Dekonstruksi Pemahaman Teori Kritis

27 Februari 2022, 10:54 WIB

Nusantarapedia.net — Dekonstruksi Pemahaman Teori Kritis

Analisis Teori Kritis sering dilakukan dengan Dekonstruksi pemikiran untuk membangun paradigma baru.

Suatu pemikiran dimaksudkan untuk memahami kontradiksi yang ada di dalam teks dengan mencoba menyusun dan membangun kembali makna-makna yang sudah melekat dalam teks tersebut.

Teori kritis menggambarkan sejauh berusaha “untuk membebaskan manusia dari keadaan yang memperbudak mereka” (). Dalam definisi umum, Teori kritis merupakan aliran pemikiran yang menekankan penilaian reflektif dan kritik dari masyarakat dan budaya dengan menerapkan pengetahuan dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Kajian sosiologis selalu diterapkan dalam teori ini.

Teori kritis dapat ditarik ke pelbagai bidang dengan tinjauan kritis analitis dan paradigmatis. Teori kritis harus mengintegrasikan semua ilmu-ilmu sosial utamanya, termasuk kajian geografi, ekonomi, sosiologi, sejarah, ilmu politik, antropologi, dan psikologi. Dimaksudkan sebagai upaya peningkatan pemahaman dan pengetahuan kelompok masyarakat didalamnya.

Tinjauan Kasuistik

Seseorang sering mengabaikan potensi pemakluman sosialnya demi sebuah ego. Atas nama kebutuhan showing off, kata-kata “Ini menurutku loh, ya!” begitu nyaring dan lantang terdengar. Terlebih belakangan saat jargon “Memerdekakan” semakin merdu digaungkan oleh para milenialis liberal (baca: kaum semau gue).

Memerdekakan itu sejalan dengan pembiaran. Dalam KBBI artinya melepaskan dari penjajah. Dalam konteks berpikir, memerdekakan berarti melepaskan diri dari pakem yang menciptakan margin-margin penghalang dimensi pemikiran seseorang, pun juga membiarkan sesuatu yang beda berjalan alami tanpa ada intervensi pribadi. Beropini adalah bentuk kemerdekaan beraktualisasi.

Dalam berbagai forum, kita sering menemukan seseorang begitu mengagumi pendapat pribadinya hingga ia seolah berambisi menularkan pahamnya kepada banyak orang. “Kalau saya, sih, dari pada begitu lebih memilih begini karena yang begitu itu tidak tepat dan akan mengakibatkan fatal.” Ini adalah kalimat klaim pembenaran atas opininya.

Sekalipun opini itu belum tentu benar atau bahkan menyalahi realitas umum. Entah ia besar dalam lingkungan yang bagaimana, namun biasanya orang-orang yang terlalu memaksakan kehendak itu berangkat dari perlakuan sosial yang tak memihak. Ia biasa hidup sendiri dengan aturan dan batasan-batasannya sendiri.

Untuk kebutuhan eksistensi tentu ini kebablasan. Apakah gangguan psikis? Bisa jadi. parahnya, statemen serupa sering kita jumpai dan dengarkan bukan hanya di forum-forum resmi tetapi juga di perbincangan lepas.

Ahli psikologi mengatakan keyakinan yang bertentangan dengan kebanyakan persepsi kelompok bukanlah kepercayaan diri yang tinggi, melainkan penyimpangan kepribadian di mana orang tersebut melawan azas yang secara umum berlaku.

Mereka menghindar dari aturan yang ada sehingga seakan-akan berada pada dunianya sendiri yang tidak sama dengan yang normatif (Tika Bisono, 2019)

Lebih absurdnya ketika lontaran statemen diakhiri dengan epilog, ‘Ini menurut saya, lho, ya! Ini, sih, kalau saya’, dan epilog penuh ego serta pembenaran yang lain. Orang-orang berkepribadian seperti ini jarang mendapat dukungan sosial, bahkan penolakan dan isolasi ia terima. Sementara isolasi akan semakin menenggelamkan ia pada kondisi delusional yang lebih parah.

Artinya apa? Penyadaran intensif harus segera dilakukan. Tidak ada yang dirugikan secara signifikan, mungkin hanya kelompok kecil saja yang merasa tidak nyaman secara emosional. Perasaan kesal, sebal, jengkel dan muak. Namun, ketika masuk pada ranah keluarga jelas ini akan menjadi berbahaya.

Mengenal Character Building

Keluarga adalah salah satu kawah candra dimuka pembentukan karakter. Ada anggota kelompok terdekat yang setiap hari tentu melakukan interaksi intens. Artinya ini seperti virus yang juga bisa menular. Ada generasi dan pasangan yang akan meniru kebiasaan itu.

Kebiasaan yang terulang akan menjadi karakter. Bisa dibayangkan bagaimana jika anggota keluarga sama-sama berkecendurangan delusional dimana masing-masing darinya memiliki ego diluar kelaziman.

Kefatalan puncak para delusioner ini adalah ketika merasa tidak ada lagi yang terasa benar di matanya. Hanya yang berangkat dari viewnya saja yang benar dan tak perlu revisi. Menolak kebenaran mutlak bukan hal yang aneh lagi. Generasi out of the box bukan generasi yang diharapkan lahir dari proses belajar semacam ini. Justru ini adalah upaya dekontruksi bahkan perusakan bangunan pemahaman teori kritis yang sedang giat dipelajari oleh kaum progresif lokal.

Teori Kritis merupakan diskursus yang menekankan pada penilaian reflektif dan kritis. Teori ini getol menyebarkan virus pembebasan. Sejalan dengan term memerdekakan yang coba diusung generasi kritis modern.

Teori kritis adalah teori social yang menekankan pada analisis kehidupan social secara menyeluruh dengan orientasi terciptanya tranformasi dan perubahan social. Teori ini tidak sama dengan aji ngeyel. Bagaimana ini bisa berhasil diimplementasikan tergantung kemampuan kita mencetak generasi yang mencintai ilmu, terbuka terhadap hal dan pemikiran baru meskipun paradoks dengan pemikiran pribadi.

Rekonstruksi Masa Lalu Melalui Visi Spiritual
Kebebasan Berpendapat pada Era Digital adalah Boomerang?

Terkait

Rekomendasi

Terkini