Sejarah Perkembangan Sastra Indonesia Berdasar Periodisasinya

Periodisasi sastra adalah metode atau jalan yang digunakan untuk memudahkan mengenal dan mempelajari sejarah dan perkembangan sastra di Indonesia.

13 November 2021, 03:05 WIB

Nusantarapedia.net — Sejarah perkembangan sastra Indonesia berdasarkan periodisasinya.

Dunia sastra adalah dunia yang sangat dinamis. Perkembangan sastra dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena karakter generasi ke generasi yang juga berbeda-beda. Generasi sastrawan memiliki gaya bersastra yang beragam dari masa ke masa, sehingga menghasilkan karya yang beragam pula. Dengan adanya perubahan-perubahan itu muncullah istilah .

“Periodisasi lama berkembang sebelum abad ke-20. Karya sastra pada masa ini berbentuk syair, gurindam, mantra, pantun dan hikayat.”

adalah metode atau jalan yang digunakan untuk memudahkan mengenal dan mempelajari sejarah dan perkembangan sastra di Indonesia. periodesasi sastra dibagi menjadi dua. Periodisasi lama dan Periodisasi baru.

Periodisasi lama berkembang sebelum abad ke-20. Karya sastra pada masa ini berbentuk syair, gurindam, mantra, pantun dan hikayat. Karya sastra pada masa ini memiliki ciri-ciri; Tidak diketahui nama pencipta, Lebih bersifat pralogis (identik dengan hal-hal gaib), Masih identik dengan kata-kata baku lama (alkisah, sahibul hikayat, konon dll), Lebih mengisahkan kehidupan istana dan tokoh-tokoh mulia (Raja-raja, Dewa dan para pahlawan), Berupa sastra lisan dan pertunjukan  karena pada saat itu belum tersedia media cetak dan elektronik.

Di bawah ini beberapa pengertian karya sastra lama pada masa periodisasi lama;

1. Syair

Adalah karya sastra lama. Termasuk jenis puisi yang mendapat pengaruh budaya Arab hingga dalam perkembangannya mengalami modifikasi seingga menjadi khas Melayu. Syair terdiri dari empat baris dengan akhiran bunyi yang sama

2. Pantun

Karya sastra lama yang terikat sajak. Terdiri dari empat baris. 2 baris pertama disebut sampiran, dua baris terakhir disebut isi. Selain memiliki sajak dan sampiran, pantun mempunyai isi dan makna yang sangat berarti. Jenis pantun kebanyakan pantun nasihat dan pantun jenaka. Awalnya pantun hanya diucapkan di sela-sela pertunjukan. Seiring perkembangan sastra pantun kini disajikan dalam bentuk tertulis.

3. Mantra

Adalah rapal atau ucapan berisi puji-pujian atau kata-kata tertentu baik verbal atau simbolis yang diucapkan oleh seseorang yang dekat dengan dunia gaib atau biasa disebut dukun. Mantra tidak terikat pada perimaan tertentu karena mantra lazim diucapkan dengan tujuan praktis.

4. Gurindam

Adalah karya sastra yang mirip dengan pantun. Berisi perumpamaan-perumpamaan. Hanya saja bedanya, pantun terdiri dari empat baris. Gurindam terdiri dari dua baris saja namun penuh arti. Gurindam berkembang sebagai budaya khas Melayu.

5. Hikayat

Karya sastra berbentuk prosa bercirikan karya Melayu yang berisi dongeng atau cerita. Hikayat biasanya menceritakan seorang tokoh atau pahlawan yang mempunyai kekhasan/keanehan dan kesaktian tertentu.

Periodisasi Baru

Angkatan ini terjadi pada tahun 1920 sampai awal 1930, biasa disebut angkatan 20. Ditandai munculnya seorang tokoh sastra bernama Marah Roesli dengan anovel berjudul “Sitti Nurbaya”. Karya-karya pada masa ini didominasi oleh pengaruh budaya Sumatra dan Minangkabau, sehingga karya sastra berbau Melayu sudah muncul pada masa ini. Tokoh lain yaitu Mirari Siregar dengan karyanya “Azab dan Sengsara”

Angkatan ini terjadi pada tahun 1930-1940. Pada periode ini semangat bersastra lebih memerdekakan ditadai munculnya Majalah “Poejangga Baroe” pada awal tahun 1930. Munculnya Majalah ini memberi warna dan semangat tersendiri bagi dunia literasi pada masa itu. Terlebih karya ini tidak lagi terikat pada tradisi dan pada masa ini pula, jiwa-jiwa nasionalisme sedang pada puncaknya.

Tokoh sastra pada angkatan 30 ini adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih akrab dengan Hamka. Karyanya yang dipandang banyak mata yaitu novel dengan judul “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” pada tahun 1938. Majalah “Poejangga Baroe” sendiri melibatkan sejumlah sastrawan dalam kepengurusannya seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Sanusi Pane dan Armin Pane.

Mendiami periode tahun 1945, di mana masa ini adalah masa-masa emas perkembangan sastra. Semangat kemerdekaan membuncah dan mengharu biru pada masa ini. adalah tokoh terkemuka dengan semangat kemerdekaan meahirkan sebuah karya bertajuk “Aku”.

Angkatan 45 lebih mewakili sikap hidup dan berkarya para pengarangnya yang lebih tegas. Sikap tersebut terpublikasikan dengan nama Surat Kepercayaan Gelanggang di majalah siasat tahun 1950. Selain itu, ciri-ciri karya sastra lebih bebas lagi, individualistis, universal dan realitik. Tersebut beberapa nama seperti Achadiat Kartamiharja, Amir Hamzah, Chairil Anwar, El Hakim, Idrus, Rosihan Anwar dan Usmar Ismail. (blogkulo.com)

  • Angkatan ‘60

Angkatan ini kental dengan protes sosial politik. Ini akibat dari terror kelompok komunis yang mengancam ideologi pancasila. Era sastra tahun 60 dikenal dengan eksistensi “Horison”. “Horison” merupakan sebuah majalah sastra dan melalangbuana di kalangan publik sekitar tahun 1966. Majalah ini dilambungkan namanya oleh Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, Arief Budiman, serta Taufiq Ismail. Karakteristik pada sastra era saat itu mengangkat tema-tema politik. Selain itu HB. Jassin juga tokoh sastra pada era ini.

  • Angkatan ’70

Pada angkatan ini muncul istilah karya kontemporer dimana karya tidak lagi menekankan pada makna kata-kata, melainkan lebih pada permainan bunyi dan bentuk grafis.

Pada era ini muncul aliran-aliran karya sastra; Surealis, Arus Kesadaran, Arketip, Absurd dll. Tokoh sastra pada masa ini antara lain Leon Agusta, F. Rahardi, Ibrahim Sattah Umar Kayam, Ikranegara, Arifin C. Noer, Taufik Ismail, Akhudiat. Darmanto Jatman, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Arief Budiman, Goenawan Muhamad, Budi Darma. Hamsad Rangkuti, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Motinggo Busye, Sapardi Djoko Damono, H.B. Jassin, Korrie Layun Rampan dll.

  • Angkatan ’80

Pada kisaran tahun 80-an, karya Sastra Indonesia masih mengalir dalam lingkup persoalan tradisional dan modern. Sebagai misal adalah novel tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-burung Manyar (1981) dan Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1983) karya Y.B. Mangunwijaya. Bako (1983) karya Darman Moenir serta trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari.

Sebagai penanda paling kentara dari Sastra Angkatan 80-an adalah maraknya roman percintaan. Mira W. Marga T menjadi sastrawan wanita yang cukup vokal dengan fiksi romantisnya.

Juga pada masa ini karya sastra semakin tersebar luas di berbagai majalah dan penerbit umum. Masa ini juga menjadi awal bagi tumbuhnya karya sastra beraliran pop remaja, pelopornya adalah Hilman dengan serial Lupus. (Blogkulo.com)

  • Angkatan Reformasi

Pada era reformasi perkembangan sastra telah begitu pesat. Jatuhnya orde baru memberi warna dan inspirasi bagi para sastrawan. Pembenahan-pembenahan, penetapan-penetapan standar dan  kaidah-kaidah kepenulisan sudah dilakukan. Era ini muncul tokoh perempuan Ayu Utami, pendobrak sastra pada masanya. Karyanya berupa novel bertajuk ”Saman” kental dengan nuansa setting sosial politik pada waktu itu.

Menariknya, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Acep Zamzam Noer, ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial politik mereka.

  • Angkatan 2000

Era ini menggambarkan lebih terbukanya para penulis sastra dalam mengeja wantahkan karya-karyanya. Masa-masa ini, pluralitas tema tampak. Tema percintaan, fiksi ilmiah, islami lebih banyak dieksplor. Selain Ayu Utami yang karyanya masih booming, tokoh sastra Dian Lestari atau akrab dipanggil Dee juga memberi warna dalam dunia sastra masa ini. Karya Dee bertajuk Supernova memberi inspirasi bagi penikmat tentang fiksi ilmiah. Karya-karya Habiburrahman El Shirazi juga memberi warna baru dengan mengangkat tema Islami yang santun dan terkesan jauh dari vulgaritas. Penulis perempuan seperti Asma Nadia, Helvi Tiana Rosa, dll juga turut mewarnai dunia sastra masa ini.

Mendiami periode tahun 2010 hingga masa sekarang ini. Perkembangan teknologi semakin pesat. Manusia modern semakin memiliki ruang untuk beraktualisasi di dunia maya. Media sosial memuncaki tren di masa ini. Berkarya hingga karyanya berpotensi dibaca khalayak bukan hal yang sulit karena media sosial memberi ruang dan fasilitas untuk itu. Tak heran bertebaran karya-karya fiksi non fiksi di media sosial. Bermunculan komunitas-komunitas kepenulisan virtual yang mengkaderisasi penulis-penulis muda. Meskipun pada akhirnya tampak sebagai euforia, namun karya-karya yang dihasilkan cukup memeberi warna bagi sejarah perkembangan sastra di Indonesia.

Era cyber, karya tidak melulu dalam bentuk fisik buku. Kebanyakan para penulis maya memilih mempublikasikan karya melalui internet, baik yang dikelola penerbit mayor, indi ataupun situs pribadi.

Perempuan, Sastra dan Uforianya
Macapat dalam Medium Garap Penyajian Karawitan
Road Map Sastra Jawa

Terkait

Rekomendasi

Terkini