Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (3)
Nusantarapedia.net — Arsitektur Jaklasiko, Jawa-Klasik-Kolonial
Arsitektur Jaklasiko sebagai jawaban atas pakem langgam arsitektur beraliran klasik, modern maupun post modern. Khusus pada bidang arsitektur dari view simbol kebudayaan, saya mengajukan konsep arsitektur Indonesia yang dinamai arsitektur Jaklasiko.
Meski pada prakteknya penerapan konsep tersebut sudah banyak berlangsung, namun istilah Jaklasiko yang saya maksud tidak ada dalam istilah forum ilmiah teknik arsitektur sebagai definisi langgam arsitektur.
Istilah Jaklasiko singkatan dari Jawa-Klasik-Kolonial. Dalam imajinasi saya, Jaklasiko merupakan konsep rumah sebagai fungsi institusi maupun hunian dengan langgam arsitektur campuran
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (1)
Jawa, diwakili oleh arsitektur percandian Medang, Jawa Timuran, Islam Demak-Mataraman. Klasik, diwakili oleh langgam bergaya; palladian, neoklasik, gotik, barok-racoco, renaissans, maupun romanesque. Sedangkan kolonial mengadopsi dari langgam arsitektur Hindia Belanda.
Bagaimana bila ketiga unsur tadi digabung, disatukan dengan komposisi dan konsentrasi tertentu, pastilah menjadi mahakarya yang luar biasa dan mahal.
Namun, tidak boleh juga dimaknai sebagai gaya feodal yang berbau kekuasaan, namun lebih pada pendekatan spirit-kultural sebagai karya seni dan jati diri.
Percampuran didalamnya tidak hanya pada langgam ragam hiasnya, namun konsep landscape, tata ruang atau fengsuinya disatukan dalam konsep simbolisme spiritual mitologi dan teologi sebagai puncak, seperti konsep sumbu imajiner maupun mandala.
Keseluruhan konsep tersebut didefinisikan sebagai arsitektur Jaklasiko.
Bila diterapkan memang mahal dan mewah, namun yang dimaksud mewah tidak harus mahal, maka diperlukan pemodelan rancang bangun Jaklasiko sebagai desain serta penggunaan material mitasi yang murah, ramah lingkungan, efektif dan efisien.

Menjadi mahal apabila dibangun dalam dimensi atau skala besar dan kecil dengan penggunaan material asli. Pemodelan rancang bangun yang dimaksud, seperti Cina yang membuat gedung bertingkat hanya dalam waktu sekejap dalam hitungan minggu bahkan hari.
Hal-hal seperti ini, kita apresiasi atas rekonstruksi ulang langgam rumah Majapahitan pada perkampungan masyarakat didaerah Trowulan Majapahit, sebagai pemodelan rancang bangun dan langgam ragam hiasnya atas rekonstruksi kebudayaan yang aplikatif, bukan pada romantisme sejarah.
Hal ini juga dimaknai sebagai keprihatinan mengenai kemunduran gaya arsitektur Indonesia saat ini yang tidak jelas sebagai ciri identitas, baik bangunan institusi maupun hunian masyarakat, dan tidak pula beralibi atas modernisasi yang mengandung ciri instant, efektif, efisien.
Sekalipun ukuran rumah hanya seukuran tipe perumahan 21 namun aspek filosofi arsitektural tetap menjadi nafas kultural masyarakat, terlebih pada arsitektur pemerintahan.
Arsitektur Tidak Berdiri Sebagai Kebudayaan Independen
Pasca Indonesia merdeka, tekad Presiden Soekarno menghapuskan langgam post kolonial dalam rangka membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Pembangunan Monumen Selamat Datang, Tugu Monas, Patung Dirgantara, juga Monumen Trikora adalah wujud gerakan sosial untuk melupakan ingatan pada kolonialisme.
Dalam hal arsitektural institusi maupun hunian, Soekarno juga menekankan untuk menghapus langgam arsitektur kolonial dengan merumuskan kembali ciri arsitektural Indonesia yang baru bervisi masa depan.
Kondisi sosio politik pada suatu bangsa telah membawa pada kelahiran kebudayaan baru, kekuasaan tetap memegang peranan penting dalam setiap langgam tata kelola pemerintahan didalamnya, kelahiran langgam dalam banyak kasus (arsitektur) tergantung arah dari kekuasaan dalam membangun jati diri kebangsaan.
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (2)
Seperti halnya sejarah kebudayaan nusantara dan dunia, bahwa langgam sebagai corak, ciri, gaya dan style serta kegairahannya adalah tidak berdiri sendiri, dan tiada satupun peradaban yang murni atas idealisme.
Dengan demikian perubahan arus globalisasi itu tidak bisa dilawan, namun dalam arah haluan didalamnya adalah penting untuk merumuskan idealisme sebagai karakter kebangsaan sebagai jati diri yang membentuk menjadi kebudayaan baru (kultural).
Langgam dalam Perspektif Karakter Kebangsaan
Dalam dunia pariwisata dan pelbagi bidang lain contohnya, masyarakat Indonesia dikesankan dengan sifat dan sikapnya yang ramah tamah, sopan santun, lemah lembut, toleransi, gotong royong.
Saat era kerajaan Kediri-Singasari juga disebutkan bahwa, sifat dan watak para pria Jawa yang lugas dan tegas, pemberani, terbuka dan cenderung keras.

Pada masa Islam, bahwa nafas Islam pada masanya telah menghaluskan karakter perilaku masyarakat pada banyak hal, hingga sifat, watak dan karakternya nampak halus dalam tindakan/perilakunya, dengan tetap menjadi seorang pemberani seperti pendahulunya.
Pada era kolonial dengan budaya feodal yang masif secara institusi, menjadikan keadaan mental (mentalitas) dan karakter masyarakatnya menjadi berubah. Politik divide et impera, telah membawa banyak perubahan yang akhirnya menjadi pewarisan kultural.
Perilaku dengan mental penjilat, sendika dhawuh, cari muka, tidak jujur dengan berpura-pura, bersandiwara menjadi langgamnya.
Sesama saudara sendiri tercipta kebiasaan bertarung dengan mentalnya yang kompetitif dengan mengharapkan kompensasi tertentu dengan melanggar nilai kebenaran yang sesungguhnya.
Pemerkosaan nilai-nilai kemanusiaan mampu dibalut dalam budaya yang santun dengan penuh etik, norma-norma dan tata aturan yang berlaku. Pada ungkapan dengan ekspresi yang buruk disebut sebagai mental “plenyak-plenyek” atau tidak konsisten, dengan suka menjatuhkan atau bermusuhan dengan saudara sendiri diwilayah kebudayaan yang sama.
Namun juga wajar, mengingat agenda seting kolonial selaku agresor demi pembenaran atas kekuasaannya sebagai legitimasi agar kekuasaan itu awet. Inilah yang dimaksud dengan peribahasa, Rebutan balung tanpa isi. Dalam kesimpulannya tercipta mental inferiority.
Dengan demikian, karakter sebuah bangsa sebagai jati diri dapat dilihat dari tindakannya atau perilaku melaluli langgam kulturalnya, yaitu sifat dan wataknya dalam implementasi konsep sebagai fakta.
Namun hal tersebut tidaklah statis, dapat dibentuk oleh suatu keadaan, karena pada dasarnya individu dibentuk oleh lingkungan menjadi faktor yang dominan dalam format pembentukan dibandingkan sifat bawaan atau genetik.
Langgam Kuliner Nusantara
Nusantara yang subur, menghasilkan bahan pokok makanan dari sektor pertanian yang melimpah. Bahan makanan dari alam berupa hasil laut dan hutan banyak tersedia.
Aneka rempah-rempah, biji-bijian, sayur dan buah juga banyak sumber karbohidrat dan protein ditemukan. Padi, ketela, jagung dan aneka ikan laut serta protein hewani lainnya, menjadikan budaya kuliner Nusantara yang komplit.

Bila Sate Madura dan Rendang Padang adalah makanan terlezat didunia, kebudayaan Betawi juga punya Soto Tangkar dan Gado-Gado, Makassar menyebutnya dengan Cotto.
Kebudayaan Minahasa punya Roti Klapertart yang dominan dengan bahan kelapa mudanya, Papua dan entitas lainnya dengan tradisi Bakar Batu atau Babi Guling ala Bali.
Mataraman punya Gudeg dan Nasi Liwet-nya, Madiun punya Pecel dan Surabaya yang gemar akan aneka Rujakan (Cingur, Lotek), Pasundan dengan bebakaran Ikan ala Parahiangan serta banyak ragam kuliner Nusantara yang tentunya lezat.
Kembali pada sejarah, bahwa langgam kuliner sebagai representasi dari kondisi sosio kultural masyarakat. Letak geografis, kondisi politik dan banyak faktor melahirkan aneka kuliner yang khas disetiap kebudayaan.
Kekayaan hasil laut Nusantara yang melimpah telah melahirkan teknologi pengasapan dan pengeringan ikan yang dinamakan Ikan Asin atau Gerih, budaya ini telah lahir sejak jaman Medang abad ke-9. Masyarakat disepanjang pesisir pantai Jawa misalnya, telah melahirkan bumbu yang sedap berupa Terasi dan Petis.
Serta masyarakat pantai Karangbolong-Cilacap melalui Adipatinya telah mempersembahkan bahan Sup Sarang Burung Walet kepada Raja Surakarta. Kanjeng Sunan Kalijaga ketika datang ke Mataram dijamu dengan aneka rebusan dedaunan yang disebut Pecel.
Kondisi politik tetap menjadi faktor dominan dalam kelahiran langgam kuliner, Nasi Goreng lahir dari kesusahan situasi kolonialisme, nasi yang sisa pada keesokan harinya dimasak kembali untuk dihidangkan.
Bubur juga demikian, nasi yang dimasak hingga cair bertujuan untuk meningkatkan kuantitas agar mencukupi untuk dimakan bersama. Aneka jerohan sapi maupun ayam diolah menjadi aneka makanan, karena bangsa pribumi tidak kuat membeli daging dan tradisi memakan jerohan terjadi sampai saat ini.
Itulah dinamika langgam kuliner dari sejarah pembentukannya. Dibagian lain, tradisi kuliner Eropa juga melahirkan ragam baru kuliner Nusantara, seperti budaya minum susu, roti, olahan kentang (perkedel), risoles, aneka sup dan lainnya.
Langgam penyajian kuliner ala Nusantara dan Eropa berbeda. Kebudayaan Eropa mengenal penyajian makanan dengan istilah; Apetizer, Main Course dan Dessert atau makanan pembuka, inti dan penutup. Istilah itu bila dipaksakan padanannya hampir mirip dengan istilah; Jajanan, Madang dan Pencuci Mulut.
Eropa dalam menyajikannya lebih pada ke natural, penggunaan bumbu dan aneka rempah-rempah tidak terlalu menonjol dalam teknik memasak yang dicampur-campur. Penyajiannya lebih pada pemisahan antara bahan dan bumbu.
Maka, rasanya cenderung tawar dan hambar, bila ingin rasa manis, asin atau pedas tinggal menambahkan aneka saus, atau bumbu- bumbu yang terpisah.
Sedangkan penyajian kuliner Nusantara sudah dalam bentuknya yang siap saji, antara bahan dan bumbu dicampur dalam teknik masak yang bersamaan (dicampur). Teknik ini menghasilkan kuliner Nusantara yang khas dengan cita rasa yang identik dengan rasa; pedas, asin, gurih.
Dalam kosakata Jawa disebut dengan makanan yang dimasak dan menghasilkan rasa yang; ngenit, legit, tumeg, manteb. Inilah langgam kuliner Nusantara yang campur-campur, ramai rasanya dan ramai bahannya.
Bersambung bagian 4 …
Rekomendasi
-
Mendulang Keteladanan Pahlawan, Semboyan “Merdeka atau Mati” hingga “Tiji-Tibeh” dan Aktualisasi Modern
9 November 2021, 03:18 WIB -
Sejarah dan Perkembangan Ponsel Hingga Smartphone
24 November 2021, 08:52 WIB -
Wisata Halal di Era Media Baru
12 November 2021, 19:12 WIB -
Kaweruh Kesadaran 4 Kemujuran, Maestro Lukis Grafir Kaca Kang Jajang
10 Desember 2021, 08:34 WIB -
Episentrum Mataraman dalam Sumbu Imajiner
16 November 2021, 04:40 WIB