menjalani padusan. Di Klaten misalnya, salah satu pemandian alami bernama Umbul Manten, berlokasi di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Selain itu, ada Obyek Mata Air Cokro (OMAC), Umbul Ponggok, dan banyak lagi. Padusan di OMAC biasa dilakukan secara simbolik oleh Bupati Klaten yang melakukan siraman terhadap Mas dan Mbak Klaten (Duta Pariwisata Kabupaten Klaten), lalu dilanjutkan oleh warga.
Kegiatan serupa juga dilakukan di Umbul Petilasan Joko Tingkir, Semarang. Ribuan warga yang bukan hanya berasal dari Semarang tetapi daerah sekitarnya seperti Salatiga, mendatangi petilasan ini untuk menjalani padusan. Di petilasan ini lokasi padusan terbagi menjadi dua tempat yaitu Sendang Lanang dan Sendang Puteri. (Indonesia.go.id)
Menjaga Keaslian Spot Sejarah di Tengah Hasrat Wisata Masyarakat
50+ Tradisi Nusantara di Bulan Sya’ban dan Ramadan (1)
Rekomendasi
-
Gloomy Sunday, Lagu Kematian hingga Bunga Terakhir Bebi Romeo
27 Januari 2022, 13:42 WIB -
Mataram Pleret, Penaja Perang Suksesi Monarki Jawa
2 Februari 2022, 20:11 WIB -
Rangkaian Spiritual Budaya Jawa, dari Bulan Rejeb hingga Sawal (3)
2 Maret 2022, 17:40 WIB -
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (4)
27 Januari 2022, 20:45 WIB -
Candi Kedulan, 13 Kali Tertimbun Erupsi
25 Februari 2022, 15:37 WIB





