”Tongkrongan Kami, Bukan Tongkrongan Pecundang”
"Tongkrongan kami bukan tongkrongan pecundang 'pecundang pecundang kami siap membuktikan 'membuktikan' "
Nusantarapedia.net — ”Tongkrongan Kami, Bukan Tongkrongan Pecundang”
Belakangan nemu lagu asik dengan lirik yang agak nyentrik. Berjudul “Tongkrongan Kami Sopan” dibawakan oleh kelompok anak muda yang menamakan diri Brother PBSU 275.
“PBSU adalah singkatan dari Perkumpulan Bocah Setia Kawan Ujung. Perkumpulan anak-anak muda kekinian yang memiliki hobi yang sama.”

Berkisah tentang kehidupan anak muda dengan komunitas tongkrongannya. Viral di TikTok dan sempat dipakai beberapa artis untuk background music di akun media sosialnya.
PBSU adalah singkatan dari Perkumpulan Bocah Setia Kawan Ujung. Perkumpulan anak-anak muda kekinian yang memiliki hobi yang sama. Sama halnya dengan komunitas nongkrong anak muda yang lain. Hanya saja PBSU menjadi viral karena karya lagu asik yang dihasilkan.
Di bawah ini merupakan lirik lagu ‘‘Tongkrongan Kami Sopan”
Tongkrongan kami sopan
tongkrongan kami sopan
tongkrongan yang bukan makan kawan “siapa lah”
Tongkrongan dia edan
tongkrongan perkampungan
tongkrongan yang ada di jembatan “nyebrangin”
Getrok ember
kalo dibacok pala luber “darah luber”
kalo dibacok darah luber
Kami remaja setia kawan
bukan pesawat
apalagi yang ada di jembatan “poker anjing”
anjing pesawat yang beraninya di kandangan
ngga berani berkoar di luaran
Malamnya turun hujan
siangnya mentari
PBSU lagi wara wiri
Kalo musuh menyadang
kalo kau pun menerjang
PBSU takan pernah goyang
“tak pernah goyang boss”
Getrok batu
kalau dibacok manggil pertu “tak pertu pertu”
kalo dibacok manggil pertuuu
Kami dari 27 bulan Mei “bulan Mei”
ayo dong bantai kami “ayo dong bang”
kalo elu punya nyali “kalo punya nyali yee”
Tongkrongan kami bukan tongkrongan pecundang “pecundang pecundang”
kami siap membuktikan “membuktikan”
coba daerah perkampungan
Jalan ke depan bibit ketemu restu pala “restu pala”
yang mukanye kayak karma “eee”
gua bacok bilang emak “wah parah”
Jalan kesekter tengah ketemu silaturahmi “silaturahmi”
kotor anjing nginjek tai “nginjek parah”
kate jamet jarang mandi “mandi mandi”
Jalan ke Sukajadi ketemu anak mendo “mendo kont..”
bocah nya dongo-dongo “dongo-dongo”
demi acam gede bego
Jalan ke Duri bet ketemu anak kampat “tak kampat kont..”
gapunya setak pala
jagoannya dua sempak “yah parahhhh”
Muter ke banjir kanal ketemu anak proker “proker anjing”
anggotanya keker-keker
rajib tolol makan naget “enggot kenah”
Jalan ke Pasar Gaduran ketemu anak pesawat “pesawat anjing”
yang katanya rajin sholat “rajin sholat gak tuh”
punya beer boleh ngembat “parahh, maling maling”
Albas kami bukan albas takut pedang
albas kami tak pernah mundur
Basis-basis kami tak akan takut pedang
walaupun kubawa pedang panjang
Kami kan dengan tas selempang
kami tak dengan tangan doang


Nongkrong adalah budaya Indonesia. kini, sudah mengalami pergeseran. Dulu nongkrong identik dengan duduk dan ngobrol di warung kopi kecil. Kini, sudah bermetamorfosis ke kafe-kafe dengan kumpulan banyak orang dan juga banyak kepentingan.
Dalam aktivitas nongkrong kekinian juga sering ditemui kegiatan unjuk kebolehan, berkreasi, dan juga sosialisasi.
Nongkrong berasal dari arti kata duduk berjongkok atau bersandar pada suatu tempat. Namun dalam definisi selanjutnya istilah nongkrong menjadi lebih luas.
Banyak kegiatan dan aktivitas baik aktif maupun pasif yang kemudian berkembang dari sekedar duduk atau jongkok, seperti seeing, hearing, seating, standing dan staying (Jan Gehl:1987).
Nongkrong juga dapat melibatkan orang lain seperti melakukan aktivitas kumpul bersama pada suatu tempat diisikan berbagai kegiatan seperti berbincang dan berbicara dengan orang lain.
Namun ada konteks yang menyebabkan terjadinya nongkrong seperti konteks tempat, waktu dan kegiatan.
Nongkrong adalah bagian dari gaya hidup. Menurut Minor dan Mowen (2002), gaya hidup menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu. Selain itu, gaya hidup menurut Suratno dan Rismiati (2001) gaya hidup menggambarkan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Gaya hidup juga mencerminkan bagaimana individu berbuat dan berperilaku.
Meskipun kehadirannya dipandang sebelah mata, budaya nongkrong tetap eksis menjadi bentuk ekspresi keberagaman masyarakat di kala mengisi kekosongan waktu seperti berkumpul, berbincang, dan bahkan sambil menikmati hidangan tertentu.
Budaya nongkrong juga berperan dalam meningkatkan kreativitas dalam berpikir dan berkarya.
Lahirnya lagu “Tongkrongan Kami Sopan” juga berasal dari kebiasaan nongkrong. Munculnya kafe-kafe yang menjadi lumbung-lumbung ekonomi di kota-kota besar dan kecil, dalam rangka mengakomodir kepentingan para tongkronger.
Inisiatif bagaimana mendirikan usaha kedai kopi kecil-kecilan yang menjadi tempat asik para pemuda menumpahkan idealisme juga muncul dari hobi nongkrong.
Jauh, tak perlu berpikir ekonomi dan bisnis, nongkrong bisa melepas penat dan lelah setelah seharian bekerja atau menimba ilmu.
Jadi, nongkrong tak selamanya nirfaedah. Tergantung bagaimana memilih teman dan tempat nongkrong. seperti pesan Brother PBSU, jauhilah teman nongrong yang pecundang!
Macapat dalam Medium Garap Penyajian Karawitan
Belajar Tak Oleng Dari Boger si “Penari Oleng”
Aloha ‘Oe, Maluku Tanah Pusaka hingga Pulanglah Uda menjadi Motif Lagu Budaya
Gloomy Sunday, Lagu Kematian hingga Bunga Terakhir Bebi Romeo
Rekomendasi
-
Tradisi Padusan dan Pergeseran Nilainya
3 April 2022, 12:21 WIB -
Konstruksi Kerajaan di Jawa, Bangun-Hancur-Pindah (1)
16 April 2022, 20:31 WIB -
Aksi Damai di Klaten, Mengusung Isu Migor hingga Waspadai Komunisme
11 April 2022, 18:53 WIB -
Survei Perhubungan: 23 dan 17 Juta Mobil dan Motor Untuk Transportasi Mudik
19 April 2022, 07:15 WIB -
Manthous, Benyaminnya Jogja! dari nge-Band hingga Nembang (2)
7 Maret 2022, 17:58 WIB