Mbah Iko, Penjaga Literasi Kuno

9 Februari 2022, 02:38 WIB

Nusantarapedia.net, Klaten-, Penjaga Literasi Kuno

, bertempat tinggal di dusun Sewan, desa Kahuman Ngawen Klaten, demikian warga memanggilnya. Nama lengkapnya Jumiko, seorang kakek usia 80 tahun ini kini hanya tinggal bersama seorang cucunya. Istri dan anak perempuannya meninggal dunia enam tahun yang lalu.

, salah satu dari dua generasi emas zamannya yang fasih membaca tulisan . Di teras rumahnya, kami sambang niat hati “ngangsu kawruh” padanya. Rendah hatinya membuat kami agak memaksanya agar berkenan menunjukkan kepiawaiannya.

Desa Sewan, Kahuman, Ngawen Klaten. Sebuah Desa dengan energi spiritual yang pekat terdapat banyak cerita sejarah yang perlu digali.

Penemuan Prasasti Upit menjadi bukti bahwa Desa Kahuman (Ngupit) adalah salah satu desa tertua pada abad ke-9. Banyaknya nisan kuno dan petilasan candi, membuktikan bahwa Desa ini sudah lahir sejak era Rakai Pikatan di Medang hingga Mataram Islam.

Desa ini menjadi tonggak lahirnya peradaban Hindu hingga Islam. Termasuk poros strategis bagi pemerintahan pada eranya, sebagai pusat sosial budaya masyarakat, khususnya bidang spiritual dengan kefahaman yang berkembang pada eranya masing-masing.

Mbah Iko, mewarisi naluri spiritual desa tersebut dari sejarah panjang desa Kahuman sebagai pusat kebudayaan.

Sewaktu kami berkunjung ke rumahnya, beliau berkata, “Aku ki ora iso, lho, Ndhuk. Wong gur isoh-isohan,” ungkapnya malu-malu.

Mbah Iko belajar sejak kecil pada gurunya, Mbah Saji, namanya. Ia biasa menggunakan kemampuannya ini untuk mengisi kultum di mushola dekat rumahnya.

Kami menyimak Mbah Iko membaca arab pegon dari buku yang ia pegang. Buku lawas dan usang terbitan Pekalongan 25 tahun lalu itu masih sering ia pakai untuk belajar agama.

“Aku luwih paham sinau nganggo buku iki, ketimbang buku saiki sing istilahe angel-angel, Ndhuk,”

Ya, buku lawas yang memuat tulisan arab pegon ini yang bertahun-tahun menemaninya belajar agama, hingga ia menyampaikannya pada jamaahnya. Bertuliskan Arab tapi berbahasa Jawa yang sederhana, dan tetap menyertakan ayat Qur’an dan Hadits sebagai dasar.

Selain menyimpan kekayaan budaya, desa Kahuman juga menyimpan kekayaan intelektual. Mbah Iko dan arab pegon, simbol pendakwah antimainstream dan penjaga literasi kuno. Juga simbol upaya perlawanan pada kolonial penjajah.

Sebelumnya, desa Kahuman melahirkan pemuda-pemuda militan yang berseberangan dengan pemerintahan kolonial. Peran para santri di dalamnya dalam proses menuju kemerdekaan dan masa revolusi Indonesia pasca kemerdekaan sangat besar.

Semangat Mbah Iko hingga kini, merepresentasi cara nguri-uri budaya literasi, bagaimana dahulu Sunan Ampel berjuang dan berdakwah mengajarkan Islam, juga oleh generasi selanjutnya hidup di bawah tekanan penjajah Belanda.

Sejarah Arab Pegon

Arab Pegon merupakan modifikasi aksara dalam abjad Arab untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura, Sunda dan lainnya.

Huruf pegon dianalogikan seperti huruf dalam Aksara Daerah, seperti Aksara Jawa, Madura, dan lainnya dengan tetap berpedoman pada versi dasar huruf Hijaiyah Arab. Jadi, merupakan kreatifitas aksara, yang mana dalam huruf Arab asli tidak ada huruf sebagai representasi alfabet.

Kedatuan Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten dalam Historiografi Penyebaran Islam

Etimologi Pegon dari kata Pego yang berarti menyimpang, karena menggunakan abjad Arab (Hijaiyah) untuk menuliskan bahasa daerah Nusantara. Huruf Arab Pegon berbeda dengan huruf Arab Gundul atau Gundhil.

Arab Pegon merupakan huruf konsonan, menjadi berbunyi karena digandeng dengan huruf vokal dan sandangan lainnya. Penulisan huruf ini tetap dari kanan ke kiri seperti penulisan Arab, dengan kaidah penyambungan yang sama.

Tradisi Islam di Nusantara berbeda dengan Islam aslinya dari kebudayaan di Timur Tengah. Keadaan kulturalnya berbeda, hingga melahirkan ciri budaya yang baru, terutama sebagai identitas. Hal ini berangkat dari tradisi pesantren Nusantara yang melahirkan banyak kreativitas, diantaranya .

Dick van Der Meij dari Universitas Leiden, menyatakan bahwa fenomena pegon lahir dari kreativitas pesantren untuk mempertahankan identitas sebagai tradisi islam khas di daerah Nusantara.

Wujud literasi arab pegon terdapat dalam . Kitab kuning ditulis dalam bahasa arab menggunakan huruf hijaiyah, kemudian diartikan menggunakan berbagai bahasa daerah yang ditulis dengan sandi-sandi huruf arab, yaitu huruf arab pegon tadi.

Kitab kuning merupakan karya ilmiah dari para ulama jaman dahulu, yang lebih condong pada bentuk kitab fiqih. Kitab kuning merupakan hasil kodifikasi dan istimbath hukum yang mengambil sumber dari Al-Quran dan Hadist.

Dalam buku berjudul “Ngaji Pakai Kitab” karya Ustadz Ahmad Sarwat MA menjelaskan, kitab kuning merupakan istilah yang disematkan pada kitab-kitab berbahasa Arab, sebagai bahan ajar yang digunakan di pesantren-pesantren.

Aksara Pegon sudah ditemukan keberadaannya di Nusantara sejak abad ke-15. Terdapat di beberapa tempat seperti di Jawa, Madura, Cirebon, Sunda, Melayu, Bugis. Setiap daerah mempunyai kekhasan masing-masing menurut bahasa dan tulisan lokal setempat. (Prof. Hj. Titik Pudjiastuti-UI dan Prof. H. Syamsyul Hadi-UGM)

Versi lain diyakini bahwa huruf pegon diciptakan oleh Imam Nawawi Al-Bantani, murid dari Sunan Ampel pada tahun 1400-an di pesisir utara Jawa.

Kitab kuning dengan modifikasi aksara lokal Nusantara mengandung unsur sastra di dalamnya. Kandungan kesastraannya berdasarkan pengetahuan daerah setempat dalam nilai kulturalnya. Menjadi huruf Arab Pegon Nusantara bermacam-macam ragamnya. Ada rasa Jawa, Sunda, Bugis maupun Melayu Sumatera atau Kalimantan.

Fungsi dari lahirnya arab pegon, erat kaitannya dalam misi syiar dan dakwah agama Islam. Dimulai dari basis pesantren yang sudah mengenal budaya tulis menulis.

Dari kebiasaan membaca dan menulis akan mempermudah dalam mentransfer aksara, menerjemahkan bahasa juga artikulasi lafal pengucapan agar menjadi mudah. Hal tersebut sebagai maksud mempermudah metode dakwah, dari literasi Arab ke bahasa dan tulisan Jawa, Sunda dan literasi daerah lainnya.

Kedatuan Bayat Klaten dalam Sejarah Geologi, Pusat Spiritual dan Inisiasi Industri, Bagian Metroplex Kuno

Arab Pegon Masa Kolonial

Peran huruf arab pegon dalam masa kolonialisme Belanda sangatlah penting. Pegon digunakan sebagai bahasa sandi untuk mengelabuhi Belanda dalam hal yang bersifat penting dan rahasia. Komunikasi di pesantren-pesantren dan masyarakat terutama golongan santri menggunakan arab pegon untuk mengatur strategi melawan kolonial, maupun sebagai upaya mempertahankan diri.

Huruf Pegon membentuk menjadi bahasa komunitas di pesantren-pesantren, sebagai penanda pergerakan islam yang cenderung melawan keberadaan kolonial.

Pada era kolonial dengan lahirnya masa kebangkitan nasional, muncul fatwa untuk menolak produk-produk Belanda atau budaya mereka, utamanya tulisan. Hal ini yang mendorong tumbuhnya arab pegon.

Dengan demikian, arab pegon sejatinya adalah simbol perlawanan pribumi terhadap kolonialisme Belanda.

Posisi Huruf Pegon Dalam Peta

Di Malaysia Arab Pegon disebut sebagai Huruf Jawi, atau disebut sebagai Arab Melayu secara luas, karena juga berkembang di daerah Thailand, Brunei Darussalam dan Filipina, serta daerah-daerah di kawasan Asia Tenggara.

Melemahnya kekuatan Kesultanan Utsmaniyah Turki (terakhir) yang direbut oleh Kemal Attaturk berpengaruh pada penggunaan huruf pegon diseluruh kawasan pengaruh Utsmaniyah.

Keberadaan huruf Pegon mulai digeser dengan hadirnya huruf Latin dan Romawi. Pergeseran tersebut semakin nyata ketika tahun 1950-an, huruf keduanya di sahkan di Singapura melalui kongres.

Dari kongres tersebut menginisiasi berdirinya Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Dengan demikian perlahan tapi pasti, wilayah kebudayaan Melayu terkena dampaknya dengan pergantian huruf tersebut.

Banyak penerbitan yang menaungi media koran, majalah dan buku-buku mengganti huruf pegon menjadi huruf latin dan romawi. Akhirnya, pengaruh tersebut meluas di seluruh kawasan Nusantara.

Rekonstruksi Masa Lalu Melalui Visi Spiritual

Bisa ditafsirkan pula bahwa, pergeseran tersebut sebagai penanda dimulainya era global, yang mana sebagai simbol perang ideologi, kefahaman maupun dikotomi barat dan timur untuk hegemoni kekuasaan.

Kini, huruf Pegon mulai punah. Alangkah baiknya untuk dilestarikan kembali, karena huruf pegon sudah bukan menjadi monopoli milik islam. Dilihat dari kesejarahannya di Nusantara yang panjang, huruf pegon layak dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan intelektual bangsa Indonesia.

(Oleh: Ika Nidaul Haq, disampaikan di forum Ari Ks Center, 10 April 2021)

Sumber Bacaan;
(1) Manuskrip Islam Pesantren, Pegon: Aksara Masyarakat Indonesia yang hilang. 2013.
(2) anri.go.id

Terkait

Rekomendasi

Terkini