Candi Cangkuang, Leles Garut Pesona Wisata di ”Swiss van Java”
Keistimewaan danau itu ialah bunga teratai yang senantiasa tumbuh subur dan berbunga mekar di tengahnya. Adapun primadona Situ Cangkuang, yaitu candi kuna yang terletak di salah satu dari tiga pulau yang ada di sana.

Nusantarapedia.net, Jurnal | Tourism — Candi Cangkuang, Leles Garut Pesona Wisata di ”Swiss van Java”
ENTAH sudah berapa banyak pengunjung yang mengabadikan Situ Cangkuang. Mereka yang pernah berwisata ke sana sudah pasti mengabadikan masing-masing momen, apalagi di zaman media sosial atau telefon pintar seperti sekarang. Dalam tempo singkat, momen berwisata di Cangkuang dapat diunggah ke alam maya.
Desa Cangkuang terletak dalam wilayah Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Desa seluas 24 hektare ini tepatnya berada 17 kilometer utara Kota Garut atau sekira 47 kilometer dari Bandung. Semua kendaraan darat dapat menempuh jalan menuju objek wisata ini. Di sana tersedia sebuah lapangan parkir yang cukup luas dan permanen, lengkap dengan tempat berteduh dan MCK. Kedai-kedai makanan juga ada, khususnya pada hari-hari libur. Untuk menuju candi, pengunjung sebenarnya dapat menggunakan jasa tukang ojek. Akan tetapi, alangkah berkesannya jika perjalanan itu ditempuh dengan cara menyewa rakit. Selain unik, rakit bambu ini ongkosnya relatif murah, apalagi digunakan secara rombongan.
Karena belum banyak sarana akomodasi, wisatawan dapat menyewa atau menginap hotel yang ada di Kota Garut. Perjalanan hanya sekira 30 menit. Bahkan, di Cipanas, objek wisata lain yang letaknya sekira 6 kilometer dari pusat kota, ada penginapan yang representatif untuk disinggahi. Restoran, tempat hiburan, serta gerai cenderamata khas Kota Dodol pun banyak ditemukan di daerah ini.
Ada julukan mengesankan yang diberikan pengamat keindahan alam pada Kabupaten Garut; ”Swiss van Java”. Kabaputen yang memiliki banyak danau indah ini dianggap mirip dengan Swiss, yang dikenal sebagai Negara Danau. Ya, objek wisata yang tidak bosan diabadikan itu, Situ Cangkuang.
Keistimewaan danau itu ialah bunga teratai yang senantiasa tumbuh subur dan berbunga mekar di tengahnya. Adapun primadona Situ Cangkuang, yaitu candi kuna yang terletak di salah satu dari tiga pulau yang ada di sana.
Di tepi danau terdapat dermaga rakit bambu yang siap membawa pengunjung ke seberang, tempat berdirinya candi abad ke-VIII. Candi yang ditemukan akhir 1966 dan digali dari 1967 hingga 1968 ini, dipugar pada 1974 dan diresmikan oleh Mendikbud yang saat itu dijabat oleh Prof. Dr. Syarif Thayeb pada akhir 1976. Pada perut candi terdapat patung Syiwa yang duduk di atas lembu Andini, tetapi keempat tangannya sudah buntung. Muka Syiwa pun nyaris rata karena aus dimakan zaman. Candi Cangkuang adalah satu-satunya candi Hindu di Jawa Barat.
Kuburan Panglima Mataram
Bersebelaan dengan bangunan candi terdapat kuburan Sembah Dalem Arif Muhammad yang dikeramtkan oleh warga sekitar. Konon tokoh ini merupakan Panglima Perang Kerajaan Mataram pada abad ke-XVII. Ketika serangan yang dilakukan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung langsung terhadap Batavia gagal, pasukannya tercerai-berai.
Sebagian dari mereka banyak yang bersembunyi di kampong-kampung sepanjang jalan antara Batavia dan Mataram. Salah seorang panglimanya memilih menetap di Desa Cangkuang. Di desa ini, Arif Muhammad kemudian menyebarkan agama Islam hingga akhir hayatnya.
Keturuan langsung Arif Muhammad masih menetap di sana sampai sekarang. Mereka menempati desa tradisional nan unik, bernama Kampung Pulo. Di dalam kampung ini, hanya terdapat enam rumah adat dan sebuah langgar. Bentuk serta ukuran bangunannya semua sama dan masing-masing rumah hanya boleh dihuni oleh satu keluarga.
Jika ada yang menikah, pasangan ini hanya diperkenankan tinggal di dalam rumah adat selama beberapa hari. Setelah itu mereka harus keluar dan membangun rumah di luar kompleks rumah adat tersebut. Sampai sekarang, mereka masih memengang teguh tradisi kuna, seperti tidak membunyikan goong, memelihara ternak berkaki empat, dan ziarah pada hari Rabu.
Makanan dan Kerajinan
Dahulu, selain dodol, Garut juga beken dengan jeruknya. Akan tetapi, kini tidak ada lagi jeruk harum yang sangat segar itu. Konon pohon-pohon jeruk sudah lama ditebangi dan tidak ada peremajaan. Tinggal dodol! Banyak pengusaha makanan legit dan manis ini beroperasi di sini. Di sepanjang jalan, para penjaja menawarkan dodol garut dengan aneka rasa. Ada yang dikemas dengan kertas, ada juga yang dibungkus daun kelapa.
Ikan mas juga merupakan menu kebanggaan Garut. Duduk bersila di saung bambu dengan angin sepoi-sepoi, menghadapi boboko berisi nasi hangat, piring dengan goreng ikan mas garing, ditambah cobek dengan sambal terasi dan jeruk limau, hmmm…asyik!
Penduduk Garut rajin membuat barang-barang dari pandan, kayu, atau kertas. Walaupun rancu dengan produksi Tasikmalaya, di pasar-pasar Garut kita dapat membeli payung kertas, kipas, kap lampu, dan lain-lain.
Penulis, tinggal di Bandung
Selain ke Puncak, Piknik di Ah Poong Jadi Alternatif
Istana Maimoon, Ikon Kejayaan Medan di Masa Silam
15 Destinasi Wisata Populer di Kota Bogor
Petani Rumput Laut Mabonta
Gentan Geopark Village, Satu Tujuan Lima Destinasi (1)