Kualitas Orang Tua dan Maraknya Perundungan Anak

28 Februari 2022, 00:51 WIB

Nusantarapedia.net — Kualitas Orang Tua dan Maraknya

Kini, agaknya trend perundungan/bullying anak semakin marak, karena anak-anak diumbar di lingkungan tanpa asupan pendidikan yang jelas.

Sekolah “tutup” gara-gara covid. Anak-anak bosan belajar daring. Sekolah belum juga menerapkan pembelajaran yang lebih konstruktif selain penugasan lewat WAG. Akhirnya, ya, gadget pelariannya. Banyak game yang memuat adegan kekerasan. Lingkungan pertemanan adalah tempat eksperiman paling pas untuk mempraktekan kekerasan ini. Pendidikan karakter? Iya karakter preman.

Pengaruh lingkungan dalam perkembangan psikis anak-anak sangat berpengaruh. Secara fithrahnya, anak-anak itu harus bahagia, merdeka, bebas, tidak boleh ada ketakutan atas ambisi penguasaan dari pihak luar. Orang tuanya sekalipun.

Budaya perundungan menjadikan psikis anak-anak rusak. Membentuk mereka menjadi pribadi minder, introvert atau justru sebaliknya, menjadi pribadi pemberontak, temperamen. Apapun itu perundungan itu sangat tidak baik, dan tidak selayaknya dilakukan.

Dewasa ini, seiring lajunya budaya digitalisme, pengaruh modernisasi masuk begitu masif ke dalam dunia anak. Kebebasan beraktualisasi telah menggeser tajam nilai-nilai etika dan norma. Anak-anak tak lagi dalam dunianya lantaran filter budaya tak lagi seketat era dimana titah orang tua adalah ‘racun’ sehingga anak-anak tak berani melanggar titah itu. Yang terjadi adalah lahirnya generasi individual yang ingin selalu menang sendiri.

Kini tontonan sudah jadi tuntunan. Lihat saja mana tontonan televisi yang cocok buat anak-anak? Hampir zero. Orang tua dihadapkan pada kebingungan memilih antara membiarkan atau menarik mundur anak-anak mereka dari pergaulan.

Orang tua mana yang kebingungan? Tentu mereka orang tua yang tahu kebutuhan fithrah anak-anaknya. Orang tua yang resah anak-anaknya akan terpenetrasi pengaruh lingkungan yang buruk. Bukan orang tua yang hobi mengejar dunia, sementara anak-anak dititipkan pada nenek atau tetangga. Setelah pulang kerjapun ia tak mengurus anaknya, malah sibuk memoles wajah dan smoothing rambut. No, Big No!

Ada fenomena yang sebenarnya tidak ganjil karena watak pergaulan sekarang memang begitulah adanya. Sedang marak anak-anak kurang perhatian akibat ditinggal orang tua bekerja, dititipkan pada orang lain, dia menjadi pribadi perundung (pembully), cenderung suka menguasai orang lain, suka menyuruh dan mengancam. Konklusinya simpel, dia kurang perhatian dan ingin diperhatikan dengan caranya.

Mengenal Character Building

Media seolah memberi referensi. Dari tahayul hingga kekerasan dipertontonkan. Didukung pengawasan dan pendampingan orang dewasa yang sangat kurang. Sifat anak-anak yang cenderung suka eksperiman terfasilitasilah sudah. Teman, adik, kakak jadi sasaran trial and error. Mirisnya, menjadi kepuasan tertentu bila ada yang kemudian terluka fisik bahkan mental. Artinya, trialnya berhasil. Lebih mirisnya lagi orang tua yang seharusnya menjadi kontrol justru membiarkan. Menjadikan perundungan itu hal biasa.

Edukasi parenting dan psikologi anak agaknya perlu dikenalkan pada masyarakat transisi. Karena masyarakat transisi memiliki karakter yang masih labil. Cenderung kurang bijak mengelola gebrakan modernisasi. Social media memegang andil cukup besar dalam hal ini. Masyarakat transisi masih kagetan, nggumunan dan tak jarang berlebihan karena belum memahami rambu-rambu. Saking berlebihannya hingga melupakan hal yang lebih esensi, yaitu pendidikan anak.

Tidak dipungkiri kini terobosoan edukasi parenting dan psikologi anak sudah merambah secara digitalis pada dunia maya. Akses informasi dan pengetahuan sudah terbuka lebar. Namun tidak bisa dibantah pula keengganan dan kemalasan masyarakat untuk belajar menjadikan kendala paling utama. Ini kembali pada tingkat SDM dan latar belakang pendidikan masing-masing (meskipun ini bukan sebab mutlak).

Tingkat pengetahuan mempengaruhi pula tingkat kebutuhan dan kehausan seseorang akan sebuah ilmu baru. Masyarakat transisi hanya membutuhkan sesuatu yang instan, menggembirakan dan tak perlu dikunyah. Jadi, wacana tentang perundungan dan akibat sosial maupun psikis pada anak merupakan sesuatu yang memberatkan untuk dipikirkan. Akhirnya, pembiaran itulah yang terjadi.

Jika pada suatu kelompok masyarakat ada nyaris semua orang tua dengan kondisi pemikiran seperti itu, bisa dipastikan akan lahir generasi-generasi yang jauh dari etika dan norma pergaulan.

Ini PR besar buat para orang tua dan pegiat parenting bagaimana membuat para orang tua transisi ini menjadi haus dan terbuka akan penerimaan ilmu; pengetahuan akhlak dan moral serta pendidikan anak.

Mengingat pergaulan anak kini sudah sedemikian sangat mengkhawatirkan. Anak-anak kini butuh orang tua yang tegas dan kritis. Membuat batasan yang jelas boleh atau tidaknya melakukan sesuatu. Bukan sibuk lagi membahas tentang boleh tidaknya bicara ‘tidak’ pada anak-anak.

Caregiver, Antara Kebutuhan dan Pandangan Ketabuan Masyarakat
Tinjauan Kritis Beban Perempuan dengan Anak Penyandang Disabilitas

Terkait

Rekomendasi

Terkini