Becak Si Randu
Bercengkrama sembari menunggu penumpang, kebahagian mereka tak hilang. Walau belum ada uang buat mbedang (minum) dan madang (makan), hati mereka tetap tenang. Sesekali, di antara mereka berdendang tuk pelipur lara.
Nusantarapedia.net, Pemalang Jateng — Harta adalah sebuah kata yang membuat banyak orang jadi bahagia. Karena harta terkadang muncul sebuah kasta.
Menurut budaya salah satu agama, kasta Brahmana menempati peringkat pertama dalam sebuah tingkat tatanan kehidupan manusia. Banyak kemudahan-kemudahan, serta penghormatan yang didapat dari golongan pertama ini. Umumnya terdiri dari para golongan raja-raja dan keluarganya, para satriya serta golongan cerdik cendekia.
Kemudian dalam suatu golongan kasta (klaster) yang paling bawah adalah kaum Sudra. Golongan ini biasanya terdiri dari para tani, kaum buruh dan pedagang kecil dengan segala keterbatasan dan minim fasiltas, biasa di terima dan di jalani kaum sudra.
Akan tetapi pada hakekatnya, kebahagian seorang manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh banyaknya harta benda yang dimiliki. Kesehatan, keselamatan, dan kebebasan ekspresi dan pergaulan, sesungguhnya adalah kebahagian yang sesungguhnya, disitulah letak kemanusiaannya. Harta hanya sebagai pelengkap saja.
Meski demikian, wajah mereka tak nampak pucat pasi. Tergambar akan keikhlasan dan kepasrahan hidup. Meski sesekali juga bermuram durja.
Senyum di Tengah Banjir Kalideres
Di Pemalang Jawa Tengah, lebih tepatnya di pangkalan becak Si Randu Pemalang Kota, hampir setiap hari terutama di pagi hari, berkumpul para pengais rupiah. Di pinggir jalan yang cukup ramai, mereka terlihat bercengkerama dengan lepasnya, sesekali mereka tertawa bersama dalam suasana keakraban yang tak di buat-buat. Jujur!
Mereka para tukang becak, sebuah profesi menjual jasa dan tenaga, menghantarkan orang berpergian sesuai dengan permintaan penumpang.
Wajah mereka terlihat sangat berseri, walau mungkin ada di antara mereka dengan perut yang belum terisi nasi, karena belum ada uang dari hasil tarikan. Yah, buat membeli segelas teh panas manis dan sepiring nasi lauk tempe, makanan kesukaan mereka, yang konon kata ahli gizi belum memenuhi empat sehat lima sempurna, atau kata politisi negri tahu tempe sebagai ambang batas kekuatan rakyat. Tempe kebutuhan substitusi yang menjadi pokok buat rakyat Indonesia.
Meski demikian, wajah mereka tak nampak pucat pasi. Tergambar akan keikhlasan dan kepasrahan hidup. Meski sesekali juga bermuram durja.
Bahkan mereka tergolong orang kuat, mengayuh beban di atas becaknya, hanya bermodal tenaga dari bakaran kalori sepiring nasi lauk tempe dan secangkir kopi.
Ada yang terkadang setengah hari baru kemasukan nasi, karena sepinya penumpang. Tetapi mereka tak pernah mengeluh, tetap mengayuh bersimbah peluh, hati mereka tegar bersikukuh. Yakin akan kuasaNya, meskipun kini, deru mesin-mesin semakin meminggirkannya.
Pemandangan pagi di pangkalan becak, membuat kita kagum berdecak, betapa bahagia itu bukan banyaknya uang di kantong atau saldo di atm.
Bercengkrama sembari menunggu penumpang, kebahagian mereka tak hilang. Walau belum ada uang buat mbedang (minum) dan madang (makan), hati mereka tetap tenang. Sesekali, di antara mereka berdendang tuk pelipur lara. (Ragil 74)
Angkringan atau Wedangan dan Budaya Jagongan
Ngadhang-adhang Rezeki
Rekomendasi
-
Mural, Kajian Semiotik dan Sosiologis
7 Februari 2022, 09:43 WIB -
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (4)
27 Januari 2022, 20:45 WIB -
Statistik Pengguna Internet Dunia dan Indonesia, Medsos Rajanya!
24 November 2021, 04:36 WIB -
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (2)
23 Januari 2022, 19:01 WIB -
Pecel, Sejarah dan Jenis-jenisnya
22 November 2021, 12:23 WIB
