Pemalang di Waktu Malam, Jangan Lupa Nasi Grombyang
Jangan lupa ya? bila jalan-jalan di kota-kota pantura. Mampirlah di kawasan alun-alun kota Pemalang, sambil menikmati kulinernya yang khas yaitu Nasi Grombyang.
Nusantarapedia.net, Pemalang, Jawa Tengah — Bila anda bepergian dari Jakarta ke arah Semarang atau sebaliknya, akan melewati kota yang di himpit oleh dua daerah industri, yaitu kota Pemalang. Kota dengan banyak julukan, seperti; Pemalang Pusere Jawa, Pemalang Kota Ikhlas maupun Pemalang Kota Grombyang.
Berada di tengahnya kota Tegal dan Pekalongan. Kota yang termasuk dalam deretan pantai utara jawa ini, menjadi lintasan bagi para pengendara mobil atau bis besar trans Jawa. Tentu, saat ini yang tidak melalui jalur tol.
Banyak pengendara mobil dari dan menuju ke Jakarta, sengaja melalui jalan dalam kota Alun- Alun Pemalang. Alun-alun ini digunakan untuk rest area para pengendara. Di samping untuk melepas lelah sejenak sekaligus menikmati kuliner tentunya, khas kota Pemalang.
Sejarahnya, sebelum kawasan pantura menjadi pusat kebudayaan muslim, merupakan poros kerajaan Hindu Buddha yang ada di utara, sebelum kelahiran kerajaan Medang di Mataram. Yaitu poros Kalingga Pekalongan Dieng. Dengan demikian, kawasan pantai utara jawa sudah digunakan sebagai bandar dagang dan pelabuhan kuno di jawa, setidaknya sudah dimulai pada abad ke-5.
Ada kuliner andalan yang menjadi maskot kota Pemalang, yaitu Nasi Grombyang. Merupakan masakan yang terbuat dari cincangan daging kerbau. Bagi masyarakat di pantura, kuliner ini tidak asing lagi, namun jarang dijumpai di Jawa bagian selatan atau di kebudayaan Mataraman.
Bagi para penggemar kuliner yang telah explore kuliner di daerah pantura, Nasi Grombyang menjadi menu wajib yang patut dicoba. Termasuk mantan orang nomer satu di negeri ini, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih sering di panggil SBY sangat menyukai masakan ini.
Tak jauh dari alun-alun, terdapat Kantor Bupati Pemalang beserta sederetan bangunan kantor pemerintah yang cukup menarik dan indah di malam hari. Menjadi satu kesatuan antara alun-alun dan kantor atau rumah dinas pejabat di jantung kota, sebagai ciri khas planologi kota warisan kerajaan dan kolonial.
Menurut Bintang (20), seorang pemuda warga kota Pemalang, dirinya suka banget jika waktu malam menghabiskan waktu di sini. Suasananya nyaman dan aman juga kondusif, tak ada gangguan kamtibmas yang berarti.
Dirinya bersama teman-temannya menghabiskan waktu di seputaran alun-alun, sambil menyalurkan hobbinya berselfi ria belajar fotograpy. Mengambil obyek spot kantor Bupati dan bangunan di sekitarnya yang berarsitektur kolonial di sekitar alun-alun. Keindahannya muncul di temaram lampu-lampu hias yang membuat suasana menjadi gembira dan betah.
Jangan lupa ya? bila jalan-jalan di kota-kota pantura. Mampirlah di kawasan alun-alun kota Pemalang, sambil menikmati kulinernya yang khas yaitu Nasi Grombyang.
Nasi Grombyang adalah kuliner yang disajikan dengan komposisi berupa nasi dan sayur kuah. Sayur kuah tersebut berupa irisan daging kerbau. Kenapa dinamakan “grombyang,” dari cara penyajiannya, antara isi dan kuah lebih banyak kuahnya sehingga kelihatan “grombyang-grombyang” atau terlihat bergoyang-goyang.
Nasi Grombyang di lengkapi dengan lauk sate tusuk yang juga dari bahan daging kerbau. Kuah dengan irisan daging tersebut ditempatkan dalam wadah kuali besar dari tanah liat, sedangkan nasi di tutup dengan kain warna merah. Penerangan lampunya menggunakan lampu teplok. Disitulah ciri khas Nasi Grombyang. Asyiknya lagi, menikmati Nasi Grombyang dengan duduk di kursi pendek dan kecil, atau “dingklik.”
Perlu diketahui, kenapa masyarakat di pantura lebih condong menggunakan daging kerbau ketimbang daging sapi. Ya, karena hewan Sapi di anggap suci dan penting dalam kebudayaan Hindu, maka tidak diperbolehkan di sembelih. Sebagai gantinya, daging kerbau di gunakan lazim dalam aneka kuliner di pantura.
Sejarahnya, sebelum kawasan pantura menjadi pusat kebudayaan muslim, merupakan poros kerajaan Hindu Buddha yang ada di utara, sebelum kelahiran kerajaan Medang di Mataram. Yaitu poros Kalingga Pekalongan Dieng. Dengan demikian, kawasan pantai utara jawa sudah digunakan sebagai bandar dagang dan pelabuhan kuno di jawa, setidaknya sudah dimulai pada abad ke-5.
Yuk, beli Nasi Grombyang? (Ragil74)
Sendang Senjoyo, dari Fakta Kerajaan, Folklor hingga Sumber Kehidupan
Putak Laka, Kudapan Nikmat Khas NTT
Rekomendasi
-
Gatra Kencana, Wisata Edukasi di Pemalang
17 Maret 2022, 11:05 WIB -
Candi Kalasan, Wujud Toleransi Masa Mataram Kuno
26 Februari 2022, 10:26 WIB -
Pembangunanisme, Rumah Berlindung Pemekaran Daerah (1)
21 Februari 2022, 18:55 WIB -
Strategi Kebudayaan Nasional Kekinian, Lebarkan Dimensi Pemikiran
23 November 2021, 11:59 WIB -
Menuju Indonesia Maju dengan Merubah Kultur
23 Maret 2022, 19:56 WIB


