Kota Solo: Mataram Babak Baru - Terkurung Gunung Seribu hingga Kado Banjir Ultah ke-278 (2)
Alasan klasik karena egois dengan kepentingan masing-masing daerah kabupaten atau kota, itu tidak dibenarkan. Tanggung jawab pencegahan banjir yang terjadi di Solo misalnya, adalah tanggung jawab pula kabupaten-kabupaten di luar Kota Solo. Seperti praktik di hulu dengan tidak menjadikan sungai berpotensi dengan sedimen tinggi, menjaga kerapatan vegetasi, dan pengetatan penggunaan tata ruang

Nusantarapedia.net, Jurnal | Lingkungan Hidup — Kota Solo: Mataram Babak Baru - Terkurung Gunung Seribu hingga Kado Banjir Ultah ke-278 (2)
Pembangunan Utilitas Kota Solo
Solo dari masa ke masa tidak pernah terputus jejak sejarahnya. Meskipun berada pada cekungan yang berpotensi banjir, namun letak kota Solo sangat strategis.
Kota Solo menghubungkan kota-kota di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Dari pusat kota Solo menuju arah selatan dan barat daya akan bertemu kota Yogyakarta. Menuju daerah barat akan sampai di wilayah kota Salatiga dan Magelang dalam kawasan Kedu dan sekitarnya. Menuju barat laut akan sampai di kota Semarang, sedangkan letak kota-kota di daerah eks- kawedanan Pati berada di utara kota Solo. Sedangkan kota-kota di daerah Jawa Timur seperti wilayah Surabaya dan Kediri-Tulungagung berada di timur kota Solo. Solo merupakan jalur trans Jawa yang berada di tengah menjorok ke selatan.
Kota Solo juga disangga oleh sungai-sungai lain yang bermuara di Bengawan Solo. Kali Kabanaran, Kali Pepe, Kali Jenes adalah drainase alami sebelum semuanya bermuara di Bengawan Solo. Tanpa keberadaan sub sungai tersebut, banjir sulit dikendalikan.
Sungai Bengawan Solo yang jelas sudah di gunakan untuk jalur perdagangan sejak era Mataram kuna, mempunyai banyak bandar pelabuhan di anak sungai tersebut, yakni; Bandar Kabanaran di Laweyan, Bandar Pecinan di Kali Pepe, Bandar Arab di Kali Jenes dan Bandar Nusupan di Semanggi.
Namun, kesemua bandar tersebut kini tidak lagi tersisa, akibat pendangkalan pada anak sungai tersebut dan sungai Bengawan Solo sendiri. Kapal-kapal besar dari pelabuhan di pantura tidak bisa lagi melalui sungai Bengawan Solo, begitu juga kapal kecil dan perahu yang meramaikan bandar-bandar tersebut di dermaga anak sungai juga kandas.
Hal tersebut diperkuat lagi dengan pembangunan kawasan kota oleh Belanda yang tidak bertumpu lagi di sepanjang tepian sungai dan sungai Bengawan Solo. Belanda telah banyak membangun berbagai utilitas kota yang menyebar ke berbagai penjuru.
Pembangunan utilitas kota oleh Belanda didasari dari seiring berkembangnya sistem transportasi melalui jalur darat dengan kereta api. Akibatnya, pembangunan infrastruktur terus menjadi fokus pembangunan sebagai fungsi transportasi agar efektif dan efisien. Maka, dibangunnya stasiun kereta api, jalan-jalan dan utamanya pembangunan jembatan-jembatan yang menjadikan model paling efektif dan efisien, baik jembatan untuk jalur kereta api maupun jembatan penyeberangan orang.
Dalam kesimpulannya, terjadi perubahan bentuk morfologi kota. Dengan demikian, sungai Bengawan Solo dan anak sungai di dalamnya sebagai fungsi pelabuhan, dermaga, bandar dagang dan moda transportasi umum akhirnya pelan-pelan mati dengan sendirinya.
Salah satu perencanaan tata ruang kota, planologi dan keseluruhan pekerjaan umum di dalamnya dengan maksud menjadikan kota metropolis yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, konsep tersebut terus digalakkan oleh pemerintahan Hindia Belanda.
Untuk mewujudkannya, pemerintahan Hindia Belanda mengajak kepada pemerintahan lokal (raja/kerajaan) bentukannya untuk bersinergi dalam membangun kawasan kota. Skenario ini berlaku menyeluruh di semua kota-kota negara jajahan Hindia Belanda, pun hingga saat ini pembangunan tata kota terus berlangsung hampir di semua kota di Indonesia.
Dilansir dari jurnal UMS berjudul ANALISIS MORFOLOGI DAN MORFOSTRUKTUR SERTA PENGARUHNYA TERHADAP BANJIR LUAPAN SUNGAI BENGAWAN SOLO HULU TENGAH (2015), bahwa Morfostruktur masa sekarang; ketinggian air Sungai Bengawan Solo mengarah ke utara, namun pada titik tertentu terlihat adanya tempat yang menanjak atau tempat yang lebih tinggi dari sebelumnya yang seharusnya lebih rendah. Hal ini yang mengakibatkan kemiringannya menjadi naik. Terjadi pendangkalan dan erosi di titik tertentu. Titik 11-18 merupakan titik yang menjadi imbas dari pelurusan sungai sehingga alirannya semakin deras.
Pada beberapa titik (antara 11-18) nampak sangat berdekatan jarak antara ketinggian air dan permukaan tanah, artinya ketinggian air mendekati ketinggian permukaan. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan jika terjadi hujan dengan kuantitas yang besar yang nantinya air akan naik dan meluap ke permukaan. Pada titik 11, 13, dan 16 nampak sekali bahwa sungai tersebut sangatlah dangkal bila dibandingkan titik-titik lainnya.
Banjir Kota Solo
Pada tahun 1915 Kota Solo dilanda banjir besar, ditengarai karena rusaknya hutan-hutan dikawasan hinnterland akibat eksplotasi perkebunan swasta pada masa itu.
Pihak Kraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Mangkunegaran bersama dengan pemerintah kolonial Belanda pun masih belum dapat mencegah terjadinya banjir yang cukup besar pada tahun 1915. Banjir tahun 1915 ini menggenangi sebagian besar wilayah Pasar Kliwon yang memang letaknya dekat dengan sungai Bengawan Solo. (Fp: Kota Solo)
Pada bulan Maret 1966 terjadi banjir besar yang merendam hampir 3/4 wilayah Kota Solo. Banjir yang terjadi di Surakarta pada tahun 1966 merupakan suatu pengulangan peristiwa dari banjir yang pernah terjadi di masa lampau. Perubahan pada bidang ekologi yang terjadi di Surakarta merupakan salah satu faktor penyebab adanya banjir. Perubahan ekologi ini juga dapat dipengaruhi oleh perubahan masyarakat pada bidang sosial dan budaya. (etd.repository.ugm.ac.id)
Banjir ini terjadi pada 16-18 Maret 1966. Ridha Taqobalallah dari Ilmu Sejarah UNS Solo dalam penelitian untuk skripsinya yang berjudul Banjir Bengawan Solo Tahun 1966: Dampak dan Respons Masyarakat Kota Solo menyebut jumlah korban jiwa dalam banjir itu mencapai 90 orang. (Solo Pos, 15/3/2022).
Presiden Soeharto mencetuskan pembangunan Waduk Serbaguna Wonogiri guna menanggulangi bencana banjir agar tidak kembali terjadi di wilayah Sungai Bengawan Solo yang mengancam keselamatan Kota Solo.
Banjir Kota Solo 2023
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kota Solo Nico Agus Putranto menyebut banjir yang melanda sejumlah wilayah di kota itu pada Kamis, 16 Februari 2023, hampir sama dengan banjir 2007. (tempo.co:18/2/2023)
Menurutnya, penyebab banjir Solo kali ini karena intensitas hujan yang cukup tinggi, sehingga banyak sungai meluap karena tidak mampu menampung air hujan dan air kiriman.
Dilaporkan, banjir Kota Solo yang bertepatan dengan HUT ke-278 ini, menggenani beberapa Kelurahan yang terletak (dekat) dengan sungai Bengawan Solo, yaitu; Kelurahan Jagalan, Gandekan, Sudiroprajan, Semanggi, Pucangsawit, Mojo, Joyosuran, Sangkrah, dan Joyontakan. Banjir kali ini dengan ketinggian air berkisar antara 30 - 150 cm.
Dilaporkan, sedikitnya 650 kepala keluarga (KK) atau 2.614 jiwa terdampak banjir, dan mengungsi ke tempat pengungsian yang telah disediakan.
Sementara itu dari pantauan kompas.com pada Jumat, (17/2/2023), akibat banjir tersebut berdampak kepada 21.846 jiwa hingga Jumat (17/2/2023).
Data dari Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solo dari total warga yang terdampak, terdapat sebanyak 4.440 jiwa pengungsi.
Secara keseluruhan penanganan banjir Kota Solo 2023 ini teratasi dengan baik.