Cultural Studies, Sebuah Metamorfosis
Nusantarapedia.net — Cultural studies, sebuah metamorfosis. Sering orang bingung membedakan apa itu studi budaya (cultural studies), Sosial budaya, dan budaya kontemporer. Diskursus budaya kontemporer sebenarnya tak bisa lepas dari cultural studies.
Di Barat, kajian cultural studies ini telah berkembang dari tahun 60-an, bukan lagi sebagai bahan kajian baru yang sedang getol dipelajari masyarakat intelektualnya.
Di Indonesia istilah ini menjadi rancu karena bersinggungan dengan budaya keetnisan yang merupakan bagian pokok dari kajian ilmu antropolgi.
Bicara tentang kajian budaya, yang muncul diskursus-diskursus tentang hal-hal yang berbau seni, pertunjukan, property keetnisan dan kebahasaan serta kebiasaan entitas tertentu.
Cultural Studies bukanlah obyek atau benda yang bisa dilihat secara kasat dan dikenali dengan pasti. Banyak pandangan yang menafsirkan studi budaya. Namun, intinya cultural studies adalah sebuah cara pandang, kumpulan pisau analisis untuk membedah suatu fenomena sosial yang sedang terjadi.
Memiliki sifat multidisiplin sehingga memiliki relevansi dengan fenomena-fenomena kekinian. Awal perkembngannya cultural studies sangat dipengaruhi oleh teori strukturalisme yang didominasi kajian semiotik dan sosiologis. Berikutnya, sangat dipengaruhi oleh postmodernisme sebagai sebuah pemikiran baru.
Kajian-kajian tanda, relativitas pengetahuan, kesadaran palsu, heterogenitas, nomadisme, life style, fetisisme media, youth culture dsb adalah bagian dari kajian cultural studies era postmodern.Tokoh-tokoh yang berpengaruh adalah Foucault, Deleuse, Guattari, Lyotard dan Baudrillard.
Cultural Studies adalah Disiplin Ilmu
Selama ini Cultural Studies dianggap sebagai kecenderungan cara atau landasan berpikir dari pada sebuah metodologi atau disiplin ilmu.
Dalam kajiannya, Cultural Studies mengombinasikan berbagai teori dan metode yang ada sehingga dalam perkembangannya ia membentuk format sebagai disiplin ilmu bukan lagi sekadar cara berpikir.
Cultural studies mengombinasikan berbagai pendekatan seperti; teori budaya, teori kritis, teori ideologi, teori subyek, antropologi, etnometodologi, semiotik, psikoanalisis, dan genealogi.
Pendekatan-pendekatan inilah yang mendasari cara berpikir cultural studies dengan menyesuaikan kebutuhan dengan melihat kebutuhan dan fenomena kontemporer.
Awalnya, Cultural studies masih sangat menggantungkan pendekatan kajiannya pada disiplin ilmu yang sudah mapan, seperti; antropologi, sosiologi, dan teori-teori politik. Kini, sudah menjadi disiplin ilmu yang memiliki arah, obyek kajian, tema isu-isu dan problematika yang khas. Dalam fase modernisnya setidaknya ada empat faktor yang mendasari perkembangannya.
Dekonstruksi Pemahaman Teori Kritis
Pertama, Pengaruh kelompok kulturalis di Inggris. Kelompok ini terbentuk pada tahun 1950-an melalui gerakan intelektual di Inggris yang dipelopori oleh Arnold, Richard, Leavis, Hoggart, William dan Thompson.
Isu berkembang di era industrialisasi seperti; budaya kelas pekerja, munculnya patron klien, kelas sosial dan demokrasi, perjuangan kelas, budaya dan anarkisme, perubahan tradisi, isu-isu desa dan budaya urban.
Kedua, Pengaruh Sosiologi. Isu-isu yang berkembang dalam cultural studies banyak dipengaruhi oleh tema- tema sosial yang berkembang dari waktu ke waktu.
Menariknya, ada penekanan terhadap budaya yang sedang hidup saat itu; kajian budaya anak muda (youth culture), budaya jalanan (Hippies, Punk, Rastafaria, dsb), kajian penyimpangan sosial, abnormalitas, dan kajian tentang institusi dari kacamata perluasan makna ‘kebudayaan’ serta sistem kepercayaan.
Ketiga, pengaruh Marxisme. Cuktural studies tidak melulu sebagai kecenderungan kajian abstrak, teoritis dan filosofis, melainkan sebagai praktek kebudayaan dan ‘alat perjuangan’.
Cultural studies tidak dibangun atas dasar kebutuhan teoritis semata, melainkan kebutuhan ideologis di mana aktivisme di masyarakat erat kaitannya dengan ideologis.
Kajian Cultural studies tidak hanya dilakukan untuk mengetahui sebuah kondisi, tetapi untuk membongkar kekuasaan asimetris, memperjuangkan kesetaraan kelas, dsb.
Keempat, Pengaruh strukturalisme. Berbagai bentuk resistensi dan perlawanan yang dihelat dalam cultural studies hanya dapat disajikan melalui media bahasa.
Perjuangan ideologi dan hegemoni tidak hanya melalui senjata dan perang. Bahasa dan tanda dalam perkembangan linguistik dan semiotik strukturalisme memilki peran sangat kuat dalam memberi warna pada perkembangan cultural studies.
Cultural studies totalitas menjawab pertanyaan berbagai fenomena kebudayaan kontemporer. Kalangan intelektual mengembangkan kajian ini untuk tujuan praktis seperti membongkar kekuasaan, ketidak adilan dan perjuangan kelas. Bukan lagi untuk kepentingan teoritis.
Mimetisme Media
Bahan bacaan:
- Piliang, Amir Y. Teori Budaya Kontemporer. Aurora. Yogyakarta: 2018
- Sardar, Ziauddin. Mengenal Cultural Studies. Mizan. Bandung: 2001
Rekomendasi
-
Gloomy Sunday, Lagu Kematian hingga Bunga Terakhir Bebi Romeo
27 Januari 2022, 13:42 WIB -
Manthous, Benyaminnya Jogja! dari nge-Band hingga Nembang (1)
7 Maret 2022, 14:36 WIB -
Ini kali, aku Odapus yang bernyanyi
13 Maret 2022, 03:19 WIB -
Candi Kedulan, 13 Kali Tertimbun Erupsi
25 Februari 2022, 15:37 WIB -
Suka Tresna Barokah, Pengolahan Susu Kambing di Kemirikebo Yogyakarta
14 Februari 2022, 16:11 WIB


