Dampak Plagiarisme Terhadap Kualitas Karya Ilmiah dan Reputasi Akademik di Indonesia

24 Desember 2024, 13:39 WIB

Nusantarapedia.net | PENDIDIKAN — Dampak Plagiarisme Terhadap Kualitas Karya Ilmiah dan Reputasi Akademik di Indonesia

Oleh : Saskia Qistyara

PLAGIARISME di dunia akademik telah menjadi salah satu permasalahan yang menghantui perguruan tinggi di Indonesia. Praktik ini melibatkan pihak ketiga untuk membuat karya ilmiah, seperti skripsi, tesis, atau disertasi, atas nama seseorang dengan imbalan tertentu. Plagiarisme tidak hanya mencoreng nama baik individu yang terlibat, tetapi juga menciptakan dampak buruk yang lebih luas terhadap kualitas pendidikan, reputasi perguruan tinggi, dan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Karya ilmiah sejatinya menjadi medium untuk menyampaikan gagasan orisinal, membuktikan kemampuan intelektual, dan memberikan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan. Namun, plagiarisme mengaburkan tujuan ini, menjadikan karya ilmiah sebagai sekadar formalitas tanpa nilai ilmiah yang substansial. Jika dibiarkan, perjokian tidak hanya merugikan individu, tetapi juga menciptakan generasi lulusan yang kurang kompeten dan melemahkan daya saing bangsa. Tulisan ini akan membahas dampak Plagiarisme terhadap kualitas karya ilmiah, reputasi akademik, pengembangan ilmu pengetahuan, hingga dunia kerja.

Beberapa dampak dari plagiarisme terhadap reputasi akademik di Indonesia, di antaranya:

1) Penurunan Kualitas Karya Ilmiah

Karya ilmiah adalah representasi kemampuan berpikir kritis, analisis mendalam, dan kreativitas akademik. Namun, ketika sebuah karya ilmiah dihasilkan melalui jasa joki, nilai-nilai ini hilang. Karya tersebut tidak lagi mencerminkan kemampuan penulisnya, melainkan menjadi hasil yang dibuat demi memenuhi syarat administratif belaka.

Sebagai contoh, kasus seorang mahasiswa yang menggunakan jasa pihak ketiga untuk mengerjakan tugas akademik diungkap dalam laporan (INSAN ALFAJRI, 2023). Mahasiswa tersebut akhirnya mengakui bahwa hasil karyanya tidak memenuhi standar akademik yang diharapkan. Jika karya-karya semacam ini menjadi bagian dari publikasi ilmiah atau dipakai untuk mendapatkan gelar akademik, maka dampaknya tidak hanya pada individu, tetapi juga pada keseluruhan ekosistem pendidikan.

Lebih memprihatinkan lagi, kasus plagiarisme tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa. Seorang calon guru besar di sebuah perguruan tinggi ternama juga pernah terungkap plagiarisme untuk menyusun karya ilmiahnya (INSAN ALFAJRI, 2023). Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini telah menjalar hingga ke tingkat akademik tertinggi, mencederai nilai-nilai yang seharusnya menjadi teladan.

2) Rusaknya Reputasi Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi adalah institusi yang bertanggung jawab melahirkan generasi intelektual yang kompeten dan berintegritas. Namun, plagiarisme terungkap, citra perguruan tinggi yang menaungi individu terkait turut tercoreng. Dalam dunia yang semakin kompetitif, reputasi akademik sangat penting untuk menarik mahasiswa berkualitas, menjalin kerja sama dengan institusi global, dan mengakses pendanaan penelitian.

Menurut dari (Adelaide Bretag Tracey, 2016), integritas akademik adalah fondasi utama reputasi sebuah universitas. Ketika mahasiswa atau dosen dari suatu perguruan tinggi terlibat dalam praktik tidak etis seperti perjokian, kepercayaan publik terhadap institusi tersebut menurun. Universitas yang semula dianggap sebagai pusat intelektual menjadi diragukan kredibilitasnya.

Reputasi yang tercoreng juga berdampak pada lulusan perguruan tinggi tersebut. Mereka menghadapi stigma bahwa gelar akademik yang mereka peroleh tidak mencerminkan kompetensi yang sebenarnya. Hal ini mempersempit peluang kerja dan kolaborasi internasional, baik bagi individu maupun institusi terkait.

3) Penghambatan Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan berkembang melalui penelitian yang berbasis pada data asli, gagasan baru, dan proses analisis yang mendalam. Ketika karya ilmiah dihasilkan melalui plagiarisme, kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan menjadi nihil. Karya tersebut hanya menjadi dokumen tanpa substansi, tidak layak dijadikan referensi, apalagi sebagai landasan inovasi.

Ketika perguruan tinggi gagal menghasilkan penelitian yang bermutu, stagnasi ilmu pengetahuan pun tak terelakkan. Ini menjadi masalah besar, terutama di era globalisasi yang menuntut inovasi dan pengembangan teknologi. Perguruan tinggi di negara lain terus berlomba menghasilkan penelitian yang relevan dan berdampak besar, sementara Indonesia tertinggal akibat plagiarisme.

Terkait

Terkini