Data Remaja Lanjut Perguruan Tinggi Sebanyak 27 Persen, Tinggi atau Rendah?
Nusantarapedia.net, Jakarta — Sebanyak 29 juta remaja berumur 18-20 tahun yang melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi (PT) sebanyak 8 juta, atau 27,58 persen. Dengan demikian, terdapat sekitar 21 juta usia masuk kuliah yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi.
Hal itu diungkapkan oleh anggota Komisi X DPR RI Djohar Arifin Husin saat Rapat Dengar Pendapat Umum Panja Perguruan Tinggi Komisi X DPR RI dengan Kelompok/Komunitas Mahasiswa Berprestasi di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (1/2/2023).
Dirinya menyampaikan keprihatinannya terhadap besarnya angka tersebut, sehingga menjadi perhatian serius bagi Komisi X DPR RI dan pemerintah untuk menyediakan pilihan dan jaminan pendidikan yang baik bagi anak bangsa.
“Nah, kita tahu bahwa umur di dalam sensus, umur 18-20 tahun itu pemuda remaja kita itu ada 29 juta. Tetapi yang masuk ke kampus hanya sekitar 8 juta. Jadi ada 21 juta yang sebaya kalian ini yang nasibnya ya kita tidak tahu. Itu menjadi keprihatinan kita untuk memikirkan mereka-mereka bagaimana masa depan mereka bisa lebih baik dari kita,” kata Djohar dilansir dari parlementaria dpr.
Lanjutnya menilai, salah satu kunci keberhasilan dunia pendidikan di dunia adalah dimasukkannya pendidikan karakter di sekolah. Djohar mengambil contoh perbandingan pola dan suasana pendidikan di luar negeri dengan di dalam negeri, yang menurutnya jauh berbeda.
”Anda bisa lihat di Barcelona, bagaimana kehidupan mereka dan juga di Malaysia. Di Malaysia kita lihat bagaimana kelakuan mereka sehari-hari dengan kondisi kita di Indonesia ini sungguh sangat berbeda. Kok mereka bisa begitu? Kok kita nggak bisa begitu? Kenapa? Karena pendidikan karakter ini mereka utamakan. Pendidikan karakter ini mereka utamakan dari mulai sekolah rendah. SR itu mereka Sekolah Rendah, di kita Sekolah Dasar, itu sudah dimulai bagaimana disiplin-disiplinnya,” terangnya.
Berdasarkan penelitian yang dinukil oleh Djohar, anak kelas 4 SD di Indonesia mata pelajarannya sama dengan kelas 6 SD di Jepang. Itu dinilai terlalu berat, maka pendidikan karakterlah yang harus menjadi utama ketika sekolah dasar.
”Di Jepang kelas 6, tapi mereka mendahulukan pendidikan karakter. Jadi coba sampaikan kepada Saudara Menteri, coba nanti pergi ke Jepang, ketemu anak-anak TK berkumpul, coba buang tisu pura-pura tak sengaja. Pasti ada anak TK itu yang mengambilnya, membuang ke tempat sampah. Mereka sudah dipelajari. Kita dari mobil mewah, keluar kulit kacang, bungkus rokok, karena tidak pernah dipelajari,” tutupnya. (**/dnA)
Sumber: dpr
Arah Pendidikan Nasional
Merdeka Belajar, Antara Idealisme dan Angan-angan
DPR dan Pemerintah Sepakat Implementasi Kurikulum Merdeka Opsional
Manajemen Pengetahuan, Tacit dan Explicit Knowledge, Apakah Itu?
Anies Dibaca Dapat Tiket, Lantas Pilih AHY atau Khofifah? Bagaimana Jika Ganjar bahkan Puan?