Desa Tertua Berumur 1196 Tahun bernama Bawan (1)
Kluster kedua adalah, wilayah arkeologi Klaten yang lumayan jauh dari kluster pertama tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya enam prasasti. Yaitu, Prasasti Mao, Prasasti Gayamprit, Ngrundul, Kaduluran, Ngruweng dan Upit

Nusantarapedia.net, Jurnal | Sejarah — Desa Tertua Berumur 1196 Tahun bernama Bawan
“Dari perkawinan tersebut berdampak pada kemajuan Medang dalam hal pembangunan infrastruktur, maka sebutan “pembangunan seribu candi” berlangsung saat era kekuasaan Rakai Pikatan.”
WILAYAH administrasi Kabupaten Klaten di Jawa Tengah saat ini, dahulu adalah bagian dari pusat ibu kota kerajaan Mataram kuna. Mataram kuna yang dimaksud adalah sebuah kerajaan bernama Kedatuan Medang:kaḍatwan mḍaŋ yang mana pusat-pusat kekuasaannya berada di poros Kedu-Prambanan, yaitu daerah-daerah yang terdapat situs purbakala mulai dari Candi Dieng, Magelang hingga Yogyakarta.
Kerajaan Mataram kuno atau Kedatuan Medang sebelum pindah ke Jawa Timur beribukota di Mataram dan Marmantipura di antaranya, maka disebut dengan Medang i Mataram, Medang i Marmantipura.
Ibu kota Kedatuan Medang periode Jawa Tengah dilanjut periode Jawa Timur;
• Medang i Mataram (masa Sanjaya)
• Medang i Mamratipura (masa Rakai Pikatan)
• Medang i Poh Pitu (masa Dyah Balitung)
• Medang i Tamwlang (masa Mpu Sindok)
• Medang i Watugaluh (masa Mpu Sindok)
• Medang i Wwatan (masa Dharmawangsa)
Sanjaya adalah raja pendiri Medang di Mataram yang berkuasa pada tahun 732 - 746 dari keluarga Syailendra, yang selanjutnya menahbiskan diri sebagai wangsa Sanjaya, meski nasabnya tetap dari wangsa Syailendra (?). Kemudian dilanjutkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746 - 784. Rakai Panangkaran merupakan gerbang keemasan dari kerajaan Medang. Tonggak sejarah besarnya adalah Prasasti Kalasan tahun 778. Merupakan piagam penghargaan peresmian pembangunan sebuah candi Buddha bernama Tarabhavanam (Buana Tara) untuk memuja Dewi Tara. Sekarang dikenal dengan candi Kalasan.
Daftar Raja Medang Dinasti Syailendra menurut prasasti Wanua Tengah III;
1) Ratu Sanjaya 732 - 746
2) Rakai Panangkaran 746 - 784
3) Rakai Panunggalan atau Rakai Panaraban 784 - 803
4) Rakai Warak tahun 803 - 827
5) Dyah Gula 827 - 829
6) Rakai Garung 829 - 847
7) Rakai Pikatan 840 an – 856.
8) Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi tahun 855 - 880
? ) Dyah Tagwas 885 - 885
? ) Rakai Panumwangan 885 - 887
? ) Rakai Gurunwangi 887 - 887
9) Rakai Watuhumalang 894 - 898
10) Dyah Balitung 898 - 910
)* Sanjaya didahului oleh Prabu Sanna atau Bratasenawa adalah raja ketiga di Kerajaan Galuh dengan gelar Prabu Bratasenawa 709 - 716.
Dinasti baru Wangsa Isyana;
1) Daksa (Mpu Daksa) 913 - 919, sebelumnya Rakryan i hino, sebagai perintis Dinasti Isyana
2) Mpu Sindok 929 - 947 (memindahkan Medang dari poros Kedu-Prambanan ke Wwatn (Magetan) Jawa Timur
Dimulai Periode Jawa Timur;
1) Mpu Sindok 929 - 947
2) Isyana Tunggawijaya 947 - ?
3) Makutawangsawardhana ? - 991
4) Dharmawangsa Teguh 991 - 1007
5) Airlangga tahun 1019 - 1042 (Kahuripan)
6) Dilanjutkan kerajaan Panjalu, Kadiri, Singasari, hingga Majapahit 1478, dilanjutkan Demak Bintoro, Pajang, Mataram (Kota Gede-Kerta-Pleret-Kartasura) dan Mataram Anyar (Solo/Yogya).
Setelah mengetahui peta tersebut di atas, kita bisa membayangkan letak navigasinya, untuk membuka tabir sejarah peradabannya.
Masa keemasan kerajaan Medang saat dipimpin oleh Rakai Pikatan, yang mana beristrikan Pramodawardhani dari wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana, sementara Rakai Pikatan Mpu Manuku memeluk agama Hindu Siwa. Dari perkawinan tersebut berdampak pada kemajuan Medang dalam hal pembangunan infrastruktur, maka sebutan “pembangunan seribu candi” berlangsung saat era kekuasaan Rakai Pikatan. Banyak candi bercorak Hindu dan Buddha dibangun berdekatan.
Pasti, pandangan umum akan bertanya, dimana navigasi candi megah “Prambanan” berada. Prambanan diinisiasi oleh Rakai Pikatan tahun 840 hingga selesai saat kekuasaan Mpu Daksa 919. Sempurna dalam waktu 80 tahun.
Hal “candi Prambanan” tersebut hanya satu variable saja yang sering mengundang pertanyaan akan sejarah masa lampau. Tentu pertanyaan lainnya adalah, dimana letak keraton/istana para raja, bagaimana sistem pertaniannya, bagaimana bentuk dari desa-desa, juga bagaimana sistem hukum, pemerintahan dan sosial dijalankan. Itulah yang sampai saat ini menjadi misteri, masih terus diteliti untuk dipecahkan agar mendapatkan gambaran yang mendekati kenyataan sejarah.
Literasi sejarah berupa sumber-sumber primer sebagai petunjuk yang afdol untuk diverifikasi dan divalidasi mutlak digunakan, namun kendalanya bukti-bukti tersebut minim, seperti prasasti. Akhirnya, bukti sekunder digunakan untuk penguat, dan tahap terakhirnya adalah dugaan-dugaan hasil dari penelitian dan pendapat ahli yang disepakati.
Rata-rata jejak peradaban kerajaan Medang ditulis melalui prasasti oleh era/kekuasaan setelahnya. Dalam kasus kerajaan Medang, kebanyakan prasasti dikeluarkan oleh raja Dyah Balitung. Prasasti Mantyasih contohnya, prasasti yang sangat penting artinya, berisi tentang daftar silsilah raja-raja Medang sebelum raja Balitung. Dibuat oleh Dyah Balitung tahun 907.
Selain itu juga terdapat prasasti lainnya sebagai sumber primer, seperti prasasti Wanua Tengah I (908), Wanua Tengah II (863), Wanua Tengah III (908), Prasasti Canggal (732), Prasasti Plumpungan (750), Prasasti Sri Ranapati (787), Prasasti Kelurak (782), Prasasti Poh Pitu (905), Prasasti Poh Dulur (890), Prasasti Siwagrha/Prambanan (856), Prasasti Tri Tepusan (824), dan masih banyak lagi.