Dua Pisang, Uang, dan Topeng
Sebagian orang samar-samar menyadari, karena topeng itulah sebenarnya yang membuat dirinya tampak sangat hebat. Tanpa topeng tak bakal sanggup menutupi kemunafikan, dan tentu itu akan menjadi aib yang menghancurkan.
Nusantarapedia.net — Dua pisang, uang, dan topeng.
Pantomin, badut, penari wayang, dan topeng monyet. Mereka selalu memainkan lakonnya selaras dengan ekspresi dari topeng yang dikenakan. Di antara deretan pemain topeng itu, yang terakhir paling menghibur. Pertunjukan topeng monyet selalu saja berhasil mengocok perut siapa saja yang kebetulan menonton pertunjukan atraksinya.
“Topeng monyet,” bukanlah topeng menyerupai monyet. Permainan topeng ini benar-benar dilakukan oleh seekor monyet sungguhan. Julukan topeng monyet sendiri juga tidak lahir dari dunia ceritera, seperti halnya, lutung kasarung, sun gukong, dan hanoman. Topeng monyet adalah makhluk yang lahir dari masyarakat pinggiran yang butuh hiburan murah.
“Di antara kesemuan itu ada satu tujuan yang ingin dicapai dan tak pernah berubah sejak sepanjang peradaban, yaitu ingin dapat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Walau nantinya hanya harus berakhir dengan dua potong pisang.”

Alat-alat yang mengiringi atraksi topeng monyet sangatlah sederhana, beberapa berupa perabot dapur dan mainan bekas. Kendati begitu pertunjukan ini selalu saja bisa mengusir galau para penontonnya. Saat menyuguhkan hiburan, topeng monyet mengangkat isu-isu sosial yang sama sederhana dengan alat diperagakannya.
Aksi selalu saja diakhiri dengan ritual saweran. Meski sebenarnya ia tak menginginkan uangnya, tapi ia masih saja melakukan hal sama setiap kesempatan, menjimpit duit dari setiap orang yang datang mengintipnya. Konon katanya uang-uang itu sengaja dibiarkan mengendap di kantong tuannya, dengan harapan menerima imbalan dua buah pisang.
Bagi primata lain, dua buah pisang mungkin saja jatah yang kurang. Berbeda topeng monyet, dua buah pisang memang bukan untuk mengenyangkan perutnya. Melainkan ia ingin membuktikan bisa menjadi warga negara baik, yang manut apa kata petinggi.
Topeng monyet, seserius apa pun lagak dan gayanya kala beratraksi, mulai dari cara berjalan, memonyongkan mulut, dan membuka mata lebar-lebar. Orang-orang yang melihatnya masih saja beranggapan itu hanyalah akal-akalannya supaya tampak serius dan ingin dianggap sebagai sosok penting di tengah kerumunan sosial yang riuh lantaran beberapa kebutuhan tetiba harganya menggila dan sebagian lain lenyap dari pasaran.
Penonton yang mengitari membentuk gelanggang. Tak pernah manaksir kelakuan aksi topeng monyet adalah sifat asli si monyet. Di antara desakan tetabuhan yang menggema di ruang udara. Monyet dan penonton sama-sama tak pernah berniat untuk serius melihat kenyataan di hadapannya adalah realita yang sebenarnya. Bagi mereka yang ada hanyalah arena hiburan semat.

Di antara kesemuan itu ada satu tujuan yang ingin dicapai dan tak pernah berubah sejak sepanjang peradaban, yaitu ingin dapat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Walau nantinya hanya harus berakhir dengan dua potong pisang. Tapi meraup uang tiada pernah bosan, baik bagi monyet, penonton, maupun tuannya—abang topeng monyet.
Kendati memiliki harapan yang sama hal mengeruk uang. Tapi pada topeng monyet, antara karakter topeng dan karakter monyet, bisa sangat dibedakan. Karena, begitu uang saweran selesai diterima dan topeng dibuka. Monyet kembali seperti umumnya primata, ia tak tamak uang, hanya doyan dua buah pisang. Berbeda tuan dan penontonnya, bisa selalu kurang: tahta, harta, dan wanita.
Namun, perbincangan topeng tak berhenti sampai dua pisang dilahapnya habis. Pasalnya, monyet, tuan, dan penontonnya bisa saja tak pernah sadar bahwa setiap hari dirinya bertopeng. Dapat dikatakan setiap orang bertopeng, dengan beberapa model tersedia. Artinya setiap orang memiliki banyak topeng. Bebas memilih hendak memakai yang mana saja. Bahkan boleh jadi ada yang mengenakannya sekaligus.
Mungkin seseorang pagi ini menjadi perempuan yang manis, di lain kesempatan menjadi perempuan agak asam-pedas. Sementara di ruang sana ada pria tampil rapi dan berwibawa, berbicara di tata karena di hadapan kamera.
Sebab ada banyak topeng yang dimiliki. Entah, peran apa yang dipilih orang-orang setiap harinya, sejak mulai membuka mata-awal hari. Ironinya, dalam kehidupan sehari-hari nyaris tiada seorang pun sanggup melihat orang lainnya dengan mengenakan wajahnya sendiri. Meski pada dasarnya wajah-wajah yang dibawanya sejak lahir adalah tetap topeng. Namun setidaknya dengan mengenakan wajah bawaan dari kandungan, ia tidak memakai sesuatu dengan kualitas abal-abal.
Tapi, apakah kehidupan akan semenarik sekarang jika semua orang mulai menanggalkan topeng-topengnya? Bukankah wajah di balik topeng-topeng itu yang selalu bisa menyuguhkan drama dan cerita? Apalagi tak semua topeng adalah identitas ironi dan naif. Buktinya, pahlawan-pahlawan Hollywood selalu bertopeng.
Sebagian orang samar-samar menyadari, karena topeng itulah sebenarnya yang membuat dirinya tampak sangat hebat. Tanpa topeng tak bakal sanggup menutupi kemunafikan, dan tentu itu akan menjadi aib yang menghancurkan.
Menutup tulisan ini. Penulis memilih melahap habis dua pisang daripada memperhatikan pemain topeng.

Banyuates, Sampang, Kamis 7 April 2022
The Mask “Orang Baik” Dari Dunia Sampah
Sanjungan Batu Sandungan
Rekomendasi
-
Transformasi Pertanian Subsisten Menuju Kapitalisasi Industri Pertanian Mandiri
21 November 2021, 04:59 WIB -
Polres Tolitoli Melaksanakan Kegiatan Vaksinasi Warga Di Bulan Ramadan
5 April 2022, 12:20 WIB -
Arsitektur Sebagai Perwujudan Nilai-Nilai Islam
24 Desember 2021, 03:59 WIB -
Aktivitas Ibadah Bulan Ramadan yang Selalu Dirindukan
7 April 2022, 14:18 WIB -
Amnesia dan Diskursus Sejarah Terhadap Peradaban Maritim Nusantara (1)
4 Februari 2022, 17:52 WIB