Kearifan Lokal pada Masjid Margo Yuwono

Tulisan tersebut masih menempel kuat walau sudah berumur satu setengah abad lamanya. Masih jelas terbaca abjad “hanacaraka datasawala padhajayanya magabathanga.”

23 Maret 2022, 02:17 WIB

Nusantarapedia.net — Kearifan lokal pada . Para pendahulu bangsa Indonesia di berbagai tempat sangat arif dan bijaksana dalam hal praktik beragama. Menjalankan suatu ajaran yang dianutnya, dalam hal ini ajaran agama islam dengan nafas kultural jawa yang selaras.

Menurut beberapa sumber, islam di tanah air datang dari beberapa wilayah Jazirah Arab maupun kebudayaan pan muslim dunia, seperti islam dari jalur ahlul bait, handramaut, samarkand, azmatkhan, champa dan lainnya.

Membaca papan nama masjid tidak menghilangkan kesan bahasa jawanya, yaitu bernama

Yah, jaman berganti, waktu berubah, generasi silih berganti datang dan pergi, terlebih saat ini generasi sudah bertransformasi menjadi generasi milenial dengan gaya digital.

Dalam perjalanan syiar dan dakwah, telah terjadi percampuran budaya di dalamnya dengan budaya lokal Nusantara. Terjadi proses akulturasi, asimilasi dan resepsi, tanpa meniru semua budaya yang dibawa para ulama tersebut, karena memang penyebaran agama tersebut dilakukan dengan media dakwah kebudayaan.

Salah satu contoh di kota Yogyakarta, tepatnya di dalam area benteng (benteng jeron), Keraton Yogya, di Jalan Langenastran Lor.

Ada bangunan masjid bernama yang di bangun pada tahun 1874. Bentuk arsitektur serta plakat-plakat tulisan dan nama masjid tidak seperti bangunan masjid jaman sekarang yang banyak mengadopsi masjid-masjid gaya arsitektur di Timur Tengah dan dunia yang cenderung gaya pan Arabian atau modern.

Membaca papan nama masjid tidak menghilangkan kesan bahasa jawanya, yaitu bernama , tidak seperti nama masjid sekarang yang kebanyakan menggunakan bahasa arab, seperti masjid Al Ukhuwah, Al Hidayah, Baitul Shalihin dan sebagainya.

Ya, bicara kearifan lokal tentu sudah berkembang menjadi satu kesatuan yang melibatkan banyak unsur di dalamnya dalam proses pembentukan kebudayaan.

Seperti pada bangunan masjid tempo dulu di kota Yogyakarta ini, ini sangat kental nuansa budaya jawanya. Plakat yang menempel di salah satu bangunan masjid menggunakan tulisan aksara jawa. Pada tahun pembangunan masjid bertuliskan tahun 1874, memang penggunaan bahasa dan terutama tulisan Jawa lazim digunakan kala itu.

Huruf abjad jawa sebagai dasar menulis dan membaca sebagai media bahasa jawa, saat ini tidak sedikit masyarakat jawa sendiri tidak bisa membaca menulis dan berbahasa jawa dengan baik dan benar.

Yah, jaman berganti, waktu berubah, generasi silih berganti datang dan pergi, terlebih saat ini generasi sudah bertransformasi menjadi generasi milenial dengan gaya digital. Itulah hakekatnya sebuah kehidupan, selalu berputar atau “cakra manggilingan,” seiring perkembangan jaman, adat istiadat dan budaya jawa semakin memudar.

Rangkaian Spiritual Budaya Jawa, dari Bulan Rejeb hingga Sawal (1)

Tatkala kita datang ke komplek Masjid Margo Yuwono di area komplek Keraton Yogyakarta, kita terasa asing dengan bentuk bangunan masjid beserta ornamen-ornamen dan tulisan di dinding masjid. Tulisan tersebut masih menempel kuat walau sudah berumur satu setengah abad lamanya. Masih jelas terbaca abjad “hanacaraka datasawala padhajayanya magabathanga.”

Itulah maha karya dari para leluhur kita, yang telah mengajarkan agama dengan kearifan lokalnya. (Ragil74)

Masjid Jogokariyan dan Keunikannya
Resepsi Budaya Bhairawa Tantra dan Sadranan, hingga Slametan Kendurenan (1)

Terkait

Rekomendasi

Terkini