Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (5)
Nusantarapedia.net - Bunga rampai kata langgam dalam konteks kultural Indonesia - Lirik Langgam Jawa dalam Keindahan Seni Sastra. Siapa yang tidak mengenal lagu langgam Nyidam Sari atau Yen Ing Tawang Ono Lintang karya Andjar Ani dari Solo.
Lirik lagu yang sangat indah, romantik juga sentimentil dengan penggunaan kata-kata yang tidak lugas, dengan simbol-simbol yang mengharuskan telaah ulang mengenai maknanya. Penggunaan kalimat dengan kajian metafora dalam semantik, menjadikan pendengarnya perlu menerjemahkan maksud dari lirik tersebut.
Lagu Yen Ing Tawang Ono Lintang misalnya, sebuah lagu yang isinya mengenai permohonan pada yang Kuasa untuk memohon permintaan anak perempuan. Namun tidak diutarakan dengan kalimat yang lugas, bahkan tidak ada kalimat yang berbunyi minta anak perempuan.
Penggunaan kalimat metafora yang bersifat komplementatif, nominatif, kalimatif dan predikatif, merupakan ciri karya sastra Jawa yang banyak digunakan pada banyak ekspresi.
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (1) Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (2)
Tradisi penulisan angka tahun yang dinamakan candrasengkala dan suryasengkala juga penggunaannya pada seni vokal Macapat, Suluk dan Ada-Ada Wayang Kulit juga pada Folk Song-nya.
Pada banyak catatan literatur Jawa seperti naskah Pararaton, Negarakertagama juga Babad Tanah Jawi menggunakan teknik metafora sebagai ciri sastra Jawa.
Langgam bahasa Jawa yang bermetafora telah ada sejak era Jawa Kuno, Madya dan Anyar. Metafora bahasa Jawa tidak dimaknai sebagai kelahiran bahasa yang terpengaruh akan budaya feodal yang mengenal strata, meski bagian itu tetap ada, namun lebih pada derajat seni kesusasteraan yang bermakna tinggi sebagai hal yang bersifat filosofi.

Ungkapan itu dibalut dalam nuansa keindahan, meski isinya mengenai ungkapan yang kotor, kemarahan, sindiran, penuh makna konotatif. Metafora semantik dalam sastra Jawa disebut sebagai gaya bahasa, seperti; Sanepa, Paribasan, Wangsalan, Pepindhan, Parikan, Cangkriman, disitulah nilai estetik bahasa dan sastra Jawa terlihat.
Lagu langgam Tak Eling-Eling karya Andjar Ani
“Jahe Wono Sakupama, Atiku Poyang-Payingan”. Kalimat Jahe Wono berarti tanaman jahe dari hutan, “sak umpama” sebagai perumpamaan, sedangkan “puyang” adalah sejenis tanaman rumpun seperti Jahe Hutan. Atiku Poyang-Payingan bermakna; suatu keadaan hati yang gundah gulana, rasanya tidak karuan atau bingung.
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (3) Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (4)
Jadi, untuk mengungkapkan perasaan hati yang sedang gundah atau bingung, harus melewati beberapa tahap pembentukan kalimat dengan istilah-istilah sebagai kata sambung yang koheren dan berakhir dengan bunyi vokal yang sama dengan vokal hidup a-i-u-e-o. Jahe Wono : Puyang, sebagai ungkapan hati yang sedang Poyang-Payingan (bingung).
Manthou’s dengan karyanya langgam Kangen yang dinyanyikan oleh Evie Tamala
“Jenang Gulo Yo Mas Yo, Mbok Ojo Lali”. Untuk mengungkapkan kata lali atau lupa diumpamakan sebagai Jenang Gulo, nama lain dari Jenang Gulo adalah Glali, dari kata Glali menjadi Lali (lupa).
“Klapa Muda Enake Kanggo Rujakan, Leganono”.
Nama lain Klapa Muda adalah Degan, lirik kata Leganono dari makna kata Degan menjadi Legan dengan awalan huruf “D” diluweskan dengan huruf “L” dan akhiran “Ono” menjadi Leganono, dari kosakata Klapa Muda.
“Mbalung Janur Wong Bagus Tak Impi-Impi, Usadane”. Mbalung Janur atau Balung Janur bernama Sada (lidi), Kata Sada dengan awalan huruf “U” dan akhiran “Ne” menjadi Usadane.

Lirik dan Format Langgam Jawa pada Lagu Andum Basuki karya Gesang
Bawa Sekar Macapat Maskumambang:
Kembeng kembeng kumembeng waspaku mijil
Pasrah kang Kuwasa
Nrima panduming dumadi
Timbang andedawa lara
Langgam Andum Basuki
ciptaan: Gesang
A1
Biyen sapa sing marahi
Wekasane teka mbalenjani
Sapa baya dititeni ing tembene
Yen pada menangi
A2
Apa dikira wong kuwi
Saklawase katon edi peni
Mundak dina mundak sasi
Suwe suwe dadi kaki nini
Reffrend (B):
Pancen edi
Rembulan yen ndadari
Bareng wanci
Bang wetan, Ganti warni …
A3
Dikandhani dituturi
Mung emane ora diperduli
Puluh puluh wis pinesthi
Sak banjure mung andhum basuki
Struktur Langgam Keroncong dan Jawa, 32 birama
A1
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
A2
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
Reffrend:
B
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
A3
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
Struktur Stambul II, 16 birama
A1
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
A2
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
Struktur Keroncong Asli, 28 birama
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
Interlude:
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
| . . . . | . . . . | . . . . | . . . . |
Demikian kiranya, kumpulan makna kata langgam dalam banyak pemakaian secara kontekstual pada kebudayaan Nusantara. Bila dicermati lebih detail lagi, masih banyak bunga rampai dalam penggunaan istilah langgam dipelbagi bidang.
Dari satu kata kunci “langgam,” telah membuka perspektif yang luas ihwal kebudayaan Indonesia, terdapati koherensi pada hubungan sebab akibat terutama sejarah. Tinjauan studi dengan lebar secara komprehensif berguna untuk mengidentifikasi sebagai pengetahuan.
Saat ini budaya global cenderung instant, tidak meliuk-liuk dengan kekhasan langgamnya yang mendalam. Dalam banyak hal, arus informasi membawa pada pemahaman yang bersifat pendek dan kasuistik.

Pada bidang tertentu, kebiasaan tersebut menjadikan celah sebagai alat framing untuk kepentingan tertentu. Perlu kiranya dilakukan pembiasaan pada banyak hal agar tidak dilakukan secara instant, parsial dan terpotong-potong.
Berjam-jam membaca dan menulis tanpa pembatasan yang terburu-buru, lebih baik daripada berjam-jam bermain game atau bolak-balik mengoperasikan smartphone hanya sekadar memonitor perkembangan medsos yang riuh.
Pada banyak kepentingan global, kebudayaan dibawa pada langgam yang instant, cepat dan pendek dengan pembalutan narasi yang efektif dan efisien sebagai alibi, padahal hanya untuk sekedar memenuhi kaidah tertentu dalam banyak kepentingan.
Gurita bisnis, politisasi bahasa redaksional enggan menghadiri karya maupun informasi yang mendalam. Kegairahan tersebut sebagai mimetisme budaya instant yang cenderung membuat kebodohan, dampaknya menjadikan malas, tidak berfikir konstruktif dan komprehensif. Banyak aspek tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang penting dan bermakna.
Selesai
Daftar Bacaan;
(1) Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum, Dr. Hartini, M.Hum. 2021. Makna Filosofis Tata Ruang dan Arsitektur: Penerbit Lakeisha.
(2) Ganap, Victorious. 2020. Krontjong Toegoe: asal-usul musik keroncong: Kompas.
(3) P. Nas, Martien de Vletter. 2009. Masa lalu dalam masa kini: arsitektur di Indonesia: books.google.co.id.
Rekomendasi
-
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (3)
25 Januari 2022, 18:47 WIB -
Minahasa Raya; Indahnya Bunaken, Musik Kolintang Hingga Kue Klappertaart
18 November 2021, 23:59 WIB -
Budaya Katuranggan Oleh Pria Jawa
18 November 2021, 08:23 WIB -
Kaweruh Kesadaran 4 Kemujuran, Maestro Lukis Grafir Kaca Kang Jajang
10 Desember 2021, 08:34 WIB -
Mapian Biodiversity Conservation (MBC), Konservasi Penyu di Pulau Cendrawasih
15 Desember 2021, 14:10 WIB