Anda Seorang Wanita Karir? 6 Tip Ini Akan Membuat Anda Berkarir dengan Bahagia

Suami tidak dibekali kemampuan menganalisa seperti wanita, hal ini disebutkan oleh Alan dan Barbara Pease dalam bukunya “Kitab Bahasa Tubuh” bahwa wanita adalah ahli analisa dan pria adalah pembaca bahasa tubuh yang payah

19 Agustus 2023, 08:40 WIB

Nusantarapedia.net | JURNAL, GAYA HIDUP — Anda Seorang Wanita Karir? 6 Tip Ini Akan Membuat Anda Berkarir dengan Bahagia

BUKAN hal mudah memang untuk kita kaum hawa memutuskan untuk berkarir. Mengingat berbagai macam pertimbangan. Hal terberat untuk dipertimbangkan salah satunya adalah sang buah hati yang terpaksa harus kehilangan waktu, kehadiran dan kebersamaan dengan kita. Kadang situasinya bagai buah simalakama, kerja salah gak kerja makin salah. Suami kena PHK, sakit kronis, dan belum mendapatkan pekerjaan atau tidak bisa beraktivitas sama sekali, sementara tawaran kerja yang datang membuat kita terpaksa harus menerima, tanpa berpikir panjang dalam kondisi terdesak oleh kebutuhan yang semakin melambung.

Dalam kondisi demikian kita terpaksa beralih peran menjadi sang pencari nafkah, menggantikan peran suami sekaligus merangkap sebagai penjaga sarang, mengurus kebutuhan dan pekerjan rumah tangga serta tetap berusaha mengasuh anak meski dalam kondisi yang terbatas, baik secara waktu maupun tenaga. Capek, lelah, jengkel sudah pasti ya. Kondisi stress yang tak terelakkan akibat dari peran ganda yang dijalani. Semua tahu itu tidak mudah.

Namun pada beberapa wanita, ada yang sejak sebelum menikah memang sudah bekerja, ikatan dinas, memilih bekerja untuk menyokong suami memenuhi kebutuhan keluarga, ada juga yang memang menyukai bekerja untuk mencari kesibukan. Atau beberapa memilih bekerja untuk pencarian aji diri. Seolah value seseorang ditentukan dari seberapa banyak mereka bisa cari uang dan memenuhi kebutuhan pribadinya dari uang hasil kerja keras sendiri. Apapun pertimbangan dan alasannya, kita tetap berhak bahagia dengan cara meminimalkan stress.

Berikut 6 tip yang bisa kita lakukan atau pertimbangkan bagi yang sekarang sedang memutuskan untuk berkarir, atau sudah berkarir tapi merasa semua hal tidak sesuai dan kita tertekan karenanya.

1) Tentukan tujuan yang jelas, untuk apa kita memutuskan bekerja

Untuk meminimalisir stress, tetapkan tujuan yang benar sesuai dengan kodrat awal kita. “innamal a’malu binniyat” sesungguhnya semua amalan tergantung dari niat. Niat awal sangat menentukan kestabilan pikiran kita dalam menjalani peran sebagai wanita karir. Pastikan tujuan kita, kita niatkan benar benar ingin membantu suami, sesuai dengan kodrat kita sebagai pendamping dan penyejuk hatinya. Hasil yang kita peroleh benar benar kita utamakan untuk menyokong kebutuhan rumah tangga, bahkan suami berhak atas penghasilan kita, sekalipun untuk kebutuhan pribadinya. Menjaga mental suami dalam keadaan stabil dampaknya akan berbalik kepada stabilnya mental kita juga, meskipun faktanya suami tak berpenghasilan sama sekali karena keadaan yang tak memungkinkanya untuk bekerja.

Seperti istri beliau Rasululloh SAW, Siti Khadijah pedagang kaya raya, yang menyerahkan sebagian atau bahkan hampir seluruh hasil kekayaannya untuk kepentingan dakwah beliau, yang saat itu benar benar membutuhkan sokongan dana akibat orang orang kafir yang memblokade keluarga dan pengikutnya. Bayangkan betapa bahagianya hati beliau rasululloh mendapatkan dukungan penuh dari istri tercintanya. Bahkan Khadijah adalah istri yang paling dicintai oleh rosululloh berdasarkan ungkapan istri terakhir beliau Aisah RA :

Setiap kali disebut nama ‘Khadijah’ di hadapannya (Rasulullah saw.), Ia selalu memujinya dan meluapkan memori indah bersamanya. (Suatu ketika) Aku pun (A’isyah) merasa cemburu dan marah atas hal tersebut, hingga aku berkata, “(Wahai Rasulullah saw.) Untuk apa kau selalu mengingat perempuan Quraisy tua (Khadijah). Sungguh kau telah mendapatkan sosok pengganti yang lebih baik.” (bermaksud dirinya sendiri)

Lupakan tujuan arogan yang selalu bergaung di telinga kita, paradigma dalam masyarakat atau bahkan orang tua kita sendiri yang menggembar gemborkan bahwa “wong wedok iku ajine yen iso golek duit dewe”, harga diri seorang wanita tergantung dari seberapa banyak dia bisa cari uang sendiri atau alasan ketakutan yang sengaja disebarkan bahwa wanita harus bisa nyari uang, harus bisa mandiri untuk persiapan kalau sewaktu waktu ditinggal suami baik mati, cerai atau kawin lagi. Padahal faktanya semua akan mengalir dengan sendirinya, dalam kondisi apapun, baik ditinggal mati sekalipun, kita dan anak anak sudah ada yang menghidupi bukan?, jangankan masih ada ibunya, kedua orang tua meninggalpun anak masih tetap punya jatah rezekinya sendiri dan tetap bisa hidup. Jadi bulatkan niat dari sekarang, benar-benar untuk membantu suami.

Terkait

Terkini