Politik Ekspansi Panembahan Senopati dan Susuhunan Hanyakrawati

12 Maret 2022, 16:56 WIB

Nusantarapedia.net dan Susuhunan Hanyakrawati

Sejak manahbiskan diri (Danang Sutawijaya) sebagai penguasa Mataram, dinasti ini disebut sebagai Wangsa Mataram. Danang Sutawijaya bergelar: “Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa”

Senopati menerapkan politik ekspansi guna memperluas wilayah teritori Mataram. Sejak kejatuhan Demak dan Pajang, wilayah eks- bekas keduanya menjadi terpecah-pecah. Mataram menguasai daerah Jawa bagian tengah, Jawa bagian timur milik (), sedangkan wilayah barat milik kerajaan Cirebon hingga Banten.

Tekad Senopati ingin menyatukan Jawa di bawah kekuasaan Mataram. Background Senopati yang berangkat dari latar belakang militer menjadikan kepemimpinannya menitikberatkan pada sektor kemiliteran. Tentu bertujuan untuk menundukan kadipaten-kadipaten dengan serangkaian aksi kampanye militernya.

Namun demikian, haluan bernegara yang dibangunnya dengan pendekatan militer tidak semuanya digunakan untuk memperluas teritori, banyak juga penundukan daerah-daerah dilakukan dengan diplomasi politik. Jalur perkawinan ataupun negosiasi kultural dilakukannya juga. Tentu bertujuan untuk efisiensi anggaran dan efektifitas pergerakan yang sudah dipikirkan waktu itu.

Navigasi Kerajaan Mataram Inti

Kuthanagara atau ibu kota Mataram terletak di;

(1) Kutagede, Yogyakarta (1587–1613 M)
Raja yang memerintah;

  • Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati (1587-1601 M), Kuta Gede
  • Raden Mas Jolang (1601-1613 M), atau
    Panembahan Hanyakrawati, Kuta Gede
  • Raden Mas Wuryah (1613 M), atau Adipati Martapura, hanya satu hari bertahta, Kuta Gede

(2) Karta, Bantul (1613–1645 M)

  • Raden Mas Jatmika (1613-1645 M), atau
    Panembahan Hanyakrakusuma atau Sultan Agung

(3) Pleret (1646–1680 M)

  • Peralihan ke VOC, Bantul

(4) Kartasura dan Surakarta (1680–1755 M)

  • Pemerintahan bersama VOC dan Istana, Sukoharjo dan Solo

(5) Mataram Anyar: Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman (1755-1950)

  • Pemerintahan bersama VOC dan Administratif Hindia Belanda.
Wangsa Mataram, Cabang Ningrat Baru

Ekspansi Kekuasaan Panembahan Senopati

Panembahan Senopati memimpin Mataram dari tahun 1587-1601M, atau selama 14 tahun berkuasa. Pada saat menjadi anak angkat Prabu Hadiwijaya di Pajang, tinggal di sebelah utara pasar, maka dinamakan Raden Ngabehi Loring Pasar.

Sutawijaya anak dari Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan bersama Ki Penjawi dan Ki Juru Martani merupakan pemikir Pajang. Ketiganya merupakan petinggi dan penasehat raja Prabu Hadiwijaya di kerajaan Pajang.

Ketiga Senopati tersebut yang selanjutnya di sebut sebagai tiga serangkai Mataram atau “Three Musketeers from Mataram.”

Banyak versi yang mengisahkan kiprah Senopati sewaktu masih di Pajang maupun setelah melanjutkan kepemimpinan Ki Gede Mataram di Mentaok.

Perang Mataram vs Pajang yang nyata disebabkan karena Sutawijaya kecewa dengan keputusan Hadiwijaya, karena Tumenggung Mayang anak dari Raden Pabelan selingkuh dengan putri Hadiwijaya, hingga Tumenggung Mayang dibuang ke Semarang.

Raden Pabelan dihukum mati, yang mana ibu dari Raden Pabelan adik Sutawijaya. Hal ini yang mengakibatkan perang Mataram vs Pajang di dekat Kali Opak Prambanan meletus, yang mana pihak Pajang menderita kekalahan, dan mengakibatkan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal.

Cerita ini juga ada benarnya, mengingat ketegangan Mataram vs Pajang dalam intensitas yang tinggi. Ketegangan terbesar dengan berakhir perang yang terakhir kala Mataram dan Jipang menyerang Pajang, saat perebutan tahta Pangeran Benowo dengan Arya Pangiri. Itupun posisi Pangeran Benowo berada di pihak Mataram.

Wilayah pertama yang menjadi target perluasan daerah eks-Pajang-Demak, yaitu kadipaten di Jawa Timur. Pada masa ini, karena tidak adanya pemerintahan pusat yang kuat (pasca Demak), ketua organisasi kadipaten Jawa Timur dipimpin oleh Adipati di Bang Wetan (Surabaya), mengambil alih dengan memobilisasi kadipaten-kadipaten di wilayah Jawa Timur.

Terjadilah perang antara Mataram vs Surabaya grup di Mojokerto, namun dapat dipisah oleh Giri Kedathon. Sebelumnya, bekal perang Mataram memobilisasi daerah eks-Padjang dan Demak di wilayah Jawa bagian tengah.

Wilayah Pati, ditundukan dengan jalan damai saat diperintah Adipati Pragola putra Ki Penjawi, karena kakak Pragola menjadi permaisuri Senopati dengan harapan bisa menjadi raja, kelak.

Tahun 1590 M, gabungan pasukan Mataram (Mataram, Padjang, Demak, Pati) menyerang Madiun yang diperintah oleh Adipati Rangga Jumena, putra Sultan Trenggono. Madiun kalah, Rangga Jumena melarikan diri ke Surabaya, sedangkan putrinya di ambil selir oleh Senopati yang bernama Retno Dumilah.

Dengan kekalahan Madiun, Mataram dengan mudah menguasai daerah sekitarnya seperti Ponorogo, Kediri hingga Pasuruan.

Tahun 1591, terjadi kisruh suksesi di Kediri, antara Raden Senopati Kediri yang berhak atas tahta ayahnya melawan Ratu Jalu. Akhirnya Ratu Jalu (Adipati Pesagi) yang berhasil menduduki tahta atas bantuan Surabaya.
Raden Senopati Kediri diambil sebagai anak angkat oleh Panembahan Senopati dan dibantu merebut tahta ayahnya kembali yang dikuasai Ratu Jalu. Perangpun terjadi, hingga Raden Senopati tewas juga Adipati Pesagi yang tak lain adalah pamannya sendiri.
Atas peristiwa ini, Kadipaten Kediri jatuh pada Mataram.

Adipati Pasuruhan berniat tunduk pada Mataram, namun dicegah oleh Ronggo Kaniten pembantunya dan menantang duel dengan Senopati. Namun akhirnya Ronggo Kaniten kalah dan dibunuh sendiri oleh Adipati, Pasuruhan tunduk.

Adipati Pragola tahun 1600 M sempat memberontak kepada Mataram, karena cemburu atas Retno Dumilah yang diangkat menjadi permaisuri kedua, sebelumnya, kakaknya Pragola sudah menjadi permaisuri terlebih dahulu. Peristiwa ini kembali bisa di netralisir oleh Senopati sendiri meski sempat terjadi dua kali pertempuran.

Ekspansi Panembahan Senopati ke wilayah ujung timur Jawa di daerah tapal kuda belum menjadi fokus, mengingat Surabaya masih menjadi blokade alami. Daerah Blambangan, Panarukan hingga Bali, wilayah tersebut belum bisa ditundukkan dan tetap menjadi sebuah wilayah merdeka.

Selama Panembahan Senopati berkuasa, wilayah Jawa Timur yang belum menjadi bagian dari Mataram adalah persekutuan Surabaya, diantaranya; Lasem, Wirasaba, Sukadana, Madura dan Surabaya sendiri.

Tahun 1601, Panembahan Senopati mangkat, digantikan oleh putranya Mas Jolang dari permaisuri anak Ki Penjawi Pati (Nyai Waskithajati)

“Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati Ing Ngalaga Mataram”

Nama kecilnya Mas Jolang, lahir di Kota Gede, wafat di Krapyak (1601-1613 M).
Disebut sebagai Panembahan Sedo Krapyak, karena meninggal dunia di hutan Krapyak (selatan Jogja) saat berburu.

Istri yang pertama, bernama Ratu Tulungayu dari Ponorogo. Istri yang kedua putri dari Pangeran Benowo, adik tiri Danang Sutawijaya yang menjadi raja Pajang hanya setahun.

Putra dari istri pertama, kelak yang menjadi raja ke-tiga Mataram yang hanya sehari, yaitu Raden Mas Wuryah (1613 M), atau Adipati Martapura, hal ini untuk memenuhi “angger-angger” ketentuan suksesi raja atau janji. Mas Wuryah tetap dinobatkan sebagai raja, meski menderita cacat tuna grahita, karena merupakan putra mahkota dari permaisuri pertama. Permaisuri kedua, melahirkan Mas Rangsang yang kemudian menjadi Sultan Agung, raja atau Susuhunan Mataram ke empat.

Di bawah pemerintahan Prabu Hanyakrawati, Mataram belum lagi memperluas wilayahnya, akibat konflik keluarga atas kekecewaan perebutan tahta raja sepeninggal Panembahan Senopati. Peran Hanyakrawati lebih pada pemadaman pemberontakan untuk stabilitas Mataram.

Adik dari Prabu Hanyakrawati yang bernama Pangeran Puger alias Raden Mas Kentol Kejuron, adalah putra kedua Panembahan Senapati yang lahir dari selir bernama Nyai Adisara, karena merasa lebih tua, kecewa atas suksesi raja yang diberikan kepada Prabu Hanyakrawati.

Atas dasar tersebut Pangeran Puger sering membuat gaduh di istana, akhirnya diberi posisi sebagai Adipati di Demak. Dengan posisi barunya sebagai Adipati, justru digunakan untuk menyusun kekuatan untuk memberontak kepada adiknya, ketegangan ini berlangsung selama tiga tahun, dari tahun 1602-1605 M sampai akhirnya ditangkap dan diasingkan di Kudus.

Tahun 1607 M, Pangeran Jayaraga (alias Raden Mas Barthotot), adik Prabu Hanyakrawati yang menjadi Bupati Ponorogo, secara terang-terangan melakukan kudeta, namun upaya ini gagal, ditumpas oleh adiknya juga dari Ibu Retno Dumilah (Madiun), yaitu Pangeran Pringgalaya. Akhirnya, Pangeran Jayaraga di buang di Nusa Kambangan.

Wilayah Surabaya yang makmur dan kuat belum dapat ditundukkan oleh Mataram saat ayahnya berkuasa, usaha ini dilanjutkan pada tahun 1610 M. Surabaya dipimpin oleh Adipati Surabaya yang berusaha membangun jaringan dengan membangun poros kekuatan. Namun usaha Hanyakrawati belum berhasil, posisi Surabaya masih kuat hingga dapat ditundukan setelah kepemimpinan Sultan Agung. Itupun dengan serangkaian pertempuran yang menguras sumber daya keduabelah pihak.

Tahun 1613, Panembahan Hanyakrawati meninggal saat berburu di hutan Krapyak. Maka dianugerahi gelar anumerta dengan sebutan Panembahan Seda Ing Krapyak.

Tahta selanjutnya dilanjutkan oleh putranya dari garwa selir yaitu, Raden Mas Jatmika, selanjutnya menjadi Sultan Agung Hanyakrakusuma. Namun sebelumnya, tahta itu diberikan kepada Raden Mas Wuryah, meski hanya menjadi raja sehari karena keadaan mentalnya yang tuna grahita. Ini untuk menghormati karena lahir dari seorang permaisuri.

Tongkat estafet kepemimpinan Mataram saat dipimpin Sultan Agung merupakan masa keemasan Mataram. Tradisi politik ekspansi dengan kampanye militernya terus dilanjutkan. Peristiwa besarnya saat Mataram menyerang ke Batavia melawan VOC, namun gagal.

Sultan Agung berhasil menyatukan Jawa, dengan hanya menyisakan Banten dan Batavia. Sultan Agung mewarisi gaya kepemimpinan eyangnya, Panembahan Senopati.

(segera terbit: Geopolitik dan Strategi Sultan Agung)

Mataram Pleret, Penaja Perang Suksesi Monarki Jawa
Mataram Kartasura, Lahir dan Tumbuh dengan Pecah Belah (1)

Terkait

Rekomendasi

Terkini