Geopolitik dan Strategi Sultan Agung Menuju Kejayaan Nusantara di Pentas Dunia (1)
Nusantarapedia.net — Geopolitik dan Strategi Sultan Agung Menuju Kejayaan Nusantara di Pentas Dunia
Tinggal selangkah lagi Sultan Agung menyatukan Jawa. Hampir seluruh daerah-daerah di pulau Jawa kecuali Banten dan Batavia telah menjadi bagian wilayah Kesultanan Mataram.
Sultan Agung mewarisi gaya kepemimpinan eyangnya (Panembahan Senopati) dengan politik ekspansif. Serangkaian kampanye militer dari era Senopati hingga terakhir Sultan Agung menyerang Batavia, membuktikan bahwa kekuasaan Mataram telah memainkan peranan militer terhadap keberlangsungan kerajaan.
Bahkan, posisi militer tidak hanya demi menjaga keberlangsungan dan stabilitas pemerintahan, namun telah digunakan untuk memproyeksikan Jawa dan Nusantara menuju pentas dunia.
Gaya kepemimpinan yang diktaktor otoriter menjadi senafas dengan pengelolaan negara yang menggunakan desain politik militer. Baik urusan dalam negeri dan mancanagri. Rakyat sudah dilibatkan aktif mengikuti wajib militer.
Ambisi Sultan Agung dalam menyiapkan Jawa dan satunya Nusantara menuju negara yang kuat dan mendunia, bisa dilihat dari langkah dan caranya memimpin Mataram. Bahkan, Sultan Agung berani mengambil langkah tegas untuk mewujudkan ambisi itu meski beresiko dan berasa judi pada kelangsungan praja.
Benar saja bila Mataram sebagai cabang ningrat baru, seolah sudah mampu mengukur bagaimana cara untuk mempersatukan Jawa menuju panggung Nusantara dan dunia dalam politik bebas aktif luar negri. Berarti, Mataram sadar akan desain dan strategi yang akan digunakan untuk menata kerajaan dari urusan sosiologis dan tata kelola pemerintahan dalam negeri dan internasional.
Pada awal Mataram berdiri, Panembahan Senopati sadar bahwa rakyatnya masih terbawa bayang-bayang Majapahit sebagai emporium yang besar. Tata laksana kultural masyarakat Jawa masih berasa Majapahit, meskipun negara berbasis islam sudah dimulai dari Demak dan Pajang.
Identifikasi tersebut telah melahirkan strategi untuk melegitimasi kekuasaan terlebih dahulu. Raja Mataram butuh dukungan yang kuat dari rakyatnya, maka Mataram mengikrarkan diri sebagai keturunan raja terakhir Majapahit Bhre Kertabumi atau Brawijaya V. Mataram menghubungkan jalur kenasaban melalui tokoh imajinatif bernama Bondan Kejawan, serta legenda-legenda seperti Dewi Nawangsih Nawangwulan yang berasal dari kahyangan. Dimaksudkan, Mataram selain sebagai keturunan Majapahit juga keturunan dari kahyangan atau dewa-dewi.
Tidak sampai disitu, bahkan peristiwa alam tsunami mampu dinarasikan sebagai simbol-simbol kekuatan yang berasal dari diri Panembahan Senopati atau para raja dan petinggi istana. Juga penguasa-penguasa alam berbentuk makhluk gaib yang ada di gunung dan laut seperti Kanjeng Ratu Kidul, dikesankan tunduk pada penguasa Mataram.
Langkah selanjutnya, setelah kepercayaan publik didapatkan, dukungan rakyat pun mengalir, hingga maju di medan peperangan pun siap dilakukan. Maka, terciptalah kultur Mataraman yang terbiasa dengan pertempuran atas politik kerajaan dengan aksi kampanye militer untuk melebarkan kekuasaan dan teritori Mataram.
Ketika Sultan Agung memimpin, duplikasi dan resepsi kebudayaan islam dan muslim dunia mampu diakulturasikan ke dalam wadah kultural jawa pra Islam. Sinkretisme budaya telah menjadi satu dari peristiwa besar Islam ke dalam bentuk baru budaya Islam Mataraman. Dalam hal ini, Sultan Agung telah menciptakan model Jawa baru sebagai Jawa Kejawen, yang mana Jawa saat ini merupakan warisan bentukan dari masa Sultan Agungan, dan telah melahirkan sebuah definisi Jawa, dari akar Jawa Majapahit dan Demak.
Pertanyaannya? di mana letak strategi politik Sultan Agung yang sebenarnya. Apa maksud tujuan Sultan Agung anti VOC? Apakah Sultan Agung mengenal kebudayaan maritim? Itu hal-hal yang harus dipecahkan atas kebijakan dan pemikiran besar seorang pemimpin, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Sultan Agung sadar, corak dan pendekatan kerajaan berbasis maritim oleh Demak harus memulai hal baru lagi dengan berpindahnya pusat kerajaan di pedalaman selatan Jawa (Pajang) yang berbasis agraris oleh Hadiwijaya di kerajaan Pajang.
Atas dasar kesejarahan tersebut, Sultan Agung yang lahir dari kultur wilayah gunung (sebagai dikotomi agraris-maritim, segara-gunung), tidak langsung begitu saja mengabaikan potensi kemaritiman. Justru yang unik, Mataram yang bercorak agraris namun mendesain tatanannya berasa negara maritim. Pada pemahaman saat ini, Sultan Agung telah memetakan politiknya dengan strategi poros maritim. Memang agak aneh, Mataram tidak terlalu menampakkan pembangunan infrastruktur kelautan tetapi berporos pada sektor maritim. Bagaimana ini bisa terjadi!
Pemetaan Sultan Agung tepat, ternyata Sultan Agung belajar dari pendahulunya kala Majapahit mempunyai pelabuhan Hujung Galuh yang besar dengan armada militernya yang kuat, sementara Demak punya industri galangan kapal di Semarang bahkan bertempur dengan Portugis di Selat Malaka. Secara navigasi Sultan Agung memahami poros maritim yang dimaksud bahwa wilayah Nusantara adalah jalur pelayaran dunia, dan letak Jawa merupakan batas akhir dari pelayaran dunia.
Lantas, kalau memahami potensi kemaritiman seperti itu, mengapa kerajaan Mataram tidak dipindahkan di pesisir Utara Jawa yang langsung berhadapan dengan laut, tetapi justru dipertahankan di pedalaman yang memunggungi laut.
Pertanyaan tersebut terjawab, bahwa Sultan Agung sadar, VOC telah merangsek ke Nusantara dengan massivnya. Sebelumnya, Portugis telah mengawali dan mempelopori rute pelayaran dunia termasuk kawasan Asia Tenggara, yaitu wilayah Nusantara.
VOC telah berhasil menggeser hegemoni Portugis di selat Malaka dan wilayah Nusantara Timur, seperti wilayah kebudayaan Ambon (Ternate-Tidore) dan sekitarnya dalam kebudayaan Melayu Timur dan Melanesia. Bahkan, VOC telah berhasil memindahkan markas dagangnya dari Ambon ke Banten yaitu wilayah Sunda Kelapa atau Jayakarta yang kemudian menjadi nama Batavia.
Atas dasar pemetaan tersebut, Sultan Agung mengaplikasikan dalam memimpin Mataram ke dalam kebijakan dalam negri dan politik luar negeri. Kebijakannya jelas, meski sulit dipahami, yaitu; agar VOC tidak terus merangsek ke Jawa bagian tengah dan timur, maka strategi Sultan Agung mengurung Jawa dengan tidak memberikan akses kepada VOC.
Akses tersebut berupa sumber daya kemaritiman, melalui jalur pelayaran di pantai utara Jawa dari Sunda Kelapa hingga Hujung Galuh (Surabaya) sebagai mobilitas perdagangan dunia, oleh Sultan Agung sengaja ditutup bahkan dimatikan. Demi menghalau VOC agar tidak masuk ke Jawa, seluruh bandar dan pelabuhan dagang di pesisir utara Jawa di matikan. Bahkan, wilayah pantai utara Jawa yang sudah ramai oleh para pedagang pan muslim turut dimatikan.
Hal yang paling kontradiksi lagi ketika Sultan Agung membubarkan dewan perwalian Islam yang menghegemoni di Pantura, sedangkan Sultan Agung sendiri menggunakan bendera Islam dalam membangun kerajaan Mataram. Bahkan politik luar negerinya pun telah bekerjasama dengan Kesultanan Turki Utsmaniyah, serta Sultan Agung sendiri yang telah di baiat sebagai pemimpin Islam di Mekkah.
Ternyata alasannya, Sultan Agung benar-benar protektif pada jalur akses di Pantura agar VOC benar-benar tidak bisa masuk ke Jawa dari basecamp di Batavia. Serta mensterilkan Jawa dari lalu lintas kebudayaan dunia agar tidak menginfiltrasi Jawa. Sekalipun resikonya perdagangan menjadi lumpuh, kota-kota dagang menjadi sepi dan Jawa bak kota mati.
Sultan Agung tentu sudah punya kalkulasi politik sebagai dampak dari dimatikannya Jawa pada sektor kemaritiman, seperti hilangnya potensi ekonomi. Itu tidak menjadi persoalan dan pembenar! Alasannya, Jawa cukup kuat, dengan kondisi geografi yang beraneka keadaan morfologinya; gunung, laut dan sungai-sungainya serta hutan dan potensi pertaniannya, lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan pangan rakyat Jawa. Pada pokoknya, Jawa yang gemah ripah loh jinawi cukup membuat rakyat makmur meskipun tidak punya lagi bandar perdagangan di pesisir serta dibiarkannya infrastruktur kelautan yang sudah cukup berkembang menjadi lumpuh.
Lantas, apa proyeksi dan strategi selanjutnya bila sektor kelautan sudah dimatikan? Fokus Sultan Agung menata dalam negeri Mataram diberbagai sektor sambil menyiapkan skenario menjadikan Jawa berkiprah di Nusantara dan dunia. Dengan catatan, aman dari bidikan VOC karena jalur laut dan darat telah di blokade. Blokade yang dimaksud mematikan hubungan dagang dalam pokok industri kelautan atau kemaritiman Jawa.
Namun demikian, infrastruktur kelautan yang dimaksud sebatas mobilitas perdagangan, selebihnya lebih terkonsentrasi pada infrastruktur kemaritiman militer yang diserahkan kepada kadipaten-kadipaten milik Mataram. Mengingat pusat kota Mataram yang berada di Samudra Hindia bukan jalur pelayaran.
Mataram Pleret, Penaja Perang Suksesi Monarki Jawa
Setelah menata Jawa selama 15 tahun dengan melanjutkan ekspansi eyangnya, Sultan Agung telah berhasil mengalahkan Surabaya dan terus merangsek ke tatar Sunda.
Dirasa Jawa sudah cukup kuat, kultur Mataraman telah terbentuk padu, dan aneka infrastruktur darat dan laut telah dibangun dengan desain militer, maka salah satu cara untuk mewujudkan ambisi Jawa mempersatukan Nusantara menuju pentas dunia tak lain hanya menyingkirkan VOC atau tinggal menundukan Banten yang terhalang oleh VOC.
(Dalam masa-masa ini monarki asli Jawa dan bentuk kultural Jawa baru yang asli hasil dari proses kebudayaan pada era ini)
Sultan Agung memutuskan menyerang VOC di Batavia yang sebelumnya VOC membujuk Sultan Agung dengan aneka proposal kerjasama. Sultan Agung tetap kekeh bahwa VOC hanya bersiasat dalam rangka menyatukan Nusantara juga. Dengan demikian, geopolitik dan strategi keduanya sama. Bagi VOC penghalangnya adalah Sultan Agung, sebaliknya VOC menghalangi upaya Mataram dalam ambisi besarnya.
Sultan Agung menunggu momentum yang tepat untuk menyerang Batavia selama 15 tahun, dan VOC pun juga sama, menunggu waktu yang pas untuk menguasai Jawa. VOC sudah berhitung, sadar akan kekuatan sumber dayanya, bahkan VOC keder dan minder menghadapi Jawa. VOC hanya mengendap-endap melihat Jawa dari Batavia sembari menunggu lemahnya Mataram “ngenteni lenane.” Selain VOC tidak mau terkuras finansialnya pasca menyingkirkan Portugis.
VOC menyadari bahwa menghadapi Jawa adalah berat. Sadar akan watak dan mental rakyat Jawa yang sudah di tempa oleh pengalaman kultural dari jaman Medang, Singosari-Majapahit dan Demak, pastilah berisi orang-orang kuat dan digdaya, berpengalaman di semua model pertempuran dengan landasan aneka spirit yang mendarah daging.
Sebelumnya, ambisi Sultan Agung untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sudah dimulai dengan serangkaian kerjasama dengan kerajaan di Nusantara. Seperti hubungannya dengan Sultan Hasanuddin dan kerajaan-kerajaan yang bertumpu di Selat Malaka dari kerajaan Malaka sendiri hingga Aceh. Artinya, komunikasi Sultan Agung sudah sebegitu lebar dengan penguasa di barat dan timur Nusantara. Dugaannya, mereka sudah sepakat berdirinya Kerajaan Nusantara.
Satu hal besar yang menjadikan pemikiran saat ini adalah, bahwa bentuk pembangunanisme itu tidak selamanya benar atau sebagai alasan pembenar. Sederhananya, bila sumber daya alam suduh cukup memenuhi hajat hidup rakyat ihwal sandang pangan dan papan, Mengapa? harus membuat infrastruktur untuk kepentingan yang bukan menjadi kebutuhan dalam negeri! Apakah Sultan Agung salah? tidak mau ribet? bahkan kolot tidak paham globalisasi? dengan membuatkan akses (infrastruktur) yang jelas-jelas tidak di butuhkan rakyatnya. Pada akhirnya hanya memberikan kemudahan dan kemanfaatan bahkan akses eksploitasi para kolonialis dan imperialis.
(bersambung bagian 2 …)
Politik Ekspansi Panembahan Senopati dan Susuhunan Hanyakrawati
Wangsa Mataram, Cabang Ningrat Baru
Rekomendasi
-
Pendulum Kapitalisme dan Sikap Intelektual Muslim Kita (1)
4 Maret 2022, 17:11 WIB -
Pembangunanisme, Rumah Berlindung Pemekaran Daerah (2)
21 Februari 2022, 20:57 WIB -
Rangkaian Spiritual Budaya Jawa, dari Bulan Rejeb hingga Sawal (4)
3 Maret 2022, 18:43 WIB -
Sejarah dan Perkembangan Ponsel Hingga Smartphone
24 November 2021, 08:52 WIB -
Kota Nusantara, Ibu Kota Baru Indonesia (1)
20 Januari 2022, 05:28 WIB


