Aku Hanya Remahan Peyek
Nusantarapedia.net — Aku Hanya Remahan Peyek
Rempeyek atau orang biasa menyebutnya peyek, kudapan renyah berasal dari tepung yang bertopping kacang, udang, ikan teri dan sebagainya. Rasanya yang gurih dari tepung berbumbu rempah juga kacangnya membuat penikmat biasanya lupa diri.
Kudapan ini biasa ada di warung makan sebagai pelengkap serupa kerupuk. Orang jawa menyebutnya cenggereng. Apapun itu, yang jelas peyek itu enak sekali. yakin!
Rempeyek, makanan ringan dengan sejarah dan filosofi yang luar biasa. ‘Rempeyek’ berasal dari kata rempah-rempah (bumbu) dan jiyek (gepeng, lebar) yang berarti makanan berbumbu, berbentuk gepeng.
Sejarah
Sejak abad ke 16 makanan ini sudah hadir di Jogja, berdasarkan catatan yang ditulis oleh De Graaf dalam tulisannya yang berjudul Mataram Islam.
Bermula dari perjalanan Ki Ageng Pamanahan bersama dengan rombongan untuk melakukan Bedhol Desa yang diperintahkan oleh Sultan Hadiwidjaya.
Sebelumnya, Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah tanah perdikan di Bumi Mataram tepatnya di hutan Mentaok. Danang Sutawijaya berhasil menumpas pemberontakan Arya Penangsang atas siasat ayahandanya. Hingga diberikannya tanah tersebut, akhirnya keluarga dan pengikut Bedhol Desa (pindah) ke Mataram.
Peristiwa ini melegenda dalam cerita Babad Alas Mentaok, juga di singgung dalam naskah Babad Tanah Jawi.
Kala itu rombongan harus menempuh jarak dari wilayah Pajang (Makamhaji, Surakarta) menuju Alas Mentaok (Pasar Legi Kota Gede, Yogyakarta) yang berjarak lebih dari 60 km.
Di ujung perjalanannya, rombongan dijemput oleh Ki Gede Karanglo, saat itu rombongan bertemu di pinggir sungai opak.
Para rombongan melihat lihat kali Opak sembari menikmati pemandangan yang berlatar candi Prambanan. Perjalanan yang sangat jauh menjadikan gerah, rombongan diperintahkan untuk beristirahat dan bersih-bersih di sungai tersebut sambil mandi.
Dengan begitu bisa melepas lelah dan membersihkan diri untuk menghilangkan penat.
Sesampainya para rombongan di kediaman Ki Gede Karanglo mereka dipersilahkan untuk beristirahat dan disajikan makanan. Saat itu menu yang disajikan adalah nasi putih, sayur pecel, peyek, dan sayur kenikir.
Untuk pertama kalinya, rempeyek dianggap sebagai makanan yang mudah untuk dibuat dan memberikan rasa asin di tengah-tengah makanan hambar seperti nasi dan sayur saja. Sejak saat itu para masyarakat Jawa bisa mengenal rempeyek dan bisa membuatnya.
Mentalitas Rempeyek Itu Baik
Merujuk sejarah, rempeyek hadir untuk melengkapi dan memberi rasa diantara hambarnya nasi dan sayur. Sensasi gurih rempeyek menambah selera dan semangat makan.
Mentalitas rempeyek adalah mentalitas penengah yang bijak. Memberi solusi, semangat, pencerahan dan ketenangan di tengah kalutnya suasana. Tidak mudah menyerah (melempem). Tidak adanya ia, suasana sangat hambar, membawa kerenyahan suasana yang hangat, seperti sifat dari rempeyek itu sendiri yang renyah. Kebermanfaatannya memberi warna di setiap momentum.
Jadi, berbahagialah jika ada temanmu yang berceloteh, “Aku ini hanya remahan peyek,”
Jaminan, kamu akan tenang bersamanya …
12 Kuliner Nusantara yang Mulai Langka
Es Gempol Pleret Solo, Kuliner Manis dan Segar Penghilang Dahaga
Rekomendasi
-
Keindahan Kabupaten Supiori Papua yang Wajib Dikunjungi
17 Desember 2021, 11:29 WIB -
Episentrum Mataraman dalam Sumbu Imajiner
16 November 2021, 04:40 WIB -
Pembangunanisme, Rumah Berlindung Pemekaran Daerah (1)
21 Februari 2022, 18:55 WIB -
Aku Hanya Remahan Peyek
22 Februari 2022, 17:48 WIB -
Citra Nusantara
22 Februari 2022, 00:51 WIB

