Jejak Inspirasi di SDN Labuhan I
Nusantarapedia.net | SASTRA — Jejak Inspirasi di SDN Labuhan I
Oleh : Hasan Hasir
DI tepian bumi pertiwi, ketika mentari pagi menyapa lautan biru dengan lembut, seorang lelaki berbaju putih, bercelana biru tua, meluncur di atas kuda besinya yang setia, bertolak menuju SDN Labuhan I Sreseh, sebuah sekolah dasar di pesisir selatan Kabupaten Sampang.
Aroma laut yang asin bercampur dengan angin memapas laju motor yang mengantarkannya ke medan pengabdian menebar benih-benih pengetahuan kepada generasi penerus bangsa.
Seiring embun pagi yang mulai mengangkasa meninggalkan daun bakau yang tumbuh menjulang di tepi pantai. Kini pagi mulai beranjak siang, menyisakan hawa segar, seolah memberikan semangat baru baginya.
Kuda besi tua itu meraung pelan, seakan ikut bersemangat dalam misi suci sang pengendara. Meluncur tenang di jalan aspal yang membentang lurus bagaikan pita hitam, dihiasi deretan bakau gagah seperti prajurit penjaga pantai.
Sinar matahari kian benderang. Cahaya keemasan itu menembus kaca bening jendela gedung perpusatakaan SDN Labuhan I, menyinari rak-rak buku, meja dan kursi kosong di ruangan perpustakaan. Sang pengendara menuju ruang perpustakaan. Tempat diskusi tatap muka dilaksankan kali ini.
Di ruang perpustakaan, sekelompok anak-anak, kelas 4, 5, dan 6, menanti dengan penuh semangat. Mereka, para jiwa-jiwa muda, siap ditempa untuk menjadi pencerita masa depan yang penuh inspirasi.
Sang pengendara, dengan lembut membimbing mereka dalam memahami “unsur-unsur berita.” Kata-katanya mengalir seperti air sungai yang menenangkan, membasahi hati dan pikiran para siswa. Menggugah imajinasi mereka yang masih muda.
Mata anak-anak berbinar-binar, mencerna setiap kata yang disampaikan sang pengendara. Tawa dan canda mencipta alunan melodi bahagia di ruang perpustakaan dalam proses belajar.
Di penghujung kelas, PR untuk meliput kegiatan keseharian teman, menjadi tugas tambahan yang menantang bagi para siswa. Sebuah tugas yang akan mengantarkan mereka untuk lebih mengenal lingkungan sekitar, dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.
Saat waktu beranjak siang, sang pengendara berpamitan. Sebelum meninggalkan gedung perpusatakaan, ia memandang deretan buku di rak-rak tinggi. Ia teringat masa lalunya yang gemar menjelajahi dunia buku dan meracik kata-kata menjadi sebuah cerita.
Dengan semangat yang sama, ia ingin meninggalkan jejak-jejak inspirasi di hati para siswa, berharap mereka akan terus menulis cerita-cerita indah tentang kehidupan.
Di luar, kuda besi tua terparkir di bawah terik matahari. Motor itu terlihat penuh dengan debu jalanan, tetapi tetap gagah berdiri, menunggu tuannya. Dari teras depan perpustakaan, sang pengendara tersenyum melihat kuda besi tuanya itu. Ia teringat perjalanan pagi yang dilakukannya.
Ia melangkah menuju kuda besi tuanya, menyalakan mesin dengan suara yang agak serak. Motor itu seakan mengerti perasaan sang tuan, siap mengantarkannya pulang.
Motor trail tua itu meluncur meninggalkan sekolah yang ltenang dan sepi. Ia mengaspal menuju rumah, membawa segudang pengalaman baru dan ide yang ingin diwujudkan dalam kata-kata.
Terbayang di benaknya, cerita yang menarik yang bisa dibuat dari perjalanan hari ini. Ia yakin, petualangan pencarian kata-kata baru akan terus berlanjut. Sang pengendara terus mencari inspirasi dan bercerita, dengan kuda besi tuanya yang setia menemaninya di sepanjang jalan.
Matahari siang sudah berada di puncak tertingginya. Sang pengendara tetap tenang menikmati alam sekitar yang dilewati. Menghayati perjalanan yang penuh makna, menebarkan benih-benih pengetahuan dan harapan di hati generasi penerus bangsa. (H)
Cahaya Rya, Bintang yang Tak Pernah Padam
Wartawan Pokja Polres Bangkalan, Meniti Jejak Menuju Sarasehan Sinergitas dengan Polri
Delapan Cerpen Anak Ajarkan Karakter Santun