Media Sosial, Eksistensi Diri dan Pencitraan
Nusantarapedia.net — Media Sosial, Eksistensi Diri dan Pencitraan
Media sosial sebagai ruang penyiaran dan kehumasan yang hampir tidak terbatas, begitu mudahnya mengakomodasi kepentingan diri untuk banyak tujuan.
Bagi sebagian orang, ternyata likes, followers, maupun komentar yang banyak dari netizen pada postingan di media sosial sangatlah penting. Maka, menjadi gundah gulana saat orang itu mendapati postingannya sepi penggemar. Mengapa? Karena kebutuhan eksistensinya tinggi. Itulah ‘penyakit’ yang kini sedang menjangkiti para netizen pengguna media sosial.
Sejak kapan berbagi ilmu itu harus disukai? Apalagi dikomentari. Bahkan Rosulullah saja, hingga ia sebelum wafat, banyak yang ‘nyinyir’ terhadap dakwah beliau. Nabi Nuh pengikutnya tak lebih dari 100 orang. Dan sungguh, pada fitrahnya mengajak kepada kebaikan itu adalah sebuah ujian.
Beberapa waktu yang lalu, saya dapat messenger dari seorang sahabat fb, belum pernah bertemu di dunia nyata. Beliau sering menulis tentang konsep khilafah. Beliau mempertanyakan melalui messenger, kenapa saya tak pernah memberi like atau bahkan komentar tentang postingan-postingannya? Jawaban saya, tegas, saya tidak ada passion ke situ.
Tulisan saya tentang karya non fiksi, fitur-fitur ringan tentang remahan-remahan kehidupan, sesekali tentang tumbuh kembang anak. Saya tidak biasa ikut andil atas apa-apa yang saya tak berkapasitas terhadapnya, bahkan -diam-diam- saya unfollow akunnya. Ya, saya biasa unfollow akun-akun yang sering memposting tulisan di luar passion saya. Menghemat energi, itu tujuannya.
Jangan heran menyaksikan polah netizen saat ini! Itu perwujudan dari euforia medernisasi. Melihat sesuatu hal hanya dari sebuah simbol. Eksistensi diri hanya identik dengan tanda like yang banyak.
Seseorang bermain medsos itu tujuannya ada bermacam-macam, 1. Berniaga, 2. Berkarya melalui tulisan, 3. Membangun jaringan, 4. Sekadar eksis, pamer (pamer diri, penampilan dan kepemilikan). Semua tujuan tersebut bermuara pada eksistensi diri.
Eksistensi diri. Kebutuhan pengakuan diri tentang hal baik pada diri seseorang. Pengakuan di sini adalah pengakuan yang terwadahi dalam media sosial, dimana orang-orang jauh bisa memberi penilaian tanpa harus mengenal dan mengetahui latar belakang seseorang.
Seperti yang disebutkan dalam teori Dramaturgi karya Erving Goffman bahwa individu akan berlomba-lomba menampilkan dirinya sebaik mungkin. Goffman mengasumsikan bahwa letika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain.
Upaya ini disebut sebagai pengelolaan pesan, yaitu teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konsep Dramaturgi, kehidupan sosial manusia dimaknai sama seperti pertunjukan drama dimana terdapat aktor yang memainkan peran.
So what?
Akhirnya berkesimpulan bahwa aksi manusia modern di dunia maya tak ubahnya drama yang penuh kepalsuan? Oh, tidak mengapa. Toh tidak sepenuhnya salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar, karena eksistensi diri bersifat inheren.
Pesan moralnya di sini adalah bahwa semua yang tersaji di depan mata melalui sosial media tidaklah selalu mencerminkan karakter sang empunya akun.
Kalau hemat saya eksistensi diri itu ya, berkarya dan berkaryapun tidak perlu susah payah mengharap like dan followers yang banyak. Buat apa? Itu sama sekali tidak merepresentasi kapasitas kita. Apapun tujuannya, sah-sah saja sih. Mengingat kebutuhan eksistensi saat ini memang tinggi.
Sisi Lain Eksistensi Diri dan Pencitraan
Apapun kepentingannya, citra diri harus dibangun terlebih dahulu untuk mempengaruhi opini dan persepsi publik mengenai konsep diri sebagai company profil. Pencitraan yang dimaksud terlepas dari konteks membangun atau tidak, namun tak ubahnya sebagai bagian dari strategi marketing berupa promosi.
Perkara good will tergantung dari niat pelakunya. Dari sisi humanity, kebutuhan penghargaan pada individu atau mewakili kelompok tertentu tak ubahnya bagai asupan gizi yang diperlukan oleh tubuh.
Kebutuhan penghargaan merupakan hak untuk memperoleh dan kewajiban berupa usaha-usaha untuk meraihnya, hingga pengupayaan untuk mempertahankan pengakuan dari orang lain. Seringkali digunakan sebagai alasan pembenar atas pencapaian yang telah dilakukan berupa keberhasilam maupun kegagalan.
Pak Lurah nyemplung got pencitraan, Pak guru macul di sawah pencitraan, Pak Polisi bagi-bagi duit pencitraan, Bupati dolan sambang warga pencitraan, So, yang bukan pencitraan yang bagaimana, ya?
Bagi para pelaku, menyatakan ini bukan pencitraan adalah bohong besar! Apa sih pencitraan? Pencitraan adalah upaya seseorang agar terlihat baik di mata orang lain dengan melakukan aktivitas yang baik menurut kebanyakan orang.
Pertanyaannya, benarkah kita bersih dari pencitraan, padahal pencitraan sendiri adalah bagian dari upaya untuk mempertahankan eksistensi diri. Hanya orang gila yang tidak ingin eksis. Terlebih kaum progresif sangat
membutuhkan personal branding.
Yang menjadi persoalan adalah apakah pencitraan berdampak pada kerusakan atau tidak?
Manusia tidak ada yang ingin dinilai buruk. Menjaga aib menjadi bagian dari keberlangsungan hidup bersosial. Orang lain harus tahu setidaknya eksistensi kita, sebelum kemudian saling mengenal dan menunjukkan kebaikan dan kelebihan masing-masing. Tujuannya apa? Untuk membangun interaksi hingga terjadi integrasi yang saling menguntungkan. Umumnya begitu tujuan hidup sosial. Ini juga sebuah upaya pencitraan.
Memahami arti ‘pencitraan’ lebih makro akan menggiring pemikiran kita sejauh mana seseorang mengenali dirinya. Sekonsisten apa mereka pada posisi itu? Ini yang membedakan pencitraan yang jujur dan yang dibuat-buat.
Pencitraan yang konsisten akan menumbuhkan sikap positif pada orang lain. Entah keteladanan atau inspirasi. Pencitraan yang dibuat-buat akan merusak bangunan kepercayaan orang lain. Bahkan bisa berujung pada disintegrasi.
Banyak tindakan pencitraan yang akhirnya melukai kepercayaan. Namun juga tak jarang pencitraan yang menginspirasi tindakan positif yang lain. Itu sangat tergantung pada konsistensi dan tujuan awal pelakunya.
Jadi, jika memang kita memiliki potensi, kita fokus dan konsisten dengan apa yang sedang diperjuangkan, berharap ada feed back positif dari pihak lain, ingin menyebarkan virus-virus kebaikan ya, citrakan saja! Why not?
Internet Positif, Korelasi Netizen Journalism dan Pengaruh Buruk Medsos
Pergeseran Fungsi Teknologi Digital untuk Misi Kemanusiaan
Rekomendasi
-
Squid Game dan Fakta Kemiskinan di Indonesia
15 November 2021, 01:04 WIB -
Rekonstruksi Masa Lalu Melalui Visi Spiritual
22 November 2021, 22:58 WIB -
Mengenal Sale Pisang Makanan Khas Pacitan
8 Desember 2021, 13:20 WIB -
Resolusi 2022 dalam Tradisi Dunia, Target dan Eksekusi
31 Desember 2021, 12:58 WIB -
Integrasi Pembangunan Kepariwisataan dengan Strategi Kebudayaan (2)
5 Januari 2022, 01:26 WIB


