Pemuda Inspiratif dari Lereng Merapi, “Ora Ternak-Ora Penak”

Rohmad dan pemuda lainnya, tanpa disadarinya, sudah menjadi bagian penggerak desa, menggerakkan ekonomi, dan turut bertanggung jawab megurangi pengangguran serta mencegah praktik urbanisasi

12 Februari 2022, 18:28 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Citra Persona — Pemuda Inspiratif dari Lereng Merapi, “Ora Ternak-Ora Penak

TIGA puluh tujuh tahun yang lalu, lahir seorang laki-laki di sebuah desa di lereng gunung Merapi. Oleh orang tuanya diberikan nama Rohmad Setiawan (37).

Lahir di dusun Kemirikebo Girikerto, kapanewon Turi, kabupaten Sleman Yogyakarta, pada tanggal 21 Juli 1984. Rohmad, panggilannya, sejak kecil seperti pada umumnya keluarga di dusun tersebut sudah akrab dengan budaya khas lereng Merapi.

Kebiasaan bertani keluarganya juga warga dusun tersebut telah mengkultur ke dalam aspek sosiologis masyarakat pedesaan. Pergi ke ladang menggarap tanah, beternak dan aneka kegiatan lainnya yang tidak jauh dari kebiasaan bertani.

Rohmad kecil pun tumbuh menjadi pemuda yang punya cita-cita dengan bersekolah, hingga lulus menuntaskan wajib belajar 12 tahun. Mengenyam pendidikan terakhir tamat dari sekolah menengah kejuruan, tidak melanjutkan studi pada jenjang perguruan tinggi karena banyak hal.

Kini, ia sudah mempunyai dua anak, keduanya laki-laki dari istri yang berasal dari Cirebon, buah perantauannya ketika bekerja dari kota ke kota, pabrik ke pabrik, dengan aneka pekerjaan, akhirnya bertemu dengan pujaan hati.

Saat ini, dalam kehangatan keluarga, kerukunan dan kebersamaan bersama warga Kemirikebo, Rohmad menemukan emas yang melimpah di dusunnya, meski harus digali dengan proses berupa tekad, semangat, kerja keras, ulet, penuh keyakinan positif.

Enterpreneur bagi dirinya hanya sederhana, bukan gaya enterpreneur yang harus necis, berada di kota, atau bekerja di balik ruangan yang bersih.

Rohmad dan pemuda desa lainnya, menjadi wirausahawan yang berarti bebas merdeka menggarap potensi dusunnya menjadi emas, tanpa ada yang mengaturnya. Menjadi boss bagi dirinya sendiri, di dusunnya sendiri, untuk selalu menjaga harmoni nafas kehidupan di lereng Merapi.

Mindset Merantau

Rohmad, hanyalah satu dari jutaan masyarakat Indonesia dengan mindsetnya untuk merantau. Pergi ke kota besar atau ibu kota untuk bekerja, adalah budaya masa lalu yang sampai saat ini masih berlaku meski angkanya perlahan menurun.

Budaya merantau sudah tidak lagi menjadi trend, suatu keharusan maupun suatu hal yang dipercayai dapat mengubah hidup menjadi lebih sejahtera, seperti pada masa orde baru dengan maraknya praktik urbanisasi.

Seiring pemberlakuan otonomi daerah, hingga lahirnya undang-undang desa, mendorong pertumbuhan ekonomi tidak lagi dalam episentrum tertentu. Aneka investasi dan kluster baru ekonomi diciptakan, dari yang bersifat korporasi, UMKM maupun perorangan.

Meski belum menemukan bentuk yang ideal, namun sudah mendorong kelahiran para enterpreneur baru di berbagai daerah, kota dan desa di berbagai tingkatan. Tentu, plus minus, konstruksi tersebut pada bagian tertentu menjadikan persoalan baru akan gairah dan hasrat ekonomi, yang akhirnya berdampak pada pembangunan berwawasan ekologi, sampe fakta ketidakadilan dan kesejahteraan.

Sebelumnya, ia sudah malang melintang merantau ke Bogor, Bandung, Jakarta, Cirebon dan kota lainnya. Tahun 2012, akhirnya memutuskan untuk pulang, meniatkan diri untuk membangun rumah tangga dan menetap di dusunnya. Rohmad, “bali ndeso-mbangun ndeso “

Kesadaran Potensi

Dari perjalanannya yang panjang, sepuluh tahun merantau sejak lulus SMA 2002-2003, akhirnya Rohmad dalam heningnya di dusun menemukan kesadaran.

Sadar bahwa dusunnya bagai “bumi emas tanah air.” Aneka dedaunan dari ladang sebagai bahan baku pakan ternak, kotoran ternak bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik, juga kebutuhan hidup yang tidak bisa terlepas dari konsumsi daging dan susu, sedangkan di dusunnya semua tersaji.

Kesadaran tersebut, akhirnya menjadikannya memahami potensi ekonomi dusunnya. Seiring berjalannya waktu, ia berproses hingga menjadi enterpreneur dari dusun Kemirikebo.

Pada akhirnya, Rohmad Setiawan didaulat oleh teman-temannya menjadi: Ketua “Kelompok Petani Peternak” paguyuban “Pangestu.”

Bersama pengurus lainnya, Rocmad menjalankan organisasi semaju mungkin, dengan tetap mengedepankan asas musyawarah dan kebersamaan. Struktur organisasinya di bentuk dengan job disk masing-masing, terutama menyangkut hal teknis dengan pembagian pada divisi-divisi atau kelompok kerja (pokja).

Rohmad yang lancar publik speaking-nya, tawanya yang renyah, ramah pada setiap orang dan penampilannya yang sederhana.

Meski dengan tampilan khas petani Indonesia, namun kesederhanaan di dalamnya tidak membuat rendah diri. Obrolan dalam aneka komunikasi serta hubungannya dengan para pejabat kabupaten, politisi, dinas pertanian, pemerintah desa, mitra usaha, wisatawan, instansi-kelompok studi banding dan lainnya sangat cair.

Ia tidak minder ataupun clingus, sisi kepemimpinan dan kebijaksanaannya terlihat dari caranya berkomunikasi ihwal pengelolaan paguyuban ternak kambing.

Rohmad, menginisiasi, membangun dan membentuk mental pemuda di Kemirikebo menjadi kelompok pemuda yang percaya diri dengan profesinya sebagai petani peternak kambing. Rohmad Setiawan trendsetter bagi pemuda di Kemirikebo.

Rohmad dan kawan-kawan merupakan generasi ke-2 dan ke-3 yang mewakili kelompok pemuda di KPP Pangestu. Merupakan regenerasi dari kelompok ternak pendahulunya yang saat ini usianya tak lagi muda. Bapak-bapak pendahulu di KPP Pangestu telah digantikan oleh generasi selanjutnya, Rohmad dan pemuda Kemirikebo lainnya.

Kerja keras para generasi tua yang telah bersusah payah dalam membangun kelompok ternaknya tak sia-sia. Kini sudah ada generasinya yang tak kalah gigih dan semangat. Embrio dari pendahulunya yang kuat dari nafas kultural gotong royong, ditangkap olehnya dan para pemuda lainnya dalam konteks gairah bisnis di era modern.

Pendekatan manajerial berbasis informasi dan teknologi, pengelolaan ternak dengan teknik yang berkembang mutakhir, hingga manajemen bisnis dan keuangan yang kesemuanya telah bergeser dari sistem lama ke sistem baru. Rohmad dan kawan-kawannya sadar akan perkembangan itu saat ini.

Transformasi dari generasi tua ke generasi muda berjalan dengan mulus. Tidak ada gesekan di dalamnya, tidak merasa kuno dan modern, juga tidak merasa tertinggal atau mendahului.

Penghasilan

Disinggung rata-rata penghasilannya, Rohmad mempunyai 10-25 ekor kambing. Penghasilannya di dapat dari pemerasan susunya. Rerata tiap ekornya menghasilkan satu liter susu per-harinya dengan harga Rp.16.000-20.000,- per-liternya. Tinggal mengalikan saja berapa omsetnya per-bulan. Keuntungan bersih didapatkan setelah dikurangi biaya operasional sebesar 60 persen.

Terkait

Terkini