Menjaga Keaslian Spot Sejarah di Tengah Hasrat Wisata Masyarakat
Nusantarapedia.net — Menjaga Keaslian Spot Sejarah di Tengah Hasrat Wisata Masyarakat
Dewasa ini, sepertinya kecenderungan masyarakat terhadap eksistensi dan potensi sumber sejarah meningkat. Bahkan tak jarang aktivis secara individual, merdeka dan independen rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk membiayai risetnya sendiri.
Komunitas peduli lingkungan bermunculan, bersinergi dengan para aktivis kebudayaan demi menyelamatkan situ-situs peninggalan dan spot-spot bersejarah melalui riset panjang yang melelahkan. Ini seperti membangunkan tidur panjang para punggawa. Stake holder yang berkapasitas di bidangnya teruji loyalitas dan kinerjanya. Bagaimana kemudian pemerintah melalui kebijakannya mendukung dan memfasilitasi upaya konservasi ini.
Di Kabupaten Klaten, misalnya. Banyak ditemukan situs-situs peninggalan Mataram kuno, peradaban Islam hingga masa kolonial Belanda. Batu-batu purba, sumber alam yang masih asli dan sakral, bangunan-bangunan kuno hingga cerita dan hikayat dari generasi emas di masanya. Itu semua kekayaan sejarah dan literasi yang luar biasa. Sekeras apapun kerja stake holder terkait dalam upaya konservasi ini, penemuan-penemuan sejarah baru terus saja bermunculan.
Masyarakat peduli potensi sejarah kini lebih merdeka. Mereka mempunyai format sendiri bagaimana merawat sumber-sumber sejarah tanpa menunggu pemerintah turun gunung. Ini merupakan spirit yang luar biasa di tengah hegemoni teknologi dan hedonisme yang bertubi-tubi menggempur semangat para generasi progresif. Kesadaran masyarakat akan eksistensi sumber sejarah tak lepas dari bagaimana mereka belajar dari kegagalan dan pragmatisme para pemangku kepentingan dalam menempatkan sumber sejarah ini sebagai sumber ilmu pengetahuan yang tak ternilai.
Kemunculan aktivis-aktivis sejarah beserta temuan-temuan mereka, selain memiliki arti tersendiri bagi perkembangan ilmu pengetahuan, juga bisa menjadi tolak ukur seberapa jauh suatu daerah memiliki sumber daya manusia yang mampu menjaga dan melestarikan situs-situs kuno. Tentu, memang dalam perjalanannya pergerakan mulia ini sangat resisten adanya pembelokan orientasi karena pengaruh beberapa oknum yang mengusung kepentingan tertentu. Karenanya, komitmen intrinsik perlu dibangun.
Di lain sisi, carut marutnya bidang kearsipan di negeri kita begitu membudaya. Temuan-temuan belum maksimal terinventarisasi dengan rapi. Ini berbanding terbalik dengan semangat kekinian generasi milenial dalam rangka turut membangun bangsa melalui kekayaan sejarahnya. Penyuguhan sejarah sejauh ini masih berupa pengumpulan, pendataan manual temuan dan disajikan dalam narasi yang sederhana dan belum memenuhi standarisasi era digital.
Kendati langkah-langkah pengumpulan data sejarah telah dipenuhi mulai dari Heuristik yakni tahap pengumpulan sumber, Verifikasi/Kritik yakni tahap pengujian sumber, Interpretasi yakni tahap penafsiran sumber hingga Historiografi yakni tahap penulisan peristiwa sejarah. Demi turut menjawab tantangan digital, diversifikasi produk berupa data infografis, video, dan foto-foto sangat diperlukan. Untuk itu kerapihan arsiparis juga perlu penataan.
Di Indonesia, proses pencarian arsip adalah hal yang tak mudah dilakukan. Digitalisasi arsiparis belum optimal dijalankan. Pekerjaan mencari arsip masih merupakan pekerjaan setengah mati yang harus dilakukan petugas. Terlebih kearsipan sejarah yang begitu kompleks aspek-aspeknya. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan para pemangku kepentingan agar semangat dan perjuangan para pegiat sejarah tidak tercederai oleh birokrasi administrasi kearsipan.
Wisata dan Potensi Kerusakan Spot Sejarah
Wisata berbasis spot kesejarahan sedang diminati masyarakat Indonesia. Penemuan-penemuan spot sejarah banyak disulap menjadi obyek wisata baru berbasis pedesaan lagi-lagi atas tujuan melestarikan dan mengenalkan sejarah pada masyarakat. Lalu, bagaimana fakta yang berkembang?
Wisata, terlebih wisata sejarah dan wisata budaya merupakan usaha real yang membutuhkan totalitas penuh baik sumber daya manusia hingga sumber daya alamnya. Tujuan awal dibukanya wisata sejarah yang berbasis pada penemuan benda-benda atau situs-situs bersejarah idealnya untuk mencerdaskan dan menambah wawasan masyarakat tentang sejarah situs-situs itu sendiri. Selain itu, penemuan benda bersejarah di suatu tempat menandakan bahwa tempat tersebut adalah awal bertumbuhnya suatu peradaban dan pengetahuan kuno yang patut dilestarikan dan dijaga keasliannya. Namun, tak jarang eufooria dan hasrat berwisata justru merusaknya.
Melalui para volunteer, banyak sekali ditemuakan situs-situs dan bangunan kuno bersejarah dan bernilai pengetahuan tinggi. Oleh pemerintah desa, penemuan-penemuan ini sedang tren dikelola sebagai tempat wisata di bawah pengelolaan Bumdes. Tujuan utamanya, menaikkan pendapatan desa melalui wisata. Selebihnya, jelas, untuk memberi wawasan kesejarahan pada masyarakat. Tak jarang inovasi dilakukan demi memberi kepuasan dan kenyamanan pada wisatawan, dibangunlah spot kekinian yang berdampingan dengan spot sejarah yang utama.
Belakangan tren ini sedang berkembang. Inilah yang kemudian menimbulkan absurditas bahkan kerusakan. Alih-alih pemerintah berupaya menghidupkan literasi sejarah kepada masyarakatnya, yang terjadi justru tak lebih dari euforia peningkatan minat wisata saja. Parahnya, masifnya pendatang atau wisatawan mengakses spot sejarahnya justru merusak keberadaan fisiknya. Inilah yang kemudian diperhatikan bahwa, sekali lagi, wisata sejarah itu melibatkan penuh sumber daya manusia dan sumber daya alamnya. Kapasitas sumber daya manusia dalam hal ini adalah kemampuan menejerial dan penataan sangat berpengruh bagi terwujudnya idealitas tujuan. Tidak semata-mata memuaskan hasrat wisata masyarakat juga peningkatan pendapatan daerah. Namun, ada sisi urgent yang harus diselamatkan. Keaslian tempat dan peninggalan (herittage) itu sendiri.
Sedikit melongok ke negara jauh di sana. India, tepatnya. Bagaimana pemerintahnya menutup Taj Mahal sebagai destinasi wisata dunia, adalah wujud komitmen pemerintahnya dalam menjaga sakralitas Taj Mahal itu sendiri. Kendati alasan lain adalah memutus transmisi virus covid-19, sehingga ditutupnya pengunjung terutama dari Eropa. Bagaimana tidak, banguan makam tua bertajuk tempat ibadah (masjid) yang didirikan tahun 1638 ini tentu sudah terlalu renta. Banyak sudut-sudut yang telah mengalami kerusakan. Tidak mengherankan karena setiap tahunnya sekitar empat juta wisatawan datang tumpah ruah.
Tentu, ini bukan keputusan mudah, mengingat negara menerima pendapatan yang luar biasa dari wisata religi ini. Namun, mereka sadar bahwa kekayaan sejarah ini lebih penting lagi untuk diselamatkan.
Bagaimana di Indonesia dewasa ini? Menyoroti euforia wisata yang terjadi melalui pengamatan penulis di beberapa desa wisata, tentu harus segera ada pihak-pihak yang berkompeten terhadapnya untuk ikut memberi ‘kuliah’ pada para punggawa desa. Tujuannya, agar penemuan-penemuan sejarah ini benar-benar menjadi salah satu oase ilmu pengetahuan sejarah, bukan hanya spot yang bisa dimanfaatkan untuk menarik wisatawan. Pemerintah setempat dan masyarakat mempunyai tenggung jawab besar untuk mencerdaskan masyarakat yang lain, mengingat daerahnya adalah pusat bertumbuhnya peradaban kuno yang memang patut dilestarikan.
Absurditas Fungsi
Adalah ketidak jelasan fungsi dari sesuatu hal yang sudah disepakati secara umum sebelumnya. Dalam konteks kepariwisataan, absurditas fungsi bisa terjadi jika pengelola tidak cerdas dalam menata dan menempatkan spot-spot (terutama spot baru yang berdampingan dengan spot asli wisata) sehingga yang terjadi adalah ketidak jelasan fungsi dari spot aslinya tersebut.
Contoh, sebuah destinasi wisata yang menyajikan temuan bangunan kuno peninggalan colonial Belanda. Idealnya, pembangunan wisata menitik bertakan pada orientasi pendidikan, bagaimana memberi edukasi kepada wisatawan tentang sejarah dan fungsi bangunan tersebut. Ini harus masif dilakukan dengan cara apapun. Bisa menggunakan jasa guide atau menyediakan spot tulisan yang menyajikan sejarah lengkap bangunan tersebut.
Ketidak mengertian pemangku kepentingan, menyebabkan resistensi kemandegan edukasi penting ini. Apalagi, biasanya, yang sedang tren, oleh pengelola wisata, di sekitaran tempat bersejarah tersebut didirikan spot baru lain yang fungsi dan sifatnya sangat jauh dari esensi peninggalan sejarah aslinya. Spot baru itu misalnya, replikasi suasana kejepeng-jepangan sebagai sudut foto dan selfi pengunjung, pertanyaan yang seharusnya muncul di benak masyarakat yang kritis adalah, apa hubungan antara peninggalan colonial Belanda dan suasana Jepang? Ini yang disebut absurditas fungsi. Jika ini tidak mendapat perhatian dan masukan, akan mencederai perjuangan para periset muda dan mandiri.
Integrasi Pembangunan Kepariwisataan dengan Strategi Kebudayaan (1)
Keindahan Kabupaten Supiori Papua yang Wajib Dikunjungi
Rekomendasi
-
Bulan Sutena dan Potret Hedonisme Remaja Indonesia
17 November 2021, 22:52 WIB -
Strategi Kebudayaan Nasional Kekinian, Lebarkan Dimensi Pemikiran
23 November 2021, 11:59 WIB -
Aloha ‘Oe, Maluku Tanah Pusaka hingga Pulanglah Uda menjadi Motif Lagu Budaya
3 Februari 2022, 16:25 WIB -
Inilah 5+ Manfaat Membuat Blog Bagi Pelajar, dari Hobi sampai Cuan
13 Februari 2022, 09:44 WIB -
Integrasi Pembangunan Kepariwisataan dengan Strategi Kebudayaan (1)
5 Januari 2022, 01:16 WIB





