Aloha ‘Oe, Maluku Tanah Pusaka hingga Pulanglah Uda menjadi Motif Lagu Budaya

3 Februari 2022, 16:25 WIB

Nusantarapedia.net-Aloha ‘Oe, Maluku Tanah Pusaka hingga Pulanglah Uda menjadi

Lagu atau nyanyian merupakan representasi dari suasana batin dan sosiologis entitas di dalamnya.

Telaah kultural pada budaya suatu bangsa dapat ditinjau dari keberlangsungan seni musiknya. Dalam disiplin ilmu etnomusikologi, bagaimana suatu bangsa menempatkan sebuah musik atau lagu sebagai fungsi ekspresi.

Ekspresi yang dimaksud ditujukan secara fungsionil. Peruntukan sebuah lagu membawa pada resolusi yang luas guna mendapatkan goal yang dimaksud.

Lagu sebagai sarana yang bersifat agitasi telah masuk dalam tatanan suatu bangsa, mulai ranah ideologi, politik dan sosial.

Seringkali lagu sebagai ekspresi hubungan personal dengan sang pencipta, menjadi nafas religi. Lagu menjadi wadah gerakan sosial sebagai potret perlawanan sosial terhadap ketidakadilan penguasa. Lagu sebagai ekspresi patriotisme akan kekaguman tanah airnya, juga sebagai sarana dakwah maupun edukasi.

Saat ini, lagu sudah masuk dalam gairah musik industri yang terus berkembang tidak terbatas. Aneka platform teknologi sebagai media sebuah lagu, telah hadir dalam bentuknya yang kompleks dan bersifat digital.

Akhirnya secara person, lagu dapat mencirikan hal personality, juga ciri khas suatu entitas maupun bangsa pada telaah sosial dan institusional.

Ciri khas suatu lagu sebagai etalase kebudayaan suatu bangsa tentu dalam sejarah perjalanan yang panjang, akhirnya membentuk menjadi motif kebudayaan yang khas, mencirikan hingga menjadi identitas.

Proses pembentukan identitas diatas bisa bersifat murni maupun diciptakan. Murni yang dimaksud meski bersifat intervensi-politisasi, didefinisikan menjadi kekhasan yang tidak terdokumentasi, maka lahirlah kategori musik folksong berangkat dari cerita tutur atau folklor, bersifat kuno, masa lalu dan tidak diketahui penciptanya atau No Name.

Pembentukan identitas dari proses penciptaan yang dimaksudkan bersifat baru, terketahui jejak peristiwanya, pengarangnya dan latar settingnya. Pada pokoknya terketahui melalui sumber-sumbernya.

Pendekatan keduanya menghasilkan motif kebudayaan suatu bangsa yang sama derajad kekhasannya, semuanya hanya soal waktu, menyangkut periodesasi keberlangsungan dan sumber dokumentasinya.

Aloha ‘Oe

Lagu ini diciptakan oleh Queen Lili’uokalani, dipopulerkan oleh banyak artis ternama, seperti; George de Fretes, Hawaiian Seniors, Aloha ‘Oe Spongebob, Paradies Hawaii, dan banyak di cover oleh masyarakat dunia.

Diciptakan sekiar tahun 1890, oleh Ratu Lili’uokalani. Ratu terakhir kerajaan di Hawaii yang berkuasa pada tahun 1891-1893.

Lagu yang dipersembahkan untuk putrinya, bercerita mengenai pelukan perpisahan dari Kolonel James Harbottle Boyd. Terjadi kala Putri Liliʻuokalani melakukan perjalanan wisata dengan menunggang kuda pada tahun 1877/1878. Rombongan kerajaan mengunjungi peternakan milik Boyd di Maunawili di pesisir Winward-Oʻahu.

Rombongan yang mengawal Putri Liliʻuokalani menyenandungkan lagu ini dalam perjalanan kembali ke Honolulu.

Ratu Lili’uokalani sangat terkesan dengan ucapan selamat jalan yang ramah, hingga dalam perjalanan pulang mulai terus bersenandung. Charles Wilson mendengar senandung sang ratu dengan berkomentar, “Kedengarannya seperti The Lone Rock by the Sea”. Atas komentar tersebut turut menjadikan inspirasi sang ratu hingga berproses menjadi lagu Aloha ‘Oe.

Naskah tulisan tangan lagu tersebut yang ditulis oleh sang ratu lengkap dengan notasi dan liriknya, tersimpan dalam arsip negara bagian ’i.

Dalam prosesnya, Aloha ‘Oe digubah di Maunawili tahun 1878. Pertama kali dimainkan oleh Royal Hawaiian Band di San Francisco tahun 1883. Lagu Aloha ‘Oe menjadi baku dengan partitur yang diterbitkan tahun 1913. Arsip partitur tersebut disimpan di Levy Sheet Music Collection.

Kata atau kalimat Aloha ‘Oe yang berarti ucapan “hallo,” “untukmu,” sebagai kata sapaan.

Aloha ‘Oe terus berkembang dan populer, akhirnya identik dengan negara . Aloha’Oe menjadi motif budaya Hawaii, menjadikan ciri khas dari musik Hawaiian dan kebudayaannya, bisa juga dimaknai sebagai folksong-nya .

Gloomy Sunday, Lagu Kematian hingga Bunga Terakhir Bebi Romeo

Hawai dalam Peta Dunia

Hawaii merupakan negara bagian dari Amerika Serikat yang bergabung pada 1959, sebelumnya adalah kerajaan dan negara koloni.

Secara geografi tidak termasuk dalam benua Amerika, namun dalam gugusan kepulauan Pasifik. Wilayahnya termasuk dalam segitiga kebudayaan Pasifik di Samudra Pasifik, juga disebut sebagai Oceania.

Tiga kluster kebudayaannya adalah; Polinesia, Mikronesia dan .
Kepulauan Hawaii, Cook Islands, Maori, Tahiti, Marquesan, Niuean, Samoa, Fiji Tonga, mewakili kluster Polinesia.

Kebudayaan ini juga ada di Indonesia, seperti; Maluku, Ambon, NTT, Papua, juga sebagian kebudayaan Minahasa, dan kebudayaan Filipina sampai di sekitar Taiwan, bagian keduanya termasuk dalam kluster dan Mikronesia.

Yang unik, ciri kebudayaan antara Hawaii dan kepulauan di Maluku dan sekitarnya banyak memiliki kesamaan, utamanya dari genetik.

Dibidang kebudayaan, khususnya musik sangat erat frasa melankolisnya, kultur bermusik yang warna dasarnya hampir mirip. Terlebih pada instrument musiknya yang dinamakan “ukulele.”

Musisi berdarah Maluku yang sukses di Hawaii adalah George de Fretes.

Kemiripan bermusiknya bisa dilihat dari lagu-lagunya pada bentuk dasarnya, yaitu mengenai irama, tempo, melody, set orkes, warna vokal, serta teknik lainnya yang dalam pernak-perniknya dikatakan sebagai langgam.

Dengan demikian, gaya bermusik pada kebudayaan Maluku dan sekitarnya mirip dengan gaya bermusik di Hawai. Dari Ambon Maluku turut mempengaruhi gaya bermusik yang menyebar keseluruh wilayah Nusantara.

Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (4)

Keterkaitan dengan Musik Keroncong

Eskalasi penyebaran musiknya sampai di Jakarta, ketika VOC memindahkan ibukota dari Ambon ke Jayakarta tahun1520-an, yang mana sebelumnya Ambon dan sekitarnya bekas koloni Portugis yang dipengaruhi oleh kebudayaan Spanyol.

Pada kasus ini lebih spesifik pada musik gereja dan selanjutnya membentuk menjadi musik “kroncong” di Batavia, tepatnya di Kampung Tugu.

Setelahnya, keroncong berkembang di seluruh Indonesia. Maka, genealogi dari musik di Hawai berkaitan dengan gaya di kebudayaan Ambon, Papua, NTT dan sekitarnya.

Hingga di Jakarta, Surabaya maupun Surakarta melahirkan style dasar musik keroncong. Secara spesifik melahirkan format repertoar Stambul, Keroncong Asli dan Langgam, yang mana dipengaruhi nada-nada diatonis yang bercampur dengan gaya pentatonis dari kultur lokal seperti gaya Melayu, Sunda, Jawa hingga Tionghoa.

Mengenai musik Keroncong, masa awal dipengaruhi oleh gaya Ambon dan sekitarnya, yaitu terjadi pada awal pembentukan keroncong di Kampung Tugu, juga lahirnya musik Gambang Kromong, Tanjidor dan Keroncong masa perjuangan.

Pada masa kolonial ini seluruh entitas kebudayaan dunia saling melebur, menjadikan musik keroncong menjadi banyak warna, ada melodi Tionghoa, Arabic Scale, Musik Gereja, Pantun Melayu, Jaipongan Sunda, Gamelan, juga masuknya alat musik barat berupa “Brass Section.”

Instrument Ukulele

Ukulele sangat beragam, namun yang menjadi standart ukulele dari Hawaii paling lazim digunakan. Ada ukulele Soprano, Concert, Tenor dan Bariton.

Tuning senarnya bernada G-C-E-A, kecuali Bariton dengan tuning D-G-B-E, semuanya berdawai empat.
Di Hawai, set orkes ukulele biasa dimainkan dengan banyak instrument ukulele secara bersamaan, selain juga luwes dan praktis dimainkan sebagai instrument solo.

Ukulele pada set orkes keroncong berdawai tiga dengan tuning G-B-E. Ukulele jenis ini di Surakarta dinamakan “cuk”, yang dimainkan dengan instrument setelan bernama “cak,” maka setelan instrument ini dinamakan Cak Cuk. Bila suara Cuk lebih ke middle, sedangkan Cak lebih kesuara gemericing (high).

Instrument ini lebih luwes dimainkan dalam set orkes, tidak terlalu fleksibel untuk bermain solo. Nama lainnya adalah “kentrung.”

Kelahiran ukulele cak-cuk, dipengaruhi oleh ukulele “macina” dan “prounga,” yang terinspirasi dari gitar Spanyol Cavaquinho. Instrument ini dimainkan oleh pelaut Portugis yang sudah terpengaruh gaya bermusik Spanyol, terutama sejak kedatangannya dari Ambon ke Kampung Tugu di Jakarta sebagai tawanan pendudukan VOC.

Namun demikian, saat ini telah membentuk menjadi ciri khas masing-masing. Keroncong dengan musik Ambon tidak secara jelas mengandung kesamaan. Dengan demikian, berbicara warna musik dalam pengaruh kebudayaan Pasifik yang masih kental dan menjadi ciri khas, adalah gaya bermusik poros Hawai-Maluku-Papua-NTT dan sekitarnya.

Bunga Rampai Kata Langgam dalam  Konteks Kultural Indonesia (5)

Lagu Daerah Nusantara Menjadi

Indonesia melahirkan musisi yang hebat, yang mana karyanya sangat kental akan kultur Nusantara yang ikonik.

Lagu-lagu baru yang diciptakan cukup mempresentasikan kebudayaan wilayah masing-masing dan menjadi “.” Kedepannya pasti lagu tersebut menjadi kategori folksong seperti yang terjadi pada lagu Aloha ‘Oe.

Hemi Pesolima dengan Maluku Tanah Pusae, Oh Minahasa dibawakan Connie Mamahit, Syam Tanjung/Youngky RM dengan Pulanglah Uda pada kebudayaan Minang, Di Ambang Sore (Melayu Riau) karya Ismail Marzuki.

Di Solo, Bengawan Solo lahir dari karya Gesang, juga Is Haryanto dengan Rek-Ayo Rek, Titi Hamzah dengan Surabaya oh Surabaya.

Madura dengan lagu Karapan Sape, lagu Pulau Bali dan masih banyak lagi. Kesemuanya adalah lagu baru, terketahui penciptanya, bukan no name, namun sudah menjadi ciri khas lagu sebagai representasi kultural.

Mendengarkan lagu Rek Ayo Rek, pikiran kita langsung tertuju pada kota Surabaya. Melantunkan lagu Maluku Tanah Pusaka, angan kita dibawa pada imajinasi kebudayaan -Mikronesia.

Menyanyikan lagu Pulanglah Uda, teringat kampung halaman dengan latarnya kebudayaan Minangkabau yang stylish.

Begitu juga ber-Gambang Kromong dengan lagu Stb.Jampang terbawa pada kultur Betawi yang heterogen namun khas untuk mempresentasikan sebagai kota urban dunia pada saat maraknya kolonialisme dunia.

Dunia, yang didalamnya terdiri dari banyak wilayah kebudayaan, secepat-cepatnya globalisasi tak akan merubah sebuah kekhasan itu sendiri bagi suatu bangsa.

Intervensi dan politisasi kebudayaan yang dilakukan pada suatu era, pada kesimpulannya akan membentuk menjadi ciri khas kebudayaan, baik yang murni maupun atas penciptaan.

(disarikan dari beberapa sumber)

Terkait

Rekomendasi

Terkini