Mempertanyakan Peran Teknologi dalam Mewujudkan Pendidikan Berkarakter di Masa Pandemi

13 November 2021, 08:23 WIB

Tak dapat dipungkiri, digitalisasi adalah sebuah keniscayaan. Penggunaan teknologi sudah tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari kebutuhan tidur, makan hingga kamar mandi kita dimanjakan atas kemudahannya. Pun juga kebutuhan pendidikan. Teknologi untuk keperluan pendidikan telah diaplikasikan masif sejak dasawarsa terakhir meskipun belum maksimal. Penggunaan internet untuk mengakses sumber-sumber pembelajaran, oleh sekolah-sekolah sudah lama diterapkan, terlebih sekolah berplatform full day, Teknologi Informasi justru menjadi mata pelajaran unggulan.

Kini, berjalannya waktu teknologi begitu terintegrasi komprehensif dengan pencapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Berkembanglah dunia pendidikan yang manual menuju ke mekanik. Ini yang disebut dengan . adalah keseluruhan perangkat sistem aturan, alat, dan kegiatan. Itu semua dirancang untuk membawa siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu secara sistematis, efektif, dan ekonomis.

Ahli pertama yang ingin mengganti instruksi normal di kelas dengan teknik pengajaran mekanik yang hampir revolusioner adalah Skinner (1954). Pada awal 1950-an. Pengembangan membuat kemajuan dramatis pada 1970-an, 1980-an, dan 1990-an. Instruksi berbantuan komputer, sistem pembelajaran terintegrasi, sistem bimbingan belajar cerdas , media pembelajaran, dan lingkungan belajar cerdas. Itu adalah beberapa konsep kunci yang merujuk pada pengembangan, pembelajaran, dan penggunaan alat bantu teknis modern untuk meningkatkan praktik pembelajaran.

mengamanahkan . Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik, di mana di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.

Jadi, pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moraldimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri ke arah hidup yang lebih baik.

Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 perlu disambut gembira dan didukung semua pihak. Pendidikan karakter bukan hanya penting, tetapi mutlak dilakukan oleh setiap bangsa jika ingin menjadi bangsa yang beradab. Banyak fakta membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang maju bukan disebabkan bangsa tersebut memiliki sumber daya alam yang berlimpah, melainkan bangsa yang memiliki karakter unggul seperti kejujuran, kerja keras, tanggung jawab dan lainnya.

Perkembangan ilmu, teknologi, komunikasi serta arus globalisasi membawa dampak perubahan pada berbagai aspek kehidupan tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Dalam puncak perkembangannya, kita mengenal apa yang disebut digitalisasi. Digitalisasi yaitu  mengubah proses manual ke dalam penggunaan teknologi dan data digital.

Sedangkan adalah upaya untuk menunjang proses ajar-mengajar secara digital tanpa mengurangi esensi dalam penyampaian materi pembelajaran.

Diharapkan dengan terobosan akan lebih mempermudah penetrasi pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi dalam menyajikan eksperimen-eksperimen empirik namun digitalis. Dengan , peran guru secara interaksi fisik akan berkurang, digantikan dengan perangkat computer.

Sementara penanaman karakter yang diamanahkan oleh kurikulum 2013, juga kurikulum-kurikulum sebelumnya sangatlah kompleks dan lebih mengarah pada pembentukan moralitas. Ini bukan hal sederhana, sesederhana menghidupkan tombol ON/OFF pada perangkat computer dan semua bisa diprogram secara otomatis sesuai tujuan yang kita mau.

Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah FW Foerster (1869-1966) seorang ahli pendidikan dari Jerman. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas ilmu natural dari ahli pendidikan Rousseauian dan instrumentalisme dari Deweyan.

Karakter terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dihasilkan dari keteladanan dan ikatan emosi yang intensitasnya tinggi, masif dan teratur. Ia diperoleh dari pertemuan-pertemuan keseharian, dengan peraga langsung yang dicontohkan dan dituturkan langsung dari sang sumber.

Karakter yang ingin diwujudkan kurikulum antara lain; religious, disiplin, jujur, tanggung jawab, semangat, toleransi, kerja keras, kreatif, demokratis, mandiri, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai.

Kemudian, pertanyaan yang muncul setelah pergulatan panjang pelibatan teknologi untuk pendidikan kita ini, seberapa efektif dan signifikan teknologi terlibat dalam pembentukaan karakter yang diinginkan kurikulum, terlebih di masa pandemic ini?

Sejak ditetapkannya pandemic covid-19 sebagai kejdian Luar Biasa di Indonesia, pembelajaran tatap muka diberhentikan total beralih dalam jaringan. Implementasinya tidak semudah cita-cita awal Mas Menteri tentang idealisme pembelajaran digital. Seperti dipaksa begelut secara digitalis di tengah kegagapan masyarakat terhadap teknologi. Mau tak mau akhirnya harus dilalui. Jadilah pembelajaran dalam jaringan sebagai satu-satunya metode yang dipakai untuk mengantikan pembelajaran tatap muka. Ada kalangan orang tua yang kebingungan mendampingi anak-anak. Tidak hanya berkaitan dengan konten materi yang diajarkan. Namun,  juga pada penggunaan perangkat internet yang kompleks dan penggunaan kuota internet yang tidak murah.

Pendidikan harus terus berlangsung di tengah wabah mengintai. Pemerintah tetap mencari format yang pas demi pembelajarana yang menyamankan semua pihak. Akhirnya pemerintah menanggung kebutuhan kuota internet. Ini terobosan bijak di tengah kekalutan masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah.

Namun, jauh dari pada itu semua, ada hal urgent yang lebih harus dipikirkan oleh para praktisi pendidikan. Bagaimana pembentukan karakter yang digadang-gadang oleh kurikulum 2013 di tengah pandemic panjang ini?

Teknologi tidak bisa memverifikasi tingkat kesolihan seseorang. Termasuk sikap dan karakter bertanggung jawab, jujur dan relijius, seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, bermula dari kebiasaan-kebiasaan masif dan buah dari keteladanan. Pandemic menjauhkan dari pendidik dan yang terdidik. Semua beralih ke rumah-rumah dengan segala kompleksitas dan keruwetan rumah tangga masing-masing.

Sekolah, hingga kini masih dipercaya sebagai kawah candradimuka yang efektif untuk membentuk karakter. Pembelajaran dalam jaringan memiliki tantangan luar biasa dalam implementasinya. Tugas guru atau pendidik tidak hanya transferring knowledge tetapi juga transferring attitude.  Bagaimana attitude itu bisa ditanamkan, tidak serta merta tanpa ada kontak fisik karena membutuhkan keteladanan langsung dan sentuhan emosional. Embrio karakter bermula dari situ. Bahkan semua karakter. Artinya, pembelajaran dalam jaringan yang difasilitasi oleh alat teknologi tidak memfasilitasi keduanya (keteladanan dan sentuhan emosional).  Inilah tantangan bagi kalangan pendidik dan orang tua bagaimana tetap mampu berposisi sebagai pihak yang bisa menjadi contoh.

Nadiem Makarim, dalam salah satu talk show online mengatakan perlunya; pertama, membuka wawasan tentang kebijakan Kemendikbud dan penguatan pendidikan karakter. Kedua, membuka wawasan guru tentang peranan guru, sekolah dan konselor dalam menumbuhkan keteladanan nilai-nilai karakter khususnya pada masa belajar di rumah, menginspirasi guru dengan berbagai strategi yang dapat diterapkan sekolah dalam pembentukan karakter.

Menurut Ir.Hendarman,M.Sc,Ph.D (Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), kondisi anak zaman ‘now’ kebanyakan sudah menggunakan  bahkan lebih canggih dari orang tua. Umumnya anak-anak menggunakan  untuk sosial media, game, dan youtube.

WHO telah mengeluarkan Clasification of Disease yang menyebutkan kecanduan main game sebagai gangguan kesehatan jiwa. Maka dari itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter. Strategi kebijakan ini tertuang dalam habituasi yaitu diajarkan,dibiasakan, dilatih konsisten menjadi kebiasaan, menjadi karakter, menjadi budaya. Strategi ini dapat diterapkan mulai dari rumah, kelas, sekolah, dan masyarakat. Nilai Karakter yang dapat diciptakan saat pembelajaran di rumah adalah nilai kemandirian, gotong royong, dan kreativitas.

Selama masa pandemi ini, semua pihak di sektor pendidikan harus keluar dari zona nyaman untuk berinovasi menciptakan kreativitas, harus melakukan adaptasi yang lebih dengan penggunaan teknologi, serta harus menyadari peranan penting teknologi dalam mendukung pembelajaran.

Begitu detil kebijakan yang digagas  pemerintah atas antisipasi-antisipasi terhadap dampak sosial, psikologis, sikap dan kesehatan yang akan dialami anak-anak kita atas penggunaan teknologi terhadap pembentukan karakter.  Kendati secara implementatif masih jauh dari ideal. Belum ditemukannya format yang pas metode pembelajaran jarak jauh yang menyelipkan pendidikan karakter yang efektif

Pembelajaran kini masih sebatas penugasan pragmatis dan klasik. Selebihnya penggunaan gadget  menjadi urusan dan tanggung jawab ‘orang rumah’ masing-masing anak, yang artinya sudah bisa ditebak bagaimana dan dari mana pendidikan karakter akan terbentuk.

Terkait

Rekomendasi

Terkini