Pawang Hujan, Antara Kewarasan Sosial dan Masyarakat Ilmiah

Hal tersebut sebagai fakta akan dampak bencana alam yang tinggi di Indonesia, kalau bisa di kendalikan kenapa tidak? agar kebencanaan tersebut tidak menimbulkan dampak dan kerugian.

23 Maret 2022, 11:06 WIB

Nusantarapedia.net — Rara Istiati Wulandari, si . Pawang hujan, antara kewarasan sosial dan masyarakat ilmiah.

, ya, wanita cantik yang selama gelaran moto GP di Mandalika, Lombok Nusa Tenggara Barat menjadi pengawal cuaca (baca:pawang hujan).

Dengan demikian menjaga kewarasan sosial perlu dalam kesatuan pandang masyarakat ilmiah Indonesia, sebagai maksud mencerdaskan kehidupan bangsa untuk kemajuan Indonesia.

Profesi Rara sebagai pawang hujan atau . merupakan aplikasi disiplin teknik untuk komputasi . Teknik tersebut dengan pendekatan sistematis untuk masalah komersialisasi, standardisasi, dan tata kelola aplikasi komputasi . Tujuannya untuk berbagai keperluan, seperti; potensi kebencanaan yang ditimbulkan dari cuaca. Tentu untuk merekayasa atau mengendalikan dan mengatur hujan, badai, angin dan lainnya.

Rara, menjadi perhatian para netizen di media sosial karena aksi-aksinya dalam mengendalikan, mengatur atau menyingkirkan hujan di sirkuit arena balap motor kelas dunia tersebut.

Terlepas dari pro dan kontra, serta percaya atau tidak, berkaitan aksinya mengatur cuaca, semua diserahkan kepada kepercayaan masing-masing. Yang jelas, dalam kepercayaan agama tertentu, turun hujan atau tidak ini terjadi mutlak kewenangan dari Tuhan, manusia hanya di perintah untuk berusaha saja dalam hal apapun.

Pada kenyataannya, gelaran balap motor tingkat dunia ini tergolong sukses tanpa halangan berarti, termasuk dalam hal ini berkaitan dengan kondisi cuaca di arena sirkuit moto GP dan sekitarnya. Peran seorang Rara Istianti Wulandari si pawang hujan tidak bisa di kesampingkan.

Bencana alam yang disebabkan karena tingkat curah hujan yang tinggi, menjadikan dampak dan potensi tanah lonsor, terkadang memakan korban nyawa manusia tidak sedikit.

Namun bukan berarti hujan adalah biang keladi kebencanaan seperti , tanah longsor dan lainnya. Faktor kecerobohan serta kesalahan manusia, kerap menjadi penyebabnya. Seperti penebangan pohon yang tidak terkendali, alih fungsi lahan, konversi hutan, dampak global warming atas penggunaan efek rumah kaca dan material alat-alat penunjang hidup manusia.

Dampak seperti penyumbatan saluran air atau pendangkalan sungai, sedimentasi di hulu dan hilir, sejatinya akibat pengelolaan lingkungan yang kurang terpadu dan tidak terkendali karena pembangunan yang over atau telah melahirkan pembangunanisme. Itulah penyebab terjadinya , menjadikan musim tidak menentu dan dampak lainnya.

Gunung Sewu dalam Literasi Bumi dan Budaya Mataraman (1)

Mungkin kita boleh berandai-andai, jika saja Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan BASARNAS, bisa bekerja sama dengan seorang Rara si pawang hujan yang mumpuni itu, penakhluk cuaca di event internatisonal balap moto GP, apakah bencana bisa di atasi? Seperti kerjasama keduanya yang berkoordinasi melibatkan BMKG. Artinya, secara teknik engineering telah terjadi kolaborasi spiritual dan logis.

Hal tersebut sebagai fakta akan dampak bencana alam yang tinggi di Indonesia, kalau bisa di kendalikan kenapa tidak? agar kebencanaan tersebut tidak menimbulkan dampak dan kerugian.

Dengan desain gabungan tersebut, maka Indonesia telah berhasil menemukan teknik baru dalam mengendalikan cuaca yang dapat di forum ilmiah-kan di tingkat dunia.

Hal tersebut sebagai jawaban agar tidak menimbulkan spekulasi bahwa, aksi Rara tersebut sengaja dilakukan dalam rangka promosi pariwisata Indonesia dengan gimmick yang heboh.

Banyak pendapat dan tanggapan masyarakat ataupun netizen atas aksi Rara si pawang hujan. Ada yang mengatakan, negara hanya menghamburkan uang, apakah skema pembiayaan pembangunan sirkuit dan ajang yang di gelar benar-benar berdampak langsung dengan ekonomi Indonesia, ataukah itu hanya bisnis para konglomerat.

Di bagian lain, rakyat sedang heboh dengan melambungnya harga minyak goreng, program vaksinasi booster yang masih terus berjalan. Kesemuanya merupakan kebalikan dari hiruk pikuk perhelatan tersebut yang mewah, milik kalangan yang berduit. Ataukah, justru aksi Rara sengaja diriuhkan untuk mengalihkan perhatian atas banyak masalah di tanah air.

Dengan banyak spekulasi tersebut, maka perlunya konsistensi yang dilakukan pemerintah untuk urusan pengelolaan cuaca guna menghindari potensi kebencanaan, yaitu kolaborasi Rara dari teknik spiritual dengan badan terkait (BMKG) dengan teknik logis menjadi teknik baru atau bahkan disiplin ilmu baru sebagai satu kesatuan tanggung jawab negara bersama masyarakat dalam urusan cuaca dan dampak.

Kita dorong dan support Rara Istianti Wulandari bersama Pemerintah apabila niatnya demikian, bukan sekedar panggung kehebohan yang semu. Dengan demikian menjaga kewarasan sosial perlu dalam kesatuan pandang masyarakat ilmiah Indonesia, sebagai maksud mencerdaskan kehidupan bangsa untuk kemajuan Indonesia.(Ragil74)

Tsunami Alat Legitimasi, Ungkap Peristiwa berbasis Geo-Mitologi
Episentrum Mataraman dalam Sumbu Imajiner

Terkait

Rekomendasi

Terkini