Wanita Tukang Derep, Semakin Terpinggirkan
Nusantarapedia.net — Wanita Tukang Derep, Semakin Terpinggirkan
Indonesia sejak dahulu kala terkenal sebagai negara agraris dunia, ini bisa dibuktikan dengan banyaknya negara di seantero jagat, banyak berdatangan di negeri Gemah Ripah Loh Jinawi ( negeri yang sejahtera pangan ).
Mulai bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda hingga Inggris. Mereka berlomba datang karena mendengar kabar tentang melimpah ruahnya rempah - rempah Nusantara, termasuk tanaman padinya yang menjadi bahan makanan pokok kita.
Tak ketinggalan bangsa dari pan Timur dan Asia seperti; Arab, India juga Jepang tak mau ketinggalan dengan bangsa Eropa, silih berganti jejakan kaki mereka di bumi pertiwi.
Kenapa di sebut sebagai negara agraris? Jawabanya adalah karena begitu luasnya lahan pertanian dan perkebunan yang dimiliki negara kita.
Dengan potensi jutaan hektar lahan dua sektor tersebut, semestinya adalah sebagai jaminan hidup bagi rakyat Indonesia.
Akan tetapi pada kenyataannya, para petani kita secara umum belum bisa dikatakan sejahtera dan berkeadilan secara merata, yang mana sebagai pemilik lahan pertanian.
Para petani harus dipusingkan dengan berbagai permasalahan dalam pengolahan lahannya, di mulai dengan mahal dan langkanya pupuk yang kerap terjadi di saat masa tanam dan di akhiri dengan harga gabah yang kocar kacir, dimainkan oleh sistem tata kelola dari hulu sampai hilir yang tidak berpihak.
Petani kita secara nyata belum sejahtera, apalagi bagi bukan pemilik lahan alias kaum buruh tani. Upah dari menjadi buruh tidak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan, untuk aneka kebutuhan yang saat ini tidak hanya sekedar untuk makan. Buah dari pembangunanisme yang diarahkan konsumtif.
Tukang Derep ( kaum buruh pemotong padi di saat masa panen ), adalah sebuah profesi yang sudah lama di tekuni para ibu - ibu di Indonesia, tentu untuk membantu kebutuhan keluarga atau sekedar menyambung hidup.
Khusus di pulau jawa, sebelum kedatangan teknologi terbaru, mesin pemotong padi Combine Harvester atau para petani biasa menyebut Kombet. Musim panen adalah harapan besar bagi kaum perempuan di pedesaan, menjadi andalan buat memenuhi kebutuhan. Dimana para juragan padi selalu menggunakan Jasa Tukang Derep yang di dominasi kaum perempuan, adalah harapan besar musim panen baginya.
Akan tetapi dengan adanya kendaraan ( mesin ) pemotong padi kombet, jasa mereka banyak tersingkirkan tidak terpakai. Hal ini di karenakan dengan menggunakan kombet, waktu potong padi lebih cepat dan tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak. Dalam pokoknya menjadikan efisien waktu dan anggaran, karena lebih cepat dan irit. ( pengakuan para juragan padi )
Dengan tidak di pekerjakan nya kebanyakan para Tukang Derep ini, menambah daftar tambahan banyaknya pengangguran di negri ini.
Kemajuan suatu peradaban bangsa adalah suatu keniscayaan, akan tetapi sumber daya manusianya mesti harus disiapkan, seimbang dengan teknologi yang disajikan.
Kemanakah para Tukang Derep itu melangkah? ketika hanya bermodal tenaga, mereka di singkirkan oleh kedatangan kendaraan pelahap ladang pertanian, si Combine Harvester alias Mesin Kombet. ( Ragil 74 ).
Menanam Bawang Merah di Rumah, Panen Sendiri Lebih Puas Dibanding Hasil Beli
Transformasi Pertanian Subsisten Menuju Kapitalisasi Industri Pertanian Mandiri
Rekomendasi
-
Mimetisme Media
18 Februari 2022, 08:27 WIB -
Wangsa Mataram, Cabang Ningrat Baru
11 Maret 2022, 18:18 WIB -
Perempuan dan Teknologi
16 Maret 2022, 08:03 WIB -
Mataram Kartasura, Lahir dan Tumbuh dengan Pecah Belah (3)
9 Maret 2022, 18:36 WIB -
Arah Gula Nasional, dari Raja Gula, Swasembada dan Impor
20 November 2021, 21:58 WIB

