Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (4)

27 Januari 2022, 20:45 WIB

Langgam dalam Bentuk Analisis Musik

Nusantarapedia.net — Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia - Makna langgam dalam dunia musik sangatlah luas, secara kontekstual sebagai definisi yang beragam. Seorang penyanyi pop tentu berbeda langgamnya atau cengkok vokalnya dengan penyanyi bergenre dangdut, melayu, blues, country dalam membawakan sebuah lagu yang sama.

Sekalipun style musik keroncong diformat pakem dalam penyajiannya, akan berbeda dan nampak langgamnya bila disajikan oleh kelompok keroncong yang berasal dari Jakarta, Solo, Melayu atau Ambon. Akan terasa sekali perbedaannya bahwa grup musik tersebut mewakili langgam/corak dengan cirinya masing-masing.

Langgam dalam definisi yang lebih khusus dari sudut pandang ilmu bentuk analisa musik, adalah; sebuah format penyajian irama musik dan vokal atau lagu yang dibatasi oleh aturan yang baku. Aturan tersebut mengikat pada pola dan struktur lagu yang dimaksud sebagai bentuk langgam.

Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (3)

Struktur tersebut diantaranya;
(1) Lagu tersebut berjumlah 32 birama.
(2) Dengan pola A-A-B-A, bagian B merupakan refrend atau chorus, sedangkan A2 dan 3 dengan nada yang sama dan A1 juga sama hanya berbeda dibagian akhir lagu.
(3) Lirik pada bagian A-A-B-A merupakan rangkaian cerita.
(4) Setiap bagian terdiri dari 8 birama, dikalikan empat menjadi 32.
(5) Langgam terdiri dari dan juga format langgam dalam musik pop, seperti lagu perjuangan, lagu daerah dan pop evergreen.

Ciri dari lagu langgam yang khas adalah, pada pembawaan vokalnya yang mendayu-dayu, seperti ciri vokal sindhen pada kesenian Karawitan Jawa, Degung-Madenda Sunda, Gambang Kromong Betawi atau langgam sindhen Gaya Banyuwangi, atau cengkok vokal Melayu Deli Serdang dengan lirik-lirik pantun, gurindam, juga puisi. Dibawakan dengan nada yang tinggi.

Lagu berformat langgam dapat disajikan dengan genre atau style dan instrument ansambel apapun (set orkes), bisa musik modern dengan irama pop ballad, bossanova, atau musik tradisional dengan instrument gamelan, kolintang, talempong, dan akustik keroncong. Namun, secara spesifik langgam yang dimaksud merupakan satu kesatuan utuh yang terdiri dari lagu langgam, irama musik atau style dan pemilihan set orkes atau instrumentnya.

Polish 20220126 151305298
Ciri dari lagu langgam yang khas adalah, pada pembawaan vokalnya yang mendayu-dayu, seperti ciri vokal sindhen pada kesenian Karawitan Jawa

Definisi langgam dalam musik, mengerucut pada langgam yang terbagi menjadi dua hal pokok yaitu, dan Jawa.

Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (2)

Ciri ;
(1) Dibawakan dengan set orkes instrument ansambel keroncong.
(2) Mempunyai bentuk irama atau style kroncong.
(3) Berstruktur 32 birama.
Contoh lagu; Bengawan Solo, Bandung Selatan di Waktu Malam, Jembatan Merah, Bunga Anggrek.

Ciri ;
(1) Dibawakan dengan set orkes instrument ansambel keroncong dan gamelan (karawitan). (2) Berjumlah 32 birama.
(3) Menggunakan bahasa jawa.
Contoh lagu; Nyidam Sari, Kelinci Ucul, Andum Basuki, Tak Eling-Eling.

Sejarah dalam Bentuknya dan Penggunaan Awal sebagai Kosakata

Sejak kedatangan bangsa Portugis di Nusantara, membawa pengaruh dalam bidang seni pertunjukan musik. Sebelumnya, Portugis dipengaruhi oleh gaya bermusik Spanyol dan Pan-Arabisme.

Kelahiran musik keroncong dipengaruhi oleh gaya bermusik para pelaut Portugis dengan musik “fado,” dibawakan dengan tarian “moresco” Spanyol. Tarian dan jenis musik ini tumbuh disekitar kebudayaan Maluku dan Ambon sebagai basis utama kolonialis. Musik fado pada awalnya merupakan musik-musik gereja juga pembawaan nada minor “moor” arabian.

Polish 20220126 152543191 1

Portugis dan VOC memindahkan basis kota dari Ambon Maluku ke Sunda Kelapa (Jakarta). Musik fado, tarian moresco turut serta dikembangkan di Sunda Kelapa tepatnya dikampung Tugu.

Dalam perkembangannya penggunaan nada mayor seperti dalam musik gereja dimainkan dalam repertoar musiknya.
Kampung Tugu merupakan cikal bakal kelahiran musik keroncong di Indonesia.
Di daerah Ambon yang terpengaruh gaya bermusik Hawaian dengan ciri instrument ukulele, turut serta melebur dalam pembentukan musik keroncong.

Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (1)

Pada awalnya, gitar cavaquinho menginspirasi para tawanan Portugis yang dibawa oleh Belanda dikampung Tugu, melahirkan alat musik Macina dan Prounga atau oleh orang Solo dinamakan Cak dan Cuk (ukulele), bunyi yang khas “crang-crong, crang-crong, crang-crong,” akhirnya disebut dengan keroncong.

Periodesasi tahap pembentukan musik kroncong;
(1) Masa awal sumber kebudayaan keroncong, tahun 1661-1880 di Maluku dan Sunda Kelapa (Kampung Tugu).
(2) Tempo doeloe, tahun 1880-1920 dari kampung Tugu menyebar ke Kemayoran dan Gambir. Di Surabaya muncul Komedi Stambul yang mengangkat tema cerita seribu satu malam, opera rakyat Eropa, maupun hikayat Persia.
(3) Masa keroncong abadi, tahun 1920-1960, di Jakarta dipengaruhi musik Gambang Kromong dan Tanjidor, dipengaruhi unsur budaya Tionghoa juga pengaruh Belanda, melahirkan banyak lagu bertema perjuangan pra dan pasca kemerdekaan. Di Solo sebagai titik awal kelahiran keroncong.
(4) Keroncong modern, 1960-sekarang,
instrument elektronik mulai digunakan dalam set orkes keroncong.

Lagu keroncong dalam perkembangannya dibedakan menjadi tiga struktur lagu, yaitu; Keroncong Asli, Langgam dan Stambul. Ciri Keroncong terdiri dari 28 birama, sedangkan Stambul berjumlah 16 birama. Lagu seperti Keroncong Moresco, Bandar Jakarta adalah format keroncong asli, sedangkan lagu Dayung Sampan, Keroncong Kemayoran, Stb.Jampang, Jali-jali adalah bentuk lagu Stambul, yaitu; Stb. I, II dan III.

Pada awalnya, bentuk lagu yang sederhana hanya berjumlah 16 birama, dampak dari budaya pop Amerika dan Barat turut serta berkembang menjadi 32 birama termasuk lagu Indonesia Raya. Lagu-lagu pop dan genre lagu dibanyak negara pada awalnya lazim dengan jumlah birama 32 dan bagian lagu berformat A-A-B-A, dalam perkembangannya kaidah tersebut tidak digunakan lagi.

Lagu-lagunyapun terasa sebagai bentuk perpaduan kebudayaan, unsur Tiongkok yang nampak pada keroncong gaya Kemayoran dan Gambir ditambah perpaduan dengan set orkes Tanjidor dan Gambang Kromong. Lagu seperti Jali-Jali, Kemayoran, Pasar Gambir, Sirih Kuning, Stambul Djampang sebagai masa pembentukan keroncong yang pokok.

Pada era selanjutnya, muncul keroncong dengan pengaruh kolonial pada masa perjuangan. Lagu seperti Kr. Miss Ribut, Kr. Telomoyo, Sepasang Mata Bola, Saputangan Bandung Selatan, Pahlawan Merdeka menjadi banyak diciptakan dengan karakter serupa. Pada periode ini penyebaran keroncong di banyak daerah mencapai perkembangan yang pesat.

Selanjutnya, jalur rel kereta api ikut berkontribusi dalam pengembangan musik keroncong. Dari Jakarta ke Surabaya, Solo juga Semarang, menghasilkan yang baru dengan cirinya masing-masing. Solo telah menjadi basis baru musik keroncong dengan ciri temponya yang lebih lamban.

Polish 20220126 151946029


Lagu seperti Lenggang Surabaya, Gambang Semarang dan Bengawan Solo tentunya sebagai hasil dari pengembangan musik keroncong yang telah menjadi bentuk, menjadikan ciri keroncong teridentifikasi sebagai keroncong gaya Jakartanan atau Surakarta.

Lirik lagu keroncong pada masa perkembangannya pada kebudayaan Betawi banyak dipengaruhi syair atau pantun bergaya Melayu. Penyerapan bahasa Belanda juga banyak dilakukan, hingga keroncong menyebar kebanyak daerah dengan banyak tema lagu dan variasi musik serta pemilihan instrument dalam set orkes-nya.

Lagu ataupun musik keroncong pada perkembangannya mengundang olok-olok oleh banyak kalangan, musik keroncong dengan pembawaan vokal yang mendayu-dayu dianggap mewakili kaum yang lemah sebagai bentuk kemalasan. Namun, karakternya yang lembut akhirnya justru banyak digemari dan meluas, tidak hanya masyarakat kelas bawah tetapi banyak kalangan atas yang ikut terbuai dengan alunannya.

Akhirnya, istilah langgam menjadi meluas digunakan sebagai definisi untuk menggambarkan sesuatu hal yang berbelit-belit, mendayu-dayu, berkelok-kelok. Maknanya tidak hanya digunakan pada pengistilahan musik keroncong namun pada penggunaan pada banyak bidang sebagai terminologi.

Berkelok-keloknya ragam hias pada ornamen atau ukiran properti diistilahkan sebagai langgam atau karakter budaya. Identifikasi pada obyek untuk mencari perbandingan atau perbedaan pada banyak hal sebagai gaya, style dan kebiasaan menjadi familier dengan kata langgam.

Bersambung bagian 5

Terkait

Rekomendasi

Terkini