Suhardi, Pria Tua Bermental Baja, Naik Sepeda Blora-Jakarta
“Dari hasil kemauannya dalam mencari nafkah dengan memijat, pada kenyataanya dia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya walau tentu jauh dari kata lebih.”
Nusantarapedia.net, Pemalang — Suhardi, pria tua bermental baja, naik sepeda Blora - Jakarta. Faktor usia ditambah kesulitan ekonomi, tidak semua orang menjadi lemah untuk melangkah, menjalani sisa usianya, ada juga dalam kondisi serba tak pasti.
Mereka menatapi hari dengan hati yang selalu berseri, pandai menyimpan kegundahan hati, sepertinya suka ataupun duka, sama saja. Kembali kepada kita bagaimana cara menyikapinya.
Adalah seorang Suhardi, lelaki tua berusia 54 tahun, warga Karang Jati, gang 14, kecamatan Blora Kota Jawa Tengah, setiap hari dihadapkan pada berbagai macam kesulitan, dari masalah usia yang sudah tidak muda lagi, ditambah dengan kesulitan ekonomi yang mendera lelaki kelahiran asli Pemalang ini.
Setiap hari dia berkeliling dengan sepeda hitam bututnya, mendatangi tiap rumah teman atau saudaranya untuk menawarkan keahlianya dalam memijat. Sesekali ke terminal bis, dimana dia adalah bekas kernet bis antar kota antar propinsi, untuk menawarkan pijatan tangannya ke awak bis yang kebanyakan mengenal dirinya.
Dari hasil kemauannya dalam mencari nafkah dengan memijat, pada kenyataanya dia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya walau tentu jauh dari kata lebih.
Pria yang berbadan kecil, dengan penampilan tergolong kurus kelihatannya, di balik itu semua tidak sangka, jika dia beberapa kali bolak balik menempuh ratusan kilometer, hanya mengendarai sepeda bututnya.
Lagi-lagi Penimbunan Minyak Goreng di Tolitoli, Sulawesi Tengah.
Ketika ditemui Nusantarapedia.net di terminal Pemalang, Jum,at (18/3/2022), Suhardi lagi istirahat minum kopi. Menurut keterangannya baru nyampai jam 03.00 pagi, setelah menempuh perjalanan dari Blora kemarin. Berangkat sehabis subuh jam 05.00 pagi, seharian dia mengayuh sepeda berangkat dari rumahnya Karang Jati Blora, melewati jalan raya Jepara, Kudus, Demak dan sorenya sampai kota Semarang dengan beberapa kali istirahat dan makan.
Sepintas dengan perlengkapan serta pakaiannya orang tidak percaya jika dia hanya menggoes dengan sepeda butut, menempuh jarak yang cukup jauh, Blora - Semarang. Menurut keterangan para awak bis, membenarkan jika Suhardi kerap bepergian antar kota dengan sepeda, terkesan kaya orang ngga waras, kata sopir bis yang tak mau di sebut namanya.
Dalam menempuh perjalanannya yang tergolong nekad, dia hanya mengenakan pakaian rangkap buat ganti, berbekal sebotol air teh yang diikat biar tidak jatuh dengan karet ban bekas biar tidak jatuh. Tidak terlalu banyak dia membawa bekal uang, karena memang keadaan ekonominya. Sebotol minyak urut tidak pernah lupa dia bawa, sebagai modal untuk memijat orang, karena memang profesinya sebagai tukang pijat.
Dalam perjalanannya, banyak kendala yang dia temui, mulai dari seringnya dia hampir keserempet kendaraan, sampai kempes ban. Namun sepedanya tergolong kuat, karena kerangkanya masih utuh tanpa las-lasan.
Dia selalu menjaga kondisi ban serta ruji sepedanya, diusahakan selalu bagus tidak menepis.
Sembari menunggu waktu sore, dia akan melanjutkan meng-goes sepeda ke Jakarta untuk menemui saudaranya di Jakarta.
“Saya ada beberapa saudara di Jakarta mas?,” ujarnya. Ketika ditanya kenapa tidak pakai bis? dia beralasan di samping tidak punya uang, naik sepeda lebih nyantai, bisa berhenti istirahat, sekaligus mencari orang yang mau menggunakan jasa pijatannya.
Dalam sehari dia bisa menempuh empat sampai lima kota, kecuali jika hujan dia berhenti berteduh.
Jarak antara Blora sampai ibu kota Jakarta adalah jarak yang jauh, biasa di tempuh oleh bis-bis besar atau kendaraan pribadi. Namun, tidak dengan Suhardi.
Bersepeda ke Jakara bukan perkara mudah, apalagi sepeda Suhardi yang terlihat tidak layak. Tapi, itu lah tadi, walau di usia tua dengan keterbatasan ekonominya, Suhardi seorang lelaki tua, menyikapi halangan hidupnya dengan bersahaja, menempuh ratusan kilometer dengan sepeda, penuh semangat dan tekad yang kuat, sekuat sepeda bututnya. (Ragil 74)
Tingkatkan Kapasitas Awak Ambulan, Layanan Ummat Muhammadiyah Klaten Gelar Pembekalan
Seperti Kuburan, Penerangan Lampu Taman Kota ‘Mochtar’ Tak Diperhatikan
Rekomendasi
-
Sajak Satu Maret 2010
1 Maret 2022, 21:21 WIB -
Gloomy Sunday, Lagu Kematian hingga Bunga Terakhir Bebi Romeo
27 Januari 2022, 13:42 WIB -
Aku, Perempuan yang Menggurat …
5 Maret 2022, 14:14 WIB -
Caregiver, Antara Kebutuhan dan Pandangan Ketabuan Masyarakat
13 Desember 2021, 04:13 WIB -
Nikah Siri, Antara Harapan dan Kenyataan
21 Maret 2022, 01:39 WIB


