Resepsi Budaya Bhairawa Tantra dan Sadranan, hingga Slametan Kendurenan (1)

28 Februari 2022, 15:14 WIB

Nusantarapedia.net dan Sadranan, hingga Kendurenan

Sebulan sebelum memasuki Ramadhan, masuk bulan (Sya’ban) masyarakat desa di Jawa biasa menggelar tradisi sadranan.

Sadranan ini meliputi kegiatan bersih makam, kenduri, berdoa bersama kemudian makan bersama. Seolah lebih bermakna dari hari raya idul fitri, momentum sadranan menjadi ajang ritual sakral masyarakat karena diyakini di dalamnya terkandung nilai-nilai yang sangat tinggi. Jadi, tidaklah mengherankan jika masyarakat perantau yang jauh pun rela pulang kampung demi berkumpul dengan keluarga dalam suasana sadranan.

Sadranan, sebuah akulturasi budaya, dimana dakwah Islam para ulama wali songo sedikit demi sedikit berupaya memasukkan ajaran Islam melalui ritual Hindu-Budha yang masih diyakini masyarakat.

Sadranan adalah tradisi Hindu-Budha yang berkembang pada abad ke 15. Oleh para wali songo disisipkan doa bersama secara islami, juga bersih makam yang dimaksudkan sebagai pengingat bahwa semua manusia hidup akan menuju kesana (ke alam kubur) untuk itu wajib bagi yang masih hidup untuk selalu berbuat kebajikan. Penghormatan kepada leluhur dilakukan dalam bentuk doa bersama agar arwah para leluhur mendapat ampunan dan diterima amalnya di sisi Gusti Allah Ta’ala.

Ubo rampe atau peralatan sadranan telah mengalami pergeseran budaya. Dahulu ubo rampe berupa makanan; apem, ketan, dan kolak, kemudian bergeser ke jajanan pasar (buah-buahan) dan kini selain nasi tumpeng, ayam ingkung juga dilengkapi makanan ringan (kudapan kekinian) dan jajanan kemasan anak-anak yang mudah di dapat di warung. Artinya, masyarakat sudah bertransformasi dalam cara berpikirnya bahwa makanan hanyalah simbol, bukan sarana doa terlebih tujuan.

Secara sosio-kultural, implementasi dari ritus sadranan tidak hanya sebatas membersihkan makam-makam leluhur, selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak, dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa.

Sadranan juga menjadi ajang silaturahmi keluarga dan sekaligus menjadi transformasi sosial, budaya, dan keagamaan. Prosesi ritual Sadranan biasanya dimulai dengan membuat kue apem, ketan, dan kolak. Adonan tiga
jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri ditusuki lidi (biting).

Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/ater-ater (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesholihan sosial kepada sesama.

Apapun itu, nilai-nilai yang terkandung dalam sadranan inilah yang lebih esensi untuk dipertahankan. nilai-nilai tersebut diantaranya; nilai religius, nilai syukur, nilai gotong royong, nilai berbagi, nilai dan nilai saling menghormati.

Kronik Kali Opak, dalam Romantisme, Manajemen Air dan Gempa (1)

Upacara Sadranan Erat dengan Ajaran

Dalam bahasa sansekerta, “” atau “sadranan” dari kata “sraddha.” Upacara sraddha terkait dengan upacara oleh umat Hindu di pulau Jawa. Fungsinya untuk mengenang atau memperingati arwah seseorang yang telah meninggal. Saat ini ritus sraddha dalam bentuk reminisensi upacara kenduri, dan telah mengalami resepsi dari Hindu ke Islam.

Di bagian lain upacara Sraddha merupakan ritus yang dilakukan oleh sekte maupun aliran yang lain, karena berkembang beberapa madzhab. Sekte ini muncul dari abad ke-7 dan berkembang hingga abad ke-14. Dari pemerintahan Ratu Shima di Kalingga hingga Majapahit.

Bermula berkembang di daerah antara poros Pesisir Utara hingga Kedu. Yakni di daerah Jepara - Cirebon sampai Dieng sebagai pusat. Dalam perkembangannya menyebar ke seluruh Jawa, terutama saat pusat pemerintahan Medang berpindah ke daerah Jawa bagian Timur.

Bhairawa Tantra merupakan sekte dari pecahan dan sinkretisme aliran Siwa Hindu dan Buddha Mahayana, merupakan sekte rahasia dan tertutup.

Menurut Drs. R. Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2: Sekte ini menggunakan kitab suci yang dinamakan Tantra sebagai pegangan, berisi hal-hal tentang keagamaan dan ritual, berupa pemujaan yang bersifat sihir dan ghaib. Mantra, jampi, simbol-simbol mistik, dan pernik-pernik lainnya memegang peranan penting dalam usaha manusia untuk mencapai persatuan dirinya dengan Tuhan.

Tantrayana atau Bhairawa Tantra menghasilkan ritual-ritual amoral dan membangkitkan kegelapan peradaban selama beberapa abad. (Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa:Penerbit Mizan, Bandung, 1995)

Sedang pendapat dari Dr. Prijohutomo, Sedjarah Kebudajaan Indonesia: Menurut ajaran ini, orang hendaknya tidak menahan nafsu, sebaiknya manusia itu memperturutkan hawa nafsu. Bila manusia terpuaskan nafsunya, maka jiwanya akan menjadi merdeka.

Aliran ini sering dinamakan Bhairawa Tantra karena pemujaanya ditujukan kepada Dewa Siwa.

Sinkretisme dari Siwa-Budha berfungsi untuk menjaga kewibawaan penguasa. Banyak dianut oleh raja-raja di jaman Medang periode Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Cara pandang dan praktik dari aliran ini dengan memperturutkan hawa nafsu. Dengan mengumbar hawa nafsu hingga puas dan berada dititik jenuh. Pada akhirnya akan lebih mudah diarahkan untuk menjauhi dan mengendalikan nafsu-nafsu tersebut.

Ritual dalam aliran ini disebut dengan istilah Pancamakarapuja. Ritual Bhairawa Tantra dengan Ma-lima tersebut terdiri dari; Matsiya (ikan), Mamsa (daging), Mada (minuman keras), Mudra (ekstase melalui tarian yang terkadang bersifat erotis atau melibatkan makhluk halus hingga “kerasukan”, juga berarti sikap tangan yang dianggap melahirkan kekuatan gaib), dan Maithuna (seks bebas). (Prof. Dr. H. M. Rasjidi,  Islam dan Kebatinan, 1967)

Dalam bentuk yang ekstrim bersifat esoterik, pemujaan bersifat Tantrik memerlukan persembahan berupa manusia. Ritualnya dengan persembahan meminum darah manusia dan memakan dagingnya. (Paul Michel Munoz, Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia).

Maithuna atau ritual persetubuhan dalam Bhairawa Tantra dimungkinkan dari dasar pandangan pecahan agama sebagai sekte atau aliran yang memandang hubungan kelamin atau seksual bersifat suci, mengandung nilai mistik dan dimaknai sebagai simbol  kemakmuran dan kesuburan. Tujuannya untuk pengharapan kepada Yang Kuasa. Memohon keselamatan, kesuburan, kemakmuran, panen yang melimpah, kemenangan perang dsb.

Salah satu bentuk ritual Bhairawa Tantra dilakukan di suatu tempat luas/padang. Aneka peralatan dan sesaji seperti tumpeng berupa daging manusia, darah manusia dan hewan, minuman arak, dan aneka sesaji lainnya di letakan di tengah-tengah yang dikitari melingkar oleh pemeluknya. Selanjutnya melakukan ritual dengan persetubuhan massal (gangbang), sambil memakan aneka daging, meminum darah dan tuak, hingga menyebabkan keadaan “trance.”

Dari keadaan yang seperti itu, manusia berada di puncak hawa nafsu hingga akhirnya berubah drastis dengan merasakan keadaan yang sebaliknya. Dengan demikian akhirnya, hawa nafsu manusia selanjutnya mudah dikendalikan, dan upaya-upaya spirit dalam berhubungan dengan Tuhan akan cepat sampai menuju Nirwana dan tercapainya keadaan yang Esa antara manusia dan Tuhan.

Selanjutnya, pada abad ke-13 dan 14, islam mulai berkembang di pesisir Utara Jawa. Para Wali dan sebagian kelompok lain menganggap bahwa Bhairawa Tantra merupakan ajaran yang menyimpang dari Pancamakara pada Kitab Kali Mantra. Ajaran ini dianggap sebagai bentuk aliran pangiwa (kiri) dari interpretasi ajaran Tantrayana.

(bersambung bagian 2 …)

Resepsi Budaya Bhairawa Tantra dan Sadranan, hingga Slametan Kendurenan (2)
Rekonstruksi Masa Lalu Melalui Visi Spiritual

Terkait

Rekomendasi

Terkini